
"Kamu mau di sana terus atau pulang? Atau kita beli jajan? Di pesta tadi kamu nggak makan apa-apa kan?" tanya pemuda tersebut yang ternyata adalah Yoga.
Dinda masih diam, dia menunduk lagi, mengeluarkan air matanya akibat kedatangan laki-laki itu barusan.
"Loh, kok malah nangis? Elo marah ya?" tanya Yoga sambil berjongkok di hadapan Dinda.
Gadis manis itu menggelengkan kepalanya. Kehadiran pemuda tersebut saat ini tidak lagi membuatnya marah.
"Terus? Kok elo nangis?" Dia bertanya dengan lembut.
Rasanya bersalah karena tadi tidak bersama dengan Dinda saat mengetahui istrinya itu duduk sendirian karena tarikan dari tangan Ratu dan juga Maya yang menyuruhnya untuk terus menari. Hingga pada akhirnya dia melihat Dinda pergi. Yoga memaksa untuk menarik dirinya dari kedua wanita posesif itu dan menyusul DInda ke sini. Namun, Dinda yang sedang melamun tidak mendengar teriakan Yoga sehingga akhirnya berada di sini.
"Gue ... kaki gue sakit! Kesemutan!" seru Dinda menangis semakin kencang. Yoga hampir tergelak mendengar ucapan Dinda. Dia kira, Dinda kesal karenanya tadi.
Eh, cuma kesemutan toh? Gue kira dia marah, batin Yoga sambil menahan tawanya. Yoga berbalik, memberikan punggungnya untuk Dinda.
"Ayo kita pulang. Gue gendong. Cepet!" perintah Yoga.
Dinda menatap punggung Yoga yang lebar dan menggerakkan tangannya di depan Dinda. "Ayo, mau jajan cilok nggak? Tambahin es krim deh."
__ADS_1
"Tapi gue berat," ucap Dinda, terisak menarik ingusnya agar tidak turun dan meleleh.
"Yee, emangnya elo pikir yang waktu elo sakit siapa yang mindahin elo ke kamar gue?" tanya Yoga. "cepet, daripada gue berubah pikiran. Mobil parkir jauh tuh di sana!" ucap Yoga sambil menggerakkan kepalanya menunjuk dengan menggunakan dagu. Dinda tentu saja tidak mau berjalan jauh kembali ke sana. Kakinya masih sakit akibat berjalan jauh dan bert*lanjang kaki.
Dinda mendekat, menjatuhkan tubuhnya ke depan sehingga Yoga terdorong dan menahan bobot tubuhnya di depan dengan tangan. "Pelan-pelan, dong! Kalau jatuh, hidung gue lecet, pesek nanti kayak elo!"
"Yoga!" teriak Dinda kesal, memukul pundak Yoga dengan keras. "Hidung gue nggak semancung elo, tapi masih mending dari yang lain. Emangnya elo lupa kalau banyak orang yang nyangka gue orang India? Hidung gue ala-ala Kajol Mukherje tau!" ujar Dinda.
Yoga kali ini tertawa pelan, lantas berdiri dan mengangkat tubuh Dinda yang tidak berat sama sekali. "Iya, Dinda Mukheje. Kita pulang apa jajan ini?"
"Katanya tadi jajan cilok sama es krim!"
"Yang nyambung sama apa?" Dinda mengeratkan pelukannya di leher Yoga, sambil menenteng sepatu heels-nya di tangan.
"Pizza?"
Senyum Dinda merekah mendengar nama itu disebutkan. Akan tetapi, senyum itu kembali luntur saat dia mengingat sesuatu.
"Beli pizza emang suamiku punya duit?"
__ADS_1
Yoga tersenyum tipis. Senang akan panggilan itu.
"Tentu aja punyalah. Buat Istriku apa sih yang nggak?" ujar Yoga. Padahal uang yang ada di dalam akun pembayarannya hasil dari meminta transferan kepada sang ayah saat sebelum berangkat ke pesta. Tinggal potong gaji saja nanti saat awal bulan.
Langkah kaki Yoga pelan menuju ke rumah Galih. Sementara itu, Dinda menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung hangat Yoga. Teringat hal yang sama saat dulu, dia juga pernah Yoga gendong seperti ini saat dia pulang latihan, kakinya terkilir dan Yoga menggendongnya hingga sampai ke rumah.
"Din. Elo tidur?" tanya Yoga saat tidak mendengar suara Dinda.
"Hem."
"Kaki elo masih kesemutan?" tanya Yoga lagi.
"Iya, masih kesemutan. Mau apa? Mau turunin gue?" tebak Dinda dengan nada yang kesal.
"Ya kalau elo mau turun sih nggak apa-apa. Makin lama kok makin berat ya?" gumam Yoga bercanda.
"Yang berat itu dosa gue. Kalau berat badan dari dulu juga nggak nambah-nambah!"
Yoga tertawa mendengarnya, memang Dinda sedari SMA tidak berubah banyak, bahkan jika yang tidak kenal akan menganggapnya seperti anak SMP saja.
__ADS_1
"Nggak usah ketawa, Yoga! Nggak ada yang lucu!"