
"Ada hati yang harus dijaga? Siapa?" gumam Maya sambil menggigit kuku jempolnya, tatapan Maya tidak teralihkan dari Yoga yang kini sudah menjauh darinya. Maya jadi resah sendiri. Dia tidak tahu siapa yang sedang dekat dengan Yoga sekarang ini.
"Siapa ya? Siapa? Apa wanita kurus yang tadi? Atau Dinda? Nggak mungkin juga kayaknya. Gue tau kalau mereka tuh nggak pernah ada rasa. Ah, gue harus cari tau soal ini!" gumam Maya sekali lagi kemudian pergi dar sana untuk menyusul Yoga ke kelas.
Yoga telah duduk di kursinya, dia sedang memainkan hp-nya entah sedang apa.
"Eh, Ga. Kok nggak nunggu aku? Aku kan nggak bisa jalan cepat kayak kamu!" ujar Maya dengan nada yang merajuk.
Yoga menatap Maya tanpa ada rasa curiga sama sekali.
"Oh, maaf. Aku memang biasa kalau jalan cepat, apa lagi aku lagi selesaikan misi. Nih!" tunjuk Yoga pada hp-nya yang sedang memainkan game.
"Oh." Maya menganggukkan kepalanya. Meski sebal karena Yoga mengatakan itu sebabnya, tapi Maya dengan sangat jelas tahu jika bukan karena game juga.
"Oh ya. Memangnya cewek yang kamu jaga hatinya itu siapa? Bisa aku tau? Jadi, aku juga bisa jaga jarak sama kamu kalau ada dia." Maya ingin tahu.
"Jadi, kalau dia nggak ada, kamu bakalan dengan bebas deket juga sama aku? Maaf ya, May. Aku sudah tau kalau kamu ada rasa sama aku, tapi tolong. Aku sekarang sedang serius urusin pernikahan aku."
Maya terkejut mendengarnya sampai dia hampir bangun dari duduknya.
"Apa? Pernikahan? Kamu mau nikah? Sama siapa?" tanya Maya dengan tidak percaya, suaranya juga cukup keras sehingga membuat orang-orang yang ada di ruangan itu menoleh kepadanya. Akan tetapi, Maya mencoba untuk tetap bersikap tenang karena terlalu banyak orang di sini dan dia tidak mau malu jika mendapati penolakan dari pemuda ini.
"Kamu mau menikah sama siapa? Kok nggak bilang sama aku sebelumnya?" tanya Maya pelan.
"Ada aja."
__ADS_1
Yoga memilih untuk berdiri dan pergi dari sana. Dia hanya sedang ingin sendiri sekarang ini. Lebih baik jauh-jauh dengan wanita karena dia juga sedang menjaga hatinya untuk seseorang yang tidak ada di sini.
Maya semakin sebal saja melihat kepergian Yoga, sudah jelas laki-laki itu menghindarinya dan ... menolaknya.
"Aku harus tau siapa yang lagi dekat dengan Yoga. Aku harus tanya siapa ya?" Maya mencari siapa yang lebih dekat dengan pria yang dia sukai, hingga tiba saat dia menemukan seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Haris!" teriak Maya sambil melambaikan tangannya. Laki-laki yang dipanggil itu menoleh dan balas melambaikan tangan, mendekati Maya dan duduk di tempat Yoga tadi.
“Hai, May. Ada apa?” tanya Haris bingung, biasanya Maya sering bersama dengan Yoga, tapi kali ini dia hanya sendirian saja.
“Mau tanya dong, pacar Yoga yang mana sih? Apa anak kampus sini juga?” tanya Maya padanya.
“Pacar? Yang mana ya?” Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pasalnya meski dia dekat dengan Yoga, tapi pemuda itu cukup misterius juga jika berhubungan dengan pacarnya.
“Iya, tadi Yoga bilang kok kayaknya dia udah punya pacar, kali aja kamu tau orangnya yang mana?” tanya Maya penasaran, dia sangat penasaran sekali seperti apa wanita yang telah menjadi tambatan hati pemuda itu.
Maya kecewa karena tidak menemukan kabar apa-apa.
**
Yoga kini sedang duduk di dalam perpustakaan. Dia sedang sibuk dengan permainan yang ada di hp-nya, ingin fokus saja untuk menaikkan rangking di permainan tersebut karena sekarang ini waktunya sangat sedikit sekali untuk bersenang-senang. Yoga harus pergi ke kantor ayahnya untuk ikut bekerja sekarang. Jadi cleaning servis untuk sementara waktu sebelum dia bisa naik jabatan untuk menjadi seorang karyawan freelance.
“Kalau di sini kan nggak ada yang ganggu. Enak bener mereka mau ganggu waktu gue. Sekarang ini gue nggal punya waktu buat main game. Sibuk!” ujar Yoga sambil terus bermain game nya. Yoga memakai headset agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain meski dia tidak bisa mengumpat karena ada di dalam perpustakaan sekarang ini. Namun, terkadang Yoga lupa jika ini ada di perpustakaan saat dia sedang diambang kekalahan karena ancaman oleh musuhnya.
"Akh, gila aja—“
__ADS_1
“Hei, siapa yang berisik? Kalau mau berisik keluar saja sana!” seru seorang wanita yang bertugas untuk menjaga perpustakaan ini. Wanita itu menatap Yoga dengan tatapan tajamnya karena hanya pemuda itu saja yang sedang memegang hp dengan headset terpasang di telinga.
“Maaf,” bisik Yoga sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dia memutuskan untuk pergi saja dari sana daripada mendapati tatapan tajam lagi dari wanita itu.
“Butuh tempat sepi buat main game,” ucap Yoga sambil berjalan menuju ke arah parkiran dan duduk di atas motornya. Senyum merekah di bibir Yoga, kali ini tidak akan ada lagi yang bisa mengganggunya bermain.
Baru saja lima menit ia main, seseorang datang dan memukul pundak Yoga cukup keras.
“Aww. Eh, Din?” Mata Yoga membelalak saat melihat Dinda yang memukulnya barusan.
“Pergi yuk.”
“Eh, pergi? Kemana?”
“Kemana aja, bebas. Gue lagi nggak mood masuk kelas nih,” ujar Dinda dengan wajah yang muram.
“Eh, tumben. Biasanya juga semangat?” tanya Yoga.
Dinda mengambil helm yang ada di atas motor dan mengenakannya di kepala.
“Lagi kesel aja sama seseorang. Yuk, mau pergi nggak? Kalau nggak, gue mau pergi sendiri!” seru Dinda kesal.
Yoga tersenyum senang, pelariannya akhirnya ada yang menemani.
“Ayo. Kita pergi ke mana?”
__ADS_1
“Terserah!” jawab Dinda sambil duduk di belakang Yoga dan melingkarkan tangannya di depan perut Yoga.