
"Elo apaan sih, Din? Sakit tau kaki gue," ucap Yoga saat mereka sudah selesai makan di kantin. Mereka berjalan meninggalkan kantin tersebut dan pergi menuju ke kelas masing-masing.
"Ya, makanya, jangan kegenitan sama wanita. Ingat apa yang kamu bilang, jangan deket dulu sama orang lain kan?" tanya Dinda dengan tidak lagi menatap Yoga, gadis itu melangkahkan kakinya mendahului Yoga dengan dagu yang terangkat ke atas.
"Ish, awas aja kamu. Duh, jangan sampai merah ini nanti sampai rumah," gumam Yoga merasakan masih ada linu di sana. Meski sepatu Dinda tidak terlalu keras, tapi tiga kali tendangannya cukup membuat tulang kering laki-laki itu menjadi sakit.
Maya menyusul Yoga dan ingin berjalan di samping pemuda tersebut, juga dengan Ratu yang tidak ketinggalan ingin jalan bersama dengan Yoga.
"Ga, pulang nanti kamu mau nggak antar aku ke ruangan rektor? Aku deg-degan nih. Tumben banget dipanggil kesana," ucap Maya. Yoga mengerutkan keningnya. Bingung juga dengan permintaan Maya.
"Buat apa kamu dipanggil?" tanya Yoga.
"Ah, paling udah buat ulah, tuh. Jadi dipanggil sama rektor," celetuk Ratu mendahului saat Maya akan angkat berbicara. Maya melirik Ratu dengan tatapan tidak suka.
"Enak aja, nggak ya. Rektor bilang karena nilai gue bagus makanya dia mau bahas itu, tapi gue juga nggak tau sih buat apa dipanggil ke kantornya," gumam Maya bingung. Tangannya menggamit lengan Yoga dan memintanya sekali lagi.
__ADS_1
Ratu yang mendengar itu menjadi sebal, Maya dengan mudah berlaku seperti itu kepada Yoga. Akan tetapi, dia juga tidak bisa menahan orang lain atau melarangnya sama sekali.
"Heh, jangan maksa kalau orang lain nggak mau. Please deh, jadi cewek kok maksa amat!" ujar Ratu kesal.
Maya sadar dengan rengekannya. Dia melepaskan tangan Yoga dengan malu. "Ya maaf, habisnya kan aku nggak kenal orang lain selain Yoga dari jurusanku," ujar wanita itu.
Dinda sebal, juga Ratu. Maka dia meninggalkan ketiga orang itu dengan langkah kaki yang kesal.
"Din!" seru Yoga, tapi Dinda tidak menggubris panggilannya dan terus saja pergi dari sana.
"Eh, Dinda kenapa tuh?" gumam Maya melihat kepergian Dinda.
"Nggak tau." Ratu menjawab, tapi dia memilih untuk mengikuti Dinda saja daripada berada terus menerus di sini.
"Ga, aku nyusul Dinda dulu ya. Bye!" pamit Ratu.
__ADS_1
"Eh, iya."
Ratu dengan langkah yang cepat pergi untuk menyusul Dinda, sementara dua orang itu pergi menuju ke gedungnya.
Sebenarnya, tadi Yoga ingin menghidari Maya yang melihat dia saat itu. Dia beralasan akan pergi ke kantin di gedung jurusan Dinda untuk menghidarinya dan juga karena ingin bertemu saja dengan Dinda. Tanpa dia duga jika wanita itu ternyata mengikutinya hingga ke sini. Parahnya, dia juga mengatakan jika diajak pergi ke kantin ini kepada Dinda tadi.
Dinda pasti bakalan marah ini!
"Ga, kamu mau balik lagi ke gedung kita?" tanya Maya.
"Iya, mau balik lagi ke sana. Tapi tolong dong, lain kali jangan kayak gini. Kita nggak sedekat itu buat kamu gandeng tangan aku," ujar Yoga sambil melepaskan tangan Maya dari lengannya.
Maya terkejut dengan perlakuan Yoga.
"Eh, maaf. Aduh, aku refeks. Maaf banget ya." Maya jadi salah tingkah, dia tidak menyangka jika Yoga ternyata merasa tidak nyaman dengan perlakuannya. Dia hanya melakukan itu karena meliat Ratu yang menatap Yoga dengan tatapan yang lain.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Tapi lain kali tolong jangan kayak gini lagi. Soalnya, ada hati yang harus aku jaga," ucap Yoga kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan Maya di sana.