Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
27. Dinda Merajuk


__ADS_3

Mobil yang membawa Galih dan Dinda telah sampai di depan rumah. Dinda segera keluar dari dalam mobil tersebut dan melambaikan tangannya kepada Galih yang ada di belakang kemudinya.


"Kak Galih, makasih ya udah antar aku pulang," ucap Dinda dengan senyuman manis di bibirnya.


"Iya, sama-sama. Soal yang tadi aku minta maaf ya."


Dinda menganggukkan kepalanya.


"Iya, nggak apa-apa. Makasih banget tumpangannya. Nggak apa-apa kan kalau aku nggak nawarin masuk?" tanya Dinda membuat Galih kecewa.


"Iya, nggak apa-apa. Lagian juga kita kan bisa ketemu lagi besok di kampus," ucap Galih. Dinda senang mendengarnya. "Ya sudah, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok," pamit Galih sambil membalas lambaian tangan Dinda.


Mobil Galih pergi dari sana. Dinda menatap kepergian pemuda itu dengan hati yang tidak karuan. Langkah kakinya kemudian masuk ke pekarangan rumahnya.


"Assalamualaikum. Ma, aku pulang!" seru Dinda, tapi tidak ada seorang pun yang ada di rumah tersebut. Dinda mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Eh, Mama kemana sih? Biasanya juga ada di rumah," gumam Dinda. Pintu tidak dikunci, itu artinya Mama Irma tidak pergi jauh.


"Ah, aku mau mandi aja lah."


Dinda naik ke lantai atas, tapi kemudian dia turun lagi dengan mengenakan pakaiannya kembali. Saat Dinda akan pergi, tiba-tiba saja Irma pulang dengan membawa satu kantong kresek hitam di tangannya.


"Loh, Din. Kok kamu di sini?" Irma terkejut saat Dinda turun dengan pakaian yang bahkan terbalik, bagian belakang dia pasang di depan.


"Eh, Ma. Baju-baju aku kemana, Ma?" tanya Dinda.


"Baju kamu di rumah suami kamu lah."


"Loh, kok di sana?" tanya Dinda dengan nada protes.

__ADS_1


"Lah, iya. Kan sekarang kamu tinggal di sana, jadi baju yang biasa kamu pakai ya di sana. Di sini cuma baju tidur doang sama baju-baju lama," ucap Mama Irma kemudian berjalan menuju ke dapur. Dinda tidak terima dengan ucapan Mama Irma dan mengikutinya hingga sampai di dapur.


"Loh, kok gitu? Ish, Mama nih. Kok dibawa ke sana semua?" gumam Dinda kesal.


"Loh, memangnya Mama salah? Kan itu rumah suami kamu juga, Din."


"Iya, tapi nggak semua juga dibawa kali, Ma! Kayak aku diusir aja sih!" Dinda kesal, duduk di kursi makan dan menunggui ibunya memasukkan sayuran ke dalam kulkas.


"Loh, bukannya usir kamu, Din. Tapi Mama cuma kasihan aja sama kamu kalau terus-terusan bolak balik sana sini cuma buat ambil baju. Lagian juga kan memang seharusnya kamu tinggal di tempat suami."


"Iya, Mama. Tapi kenapa nggak nunggu aku juga? Kenapa harus dipindah semua?" Dinda tetap protes.


"Nggak semua, kan sebagian besar. Ditinggal yang nggak kamu pake aja," ucap Mama Irma berkilah.


Dinda kesal, juga malas. Setelah tadi melihat Yoga yang bersama dengan orang lain, kini dia menemukan jika pakaiannya sudah tidak ada di dalam kamar.


Dinda sudah sangat gerah dan ingin mandi, tapi ini masih siang. Apa kata orang jika dia memakai piyama di siang bolong? Akan tetapi, dia tidak ingin juga bertemu dengan Yoga.


"Aku ke kamar dulu, deh. Mau ngadem," ujar Dinda kemudian kembali pergi ke lantai atas.


Irma sedikit bingung melihat putrinya yang pulang sendirian, karena dia baru saja bertemu dengan Yoga saat di jalan pulang tanpa Dinda.


"Din, kamu nggak pulang sama Yoga?" tanya Irma saat Dinda sebelum sampai di tangga paling teratas.


"Nggak, tadi Yoga sibuk. Jadi aku pulang sendirian," ujar Dinda. Irma berbicara lagi, tapi Dinda tidak mau mendengar dan masuk ke dalam kamarnya.


Di kasurnya yang empuk, Dinda membaringkan tubuhnya yang lemas. AC dia nyalakan di suhu yang cukup rendah dan udara yang ada di dalam sana seketika membuat tubuhnya segar meski tidak sesegar setelah tubuhnya menyentuh air.


"Nyebelin banget. Dia siapa juga? Anak mana?" gumam Dinda memikirkan siapa wanita cantik tadi, penampilannya seksi, dengan rambut yang berwarna coklat.

__ADS_1


Saat Dinda masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan Yoga masuk ke dalam sana dengan tatapan marah.


"Hei, Din. Elo kalau pulang bilang dong sama gue."


Dinda terkejut dan terduduk di tempatnya.


"Eh, ngapain elo masuk kamar gue?" tanya Dinda marah, privasinya terganggu saat Yoga datang.


"Ngapain? Heh, gue tanya ya sama elo. Apa maksudnya elo ninggalin gue di sana sendirian? Elo nggak ada telepon gue, elo nggak ada kasih pesan sama gue kalau elo pulang duluan. Gue nunggu hampir satu abad, Dinda!" tegur Yoga kesal.


Dinda melipat kedua tangannya di depan dada, membuang wajahnya ke arah lain. "Pikir aja sendiri!"


Hal itu tentu saja membuat Yoga bingung, entah ada apa dengan Dinda sehingga marah seperti ini.


"Loh, kok elo yang marah? Harusnya gue dong yang marah!" cerca Yoga. "Gue udah kepanasan nunggu elo di parkiran, eh ternyata elo malah udah pulang duluan. Lo tuh gimana sih? Nggak bisa apa elo telepon gue atau kirim pesan sama gue?"


Yoga hilang kesabaran dengan kelakuan Dinda yang seperti itu sehingga dia menarik bahu Dinda agar wanita itu menatapnya. "Heh, Din. Elo bisa nggak sih hargain waktu gue? Gue itu bukan orang yang pengangguran sekarang. Gue harus kerja, berangkat on time ke kantor Papa!"


Dinda masih diam membuat Yoga menjadi semakin kesal.


"Gue ada salah sama elo?" tanya Yoga sadar dan menurunkan nada bicaranya.


"Nggak!"


Yoga menatap sang istri, melihat jika di matanya terdapat kilatan kekecewaan.


"Oke, gue minta maaf. Sekarang elo bilang sama gue, kenapa elo tinggalin gue dan nggak mau angkat telepon?" tanya Yoga.


"Karena gue pikir elo mau anterin cewek yang ketemu di parkiran itu!"

__ADS_1


__ADS_2