
"Lo apa-apaan sih?" Dinda menepis tangan Yoga dengan kasar dari bahunya. Lama-lama ditatap seperti itu oleh Yoga nyatanya tidak kuat juga, padahal biasanya juga tidak pernah berdebar seperti ini. Dinda langsung membalikkan tubuhnya, mencoba untuk menahan diri agar tidak salah tingkah di hadapan Yoga.
Padahal dulu juga nggak pernah kayak gini, apa status kita yang menikah bikin aku berdebar ya? batin Dinda di dalam hati. Dinda segera mengambil nampan dengan isi tiga cangkir minuman.
"Awas, gue mau lewat. Halangin jalan aja!" ketus Dinda. Pada saat dia akan melewati Yoga, nampan yang ada di tangannya tiba-tiba saja direbut oleh Yoga dengan paksa.
"Biar gue yang bawa ini ke depan."
"Eh, nggak apa-apa. Gue aja."
"Elo capek, biar gue yang bawa," ucap Yoga sekali lagi kemudian pergi dengan membawa minuman dan cemilan yang tadi dia bawa dari lemari di atas kompor.
Saat mereka telah sampai di ruang tamu, tampak Ratu yang sedang tertawa sambil memegang album foto lama milik keluarga itu.
"Lucu juga ya mereka." Ratu tertawa geli melihat foto Yoga dan Dinda saat mereka kecil. Di dalam sana terlihat Dinda yang tengah menangis memeluk kaki ibunya saat ombak datang. Juga Yoga yang bermain pasir dengan mengenakan celana berwarna pink yang cerah dengan gambar stoberi di seluruh permukaan celana itu.
Dinda kesal, duduk di samping Ratu dan mengambil paksa album tersebut dan menutupnya.
"Nggak usah lihat foto itu kalau elo cuma mau ngejek gue!" ujar Dinda kesal.
"Siapa juga yang ngejek. Cuma lucu aja kalian. Ku tebak pasti Yoga pakai celana punya Dinda, ya kan Tan?" tanya Ratu sambil melirik Puspa.
"Iya, mereka memang sedari bayi barengan terus, sampai mereka SMP juga kadang baju mereka tukeran. Memang ada-ada aja mereka. Persahabatan mereka awet sampai--"
"Uhuk! Ma. Tolong dong, aku minta permen jahe. Tenggorokan aku sakit nih, kayaknya mau batuk deh!" Takut akan sang ibu keceplosan berbicara, Yoga berpura-pura batuk dan meminta permen yang terletak di samping ibunya. Namun, Ratu segera bergerak cepat mengambilkan wadah berisi permen jahe kesukaan Heru dan menyerahkannya kepada Yoga.
"Minum yang banyak, Ga. Jaga kesehatan," kata gadis itu dengan khawatir.
"Makasih, mungkin karena kemarin sempat kehujanan, jadi nggak enak nih tenggorokan," ucap Yoga.
"Jangan sampai sakit dong, Ga. Khawatir aku kalau kamu sakit." Ratu berbicara dengan khawatir dan gegas memberikan teh miliknya untuk Yoga, tapi Yoga tolak minuman itu dan mengupas bungkus permennya.
__ADS_1
Rasa panas bergumul di dalam hati Dinda, tidak suka melihat Ratu yang terus mencoba mendekati Yoga. Akan tetapi, Dinda masih diam saja memperhatikan Ratu yang terus berbicara dan menonjolkan diri kepada Puspa dan Heru.
"Ratu, maaf ya. Tante sedikit capek. Mau istirahat dulu, nggak apa-apa kan ditinggal?" tanya Puspa setelah melihat raut wajah kesal menantunya.
"Oh, ya. Nggak apa-apa, Tan. Silakan Tante istirahat. Semoga cepat sembuh ya, Tan."
"Iya, makasih banyak ya sudah mau jenguk dan antar pulang."
"Iya, sama-sama. Aku senang kok bisa antar Tante sampai ke rumah," ujar Ratu dengan senyum yang lebar.
Heru membantu Puspa untuk berdiri dan pergi ke dalam kamarnya, sementara anak-anak muda itu tetap berada di sana. Ratu melirik Yoga yang memainkan hp-nya, sedikit sebal juga saat pemuda itu mengabaikannya.
"Ga, aku seneng deh Tante udah mendingan sekarang. Tadinya aku mau nyalon sama Mama, tapi aku ingat mama kamu keluar rumah sakit hari ini, jadi aku ikut aja buat antar ke rumah."
Dinda melirik Ratu dengan sebal, terlihat sekali wanita itu sedang berusaha keras mencari perhatian dari Yoga.
"Eh? Oh, iya. Aku juga senang. Makasih ya udah perhatian sama mama aku," ucap Yoga melirik sedikit Ratu dan kemudian kembali terfokus kepada game di tangannya.
"Iya. Makasih. Din aku ke kamar dulu ya, mau mandi. Capek juga, ngantuk. Nggak apa-apa kan kalian ditinggal? Ngobrol sama Dinda aja ya."
Tanpa menunggu jawaban atau penolakan dari tamunya, Yoga segera pergi dari sana dan tanpa menoleh lagi pada kedua orang itu.
Setelah ditinggalkan oleh Puspa dan juag Yoga, dua orang itu hanya diam. Ratu tiba-tiba saja kesal karena dia tidak bisa berlama-lama bersama dengan Yoga.
"Seneng gue lihat keluarga ini, pada ramah semua." Ratu berkata sambil melihat ke kanan dan ke kiri, entah apa yang dia cari sehingga matanya berjalan-jalan ke sana kemari.
"Ramah sih, ramah. Tapi, kalau udah debat, kayak ada angin panas di sana sini. Elo nggak akan betah kalau mereka dah mulai dalam perdebatan sengit," ujar Dinda.
"Masa sih?" Ratu sempat tak percaya.
"Yee, nggak percaya. Gue yang deket dengan mereka sedari orok merah udah tau, udah biasa lihat mereka," ujar Dinda. Tak dia sangka, Ratu malah tertawa kecil mendengar ucapan Dinda.
__ADS_1
"Tapi kayaknya seru aja gitu. Jadi pengen lihat calon mama mertua kalau marah gimana."
Dinda melirik Ratu dengan sebal, entah harus bagaimana lagi membuat dia menyerah dengan mereka. Ratu yang gigih, seperti namanya yang ingin dijadikan tokoh utama, tapi tidak bisa seperti itu dia berada di sini.
Ini dunia gue, jangan sampai dia yang jadi tokoh utama di sini! Dinda melirik Ratu sekali lagi, masa bod0h meski dia adalah sahabatnya, yang terpenting sekarang ini Yoga adalah suaminya!
Eh?
"Din, gue pulang dulu deh. Udah mau sore. Nggak apa-apa kan. Nggak mampir ke rumah elo?" tanya Ratu tak enak hati.
"Eh, iya. Nggak apa-apa. Toh sama aja. Rumah gue di sebelah juga."
Ratu bangkit dengan elegan, dan berjalan bersama dengan Dinda ke luar dari rumah itu, memasuki mobil dan berkata kepada Dinda. "Lain kali gue main lagi deh, ke rumah elo. Sekalian mau jenguk calon Mama mertua." Ratu tersenyum sambil menggerakkan alisnya naik dan turun.
"Hemm. Yaa ...."
"Jangan cemberut gitu dong, Babe. Sorry banget hari ini gue nggak masuk rumah elo, tapi emang ini udah sore, dan gue mau pergi ke suatu tempat. Lo mau ikut?"
"Kemana?"
"Ke rumah Denisa. Sepupunya datang," ajak Ratu.
"Nggak ah, ngapain juga kepoin sepupu dia? Bule jadi-jadian juga! Dah, kalau elo mau pergi ya pergi aja. Have fun ya!" usir Dinda dengan lambaian tangannya. Ratu sudah biasa dengan sikap sahabatnya ini. Dia membalas lambaian tangan Dinda dan menyalakan mobilnya.
"Babe, tolong dong. Gerbang! Tanggung dah masuk nih!" pinta Ratu.
Dinda memutar bola matanya malas dan membukakan gerbang itu untuk Ratu.
"Bye, Din!"
"Bye!" seru Dinda. Mobil mewah milik Ratu pergi dari halaman rumah itu.
__ADS_1