Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
12. Dilarang Dekat Laki-Laki Lain


__ADS_3

Sarapan telah selesai, masakan Yoga sangat enak seperti biasanya sehingga Dinda bisa menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Elo mau jadi ke kampus?" tanya Yoga saat Dinda sedang mencuci piringnya.


"Iya."


"Emang elo sudah baikan?"


"Udah nggak apa-apa, kok."


"Yakin?" tanya Yoga sekali lagi, pasalnya semalam demam Dinda lumayan tinggi dan pagi ini dia masih sedikit demam.


"Iya, nggak apa-apa kok. Lagian cuma demam biasa aja, gue nggak apa-apa. Lo ke kampus nggak?" tanya Dinda. Piring sudah selesai dia cuci kemudian disimpan kembali ke rak penyimpanan.


"Nggak deh, mau ke rumah sakit. Nanti gue hubungi si Andi, kasih tau dia gue nggak masuk," ucap Yoga, wajahnya tampak murung memperlihatkan kegusaran yang ada di kepalanya.


"Gue juga nggak berangkat ke kampus deh," ucap Dinda. Tak enak hati rasanya jika dalam keadaan yang seperti ini dia pergi, sementara sang ibu mertua berada di rumah sakit.


"Eh, jangan. Ngapain juga elo nggak kuliah? Denger ya, Din. Gue nggak mau ya punya istri yang nggak pinter.


"Tapi Mama--"


"Nggak ada. Pokoknya elo harus tetep ngampus!"


Dinda menatap Yoga dan memohon lewat sorot matanya itu, dia sungguh malas pergi dengan keadaan Mama Puspa yang seperti ini.


"Ga," mohonnya.


"Nggak. Harus pergi ke kampus! Ya, udah. Gue antar lo dulu," ucap Yoga kemudian berdiri.


"Nggak usah deh, gue naik bis aja. Lagian juga kelas kan nanti agak siang," tolak Dinda kecewa.


"Elo sekarang istri gue, jadi nurut apa kata suami," ucap Yoga tidak suka.

__ADS_1


"Cih, ingat. Hubungan kita ini nggak beneran. Cuma perjanjian karena Mama Puspa," ujar Dinda mengingatkan.


Yoga terdiam mendengar ucapan Dinda, rasanya tidak menyenangkan di saat wanita itu mengingatkan status mereka.


"Ya, tapi tetep aja, sekarang ini status lo itu istri gue, apa kata dunia kalau gue nggak peduli sama istri sendiri," ucap Yoga. "Ayo berangkat. Gue mau sekalian ke rumah sakit. Biar nggak usah bolak balik," ajak Yoga.


"Iya."


Banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, Yoga melajukan mobil mamanya dengan kecepatan sedang.


"Sorry, ya," ucap Yoga tiba-tiba.


Dinda tersentak dan menghentikan bermain ponselnya.


"Eh, sorry kenapa?" tanya Dinda bingung.


"Soal semalam. Gara-gara nggak dengerin buat naik mobil, elo jadi demam," ucap Yoga tak enak hati.


"Oh, itu. Nggak masalah. Lagian juga gue sekarang ini udah baikan kok. Mungkin karena kemarin belum makan aja kali, jadi masuk angin."


Baru saja Dinda masuk ke dalam gerbang, sebuah notif terdengar di hpnya.


[Ingat, mulai hari ini jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain.]


"Ish, apaan juga sih Yoga. Lagian juga ngapain kalau aku dekat dengan laki-laki lain?


[Emangnya kenapa?] balas Dinda sambil tersenyum jahil.


[Ya, untuk sementara jangan dekat dulu dengan laki-laki lain. Setidaknya tiga bulan] Yoga memperingatkan.


"His, perasaan nggak ada perjanjian kayak begini, deh," gumam Dinda.


[Kemarin kita nggak bahas ini, Yoga!] balas Dinda lagi dengan diberikan emot wajah kesal.

__ADS_1


Menunggu hingga lima menit lamanya, Dinda kesal karena tidak mendapatkan lagi balasan dari Yoga. Maka, dia pun menghubungi Yoga lewat panggilan telepon.


"Hei, Ga! Kok seenaknya aja kamu bilang aku nggak boleh dekat dengan yang lain? Kita nggak ada perjanjian kayak begini, loh!" ucap Dinda kesal, tentu saja dia menurunkan volume suaranya karena takut jika ada yang mendengar.


Suara klakson mobil terdengar dengan jelas menandakan jika Yoga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. "Memang nggak ada. Kan kita belum buat. Mulai sekarang aku akan pikirkan dulu apa yang boleh dan apa yang nggak boleh. Ngerti?" tanya Yoga.


Dinda kesal dengan ucapan Yoga yang seenaknya saja sendirian.


"Terus? Keuntungan buat gue apa? Nggak ada juga!" tanya Dinda ketus sambil berjalan menuju ke perpustakaan.


"Ya, memang nggak ada sih. Tapi tolonglah, untuk saat ini aja. Untuk sementara jangan dekat dengan yang lain. Lagian juga kan kita nggak tau, kita akan dalam keadaan yang seperti ini tuh sampai kapan. Ya, setidaknya sampai mama sembuh deh. Ya, please," ucap Yoga memohon.


Dinda menghela napasnya dengan berat. Jika saja Yoga bukan sahabatnya dan juga Mama Puspa orang yang sudah ikut merawatnya sedari kecil pastilah dia tidak akan mau melakukan hal ini bersama dengan Yoga.


"Iya, tapi aku lakuin ini demi Mama ya."


Yoga tersenyum dan menganggukkan kepala, meski Dinda tentu saja tidak bisa melihatnya. "Iya, makasih ya, Din. Elo memang sahabat gue yang paling baik," ucap Yoga.


"Ya, memang gue baik. Ya udah, gue udah mau sampai. Salam sama Mama Puspa ya."


"Iya."


Dinda mematikan panggilannya dan tersenyum senang saat melihat sahabatnya melambaikan tangannya di taman di depan ruangan perpustakaan.


"Hei, gue kira elo nggak akan datang. Udah nunggu dari tadi juga!" kesal Ratu dengan bibir yang manyun dua centi. Gadis bertubuh tinggi dan kurus itu tampak sangat cantik seperti biasanya. Tubuhnya tinggi, kulitnya kuning langsat, mata indah, dan juga wajah yang sangat cantik. Cocok jika dia menjadi model sebuah majalah.


"Datang lah. Udah lama nunggu?" tanya Dinda pada sahabatnya yang lain.


"Nggak, baru aja sampai. Yuk, ke kantin dulu ya, gue lapar." Ratu tersenyum meringis dan menggandeng tangan Dinda untuk menyeretnya ke arah kantin. Mau tak mau Dinda mengikuti arah langkah sang sahabat.


"Ish, katanya mau rajin ke perpus, malah ke kantin! Memangnya nyokap nggak bikin sarapan?" tanya Dinda. Ratu tersenyum tanpa malu sama sekali.


"Tadi sarapan sandwich sih, tapi lapar lagi gue!" ujar Ratu tanpa malu sama sekali. Dinda menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan wanita ini yang bertubuh kurus tapi makannya sangat banyak sekali.

__ADS_1


"Ckckck, nggak nyangka ya. Ratu Isabella Mardiani, anaknya Bapak Muhammad Fakhri, ternyata si ceking yang banyak makannya. Heran gue, tuh lemak pergi kemana? Bakso, mie ayam, sate, martabak. Lu punya black hole ya, yang nyedot semua lemak di dalam perut?" tanya Dinda tidak habis pikir, sementara itu Ratu hanya tersenyum terkekeh mendengar ucapan dari sahabatnya ini.


__ADS_2