Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
42. Rasa Keduanya


__ADS_3

Dinda terkejut mendengar apa yang Yoga katakan barusan. Dia tidak menyangka jika ternyata Yoga memiliki perasaan suka kepadanya.


"Apa? Elo ...."


"Gue kayaknya suka sama elo, Din. Nggak tau mulai dari kapan, tapi gue nggak suka elo dekat sama yang lain semenjak dulu. Terserah elo mau bilang gue jahat atau gimana karena bilang di depan Galih. Sorry, gue emang egois," ucap Yoga. Terlalu kecewa hatinya karena dia sendiri tidak bisa menahan dirinya sehingga tadi mengatakan itu di depan Galih.


Yoga menaiki motornya dan mengenakan helm. "Elo mau pulang atau mau balik lagi ke dalam?" tanya Yoga, canggung sekali karena Dinda masih menatapnya seperti itu, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan Dinda. Yang terpenting tanyakan saja dulu apa bila Dinda mau pulang.


"Elo nyebelin!" ujar Dinda, kemudian menyambar helm yang disodorkan oleh Yoga dan memakainya dengan kasar di kepalanya.


Yoga tersenyum senang, meski dia tahu jika Dinda marah, tapi ternyata gadis itu ikut juga dengannya.


Motor melaju meninggalkan area kafe itu. Dinda berpegangan erat ke jaket Yoga dan hanya merengut sebal.


Sementara itu, Galih baru saja keluar dari dalam kafe hendak menyusul Dinda untuk mendapatkan kejelasan dari mulut gadis yang dia sukai. Namun, saat dia baru saja keluar, motor yang Yoga kendarai melewatinya bersama dengan Dinda.


"Apa mereka benar-benar sudah menikah?" tanya Galih kepada dirinya sendiri. "Nggak mungkin kan? Aku harus tanya sama Ratu!"


Galih mengambil hp-nya dan menghubungi Ratu.


***


Sampai di rumah, dua orang itu masuk ke dalam. Tidak ada siapa pun di sana dan Yoga berpikir jika sang mama masih berada di rumah sakit mengingat tadi pagi Puspa mengatakan hari ini dia akan pergi untuk mengecek kesehatannya di rumah sakit diantar oleh Mama Irma.

__ADS_1


Suasana canggung ada di antara Dinda dan Yoga, tapi mereka berusaha untuk mengalihkan kecanggungan itu.


"Sorry, untuk yang tadi. Gue akan minta Kak Galih buat nggak bilang soal ini sama orang lain," ucap Yoga meminta maaf.


"Memang harusnya kau nggak perlu bilang itu sama yang lain, termasuk sama Kak Galih juga!" seru Dinda kesal. Dia belum siap jika semua orang tahu akan hal ini, apa lagi Ratu. Sahabatnya itu sangat menyukai Yoga, apa yang akan dia lakukan jika tahu dia dan Yoga sudah menikah? Mengingat hal itu Dinda menjadi bingung sendiri.


"Maaf, kalau gue udah kecewain elo, Din. Tapi ... hati gue sakit kalau lihat elo sama yang lain."


Mereka terdiam, hening ada di antara keduanya.


"Sejak kapan?" tanya Dinda. "Sejak kapan elo suka sama gue?" lanjutnya.


"Gue nggak tau, mungkin aja sejak dulu. Sorry kalau itu bikin elo nggak nyaman. Kalau emang elo nggak suka dan marah sama gue, gue akan bilang sama Galih soal pernikahan kita, dan akan yakinkan dia--"


"Itu ...." Yoga menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal sama sekali. "Karena gue cemburu lihat elo sama Kak Galih," ucapnya akhirnya.


"Cemburu? Elo yakin?" tanya Dinda sekali lagi.


Yoga tidak tahan untuk tidak mengalihkan tatapannya ke arah lain, rasanya malu ditatap seperti itu oleh Dinda.


"Iya, gue pikir begitu. Gue kayaknya cemburu lihat elo sama Galih, jadi gue dansa sama Ratu."


"Bukan cuma Ratu. Tapi, elo juga joget sama Maya!" teriak Dinda kesal sambil menghentakkan kakinya ke lantai dengan kasar. Wajahnya memerah, dengan napas yang kasar dan dada yang naik turun.

__ADS_1


Yoga terkejut karena Dinda yang marah seperti itu, tapi kemudian dia tersenyum senang dan melirik Dinda dengan senyuman miring.


"Elo marah?" tanya Yoga.


"Iya lah gue marah. Itu juga yang bikin gue pergi dari pesta!" Dinda tersadar, kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Kenapa elo marah? Kenapa elo pergi?" tanya Yoga mendekat pada Dinda.


Wanita muda itu memundurkan langkah kakinya sehingga kakinya menubruk tepian ranjang.


"Elo bisa bilang sama gue? Kenapa elo marah? Kenapa elo pergi?" tanya Yoga sekali lagi sambil terus mendekatkan wajahnya ke arah Dinda. Napasnya hangat menerpa ujung hidung mancung wanita itu.


"Itu ... karena ...."


"Karena?"


Dinda mengeratkan pejaman matanya, dadanya dag-dig-dug saat Yoga masih saja terus mendekat dan mendekat sehingga jarak di antara mereka semakin menipis.


"Itu ... gue nggak tau," jawab Dinda kemudian menundukkan kepalanya dan menatap lantai.


"Nggak tau?"


"Iya, gue nggak tau. Gue kesel aja lihat elo sama yang lain."

__ADS_1


Tidak ada yang ingin Dinda tutupi lagi, rasanya tak nyaman saat hatinya mengatakan kebohongan, tapi kali ini hatinya sudah lega dan terserah saja jika Yoga tidak akan menyukainya lagi karena hal ini.


__ADS_2