
"Eh, sorry. Gue nggak sengaja." Yoga segera bangkit dari atas tubuh Dinda dan segera menjauh. Rasanya canggung karena kejadian barusan. Dia kurang berhati-hati sampai-sampai terjatuh seperti tadi.
Dinda juga sama canggungnya seperti Yoga, dia bangun dan mengambil makanan yang tadi sempat terjatuh.
"Ng-nggak apa-apa. Anu ... gue mau ganti baju dulu," ucap Dinda, kemudian menyimpan toples tersebut di atas meja belajar dan pergi kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Yoga mengusap wajahnya dan duduk di tepi tempat tidur, dia menjadi resah setelah kejadian tadi. Rasa-rasanya bertatapan dengan mata Dinda dan dengan jarak sedekat itu menjadikan dadanya berdetak dengan sangat kencang.
Yoga memegang dadanya sendiri, terasa sekali detaknya seakan sedang melompat-lompat di sana.
"Ih, apaan juga? Orang hidup ya jantungnya berdetak lah!" gumam Yoga, kemudian berdiri untuk mengganti pakaiannya.
Dinda yang tadi masuk ke dalam kamar mandi, kini kembali keluar, dia canggung karena melihat Yoga yang sedang bertelanjang dada. Dia menunduk, berjalan dengan sangat cepat menuju ke arah Yoga yang masih berdiri tepat di depan lemari.
"Sorry, gue mau ambil baju, bisa elo minggir sedikit?" tanya Dinda. Yoga menggeserkan tubuhnya ke samping dan memberikan tempa untuk Dinda. Tanpa berbicara sama sekali, Dinda pergi lagi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat Dinda sudah keluar dari kamar mandi, Dinda melihat Yoga yang sedang melipat pakaian yang ada di sofa, segera Dinda mengambil baju-baju miliknya dan melipatnya sendiri.
"Ga," panggil Dinda.
__ADS_1
"Hem?"
Dinda terdiam.
"Apaan?" tanya Yoga tidak sabaran.
"Nggak ada apa-apa sih, tapi gue pengen tau."
"Pengen tau apa?"
"Maya atau Ratu?"
Yoga melirik Dinda dengan kening yang mengerut.
"Diantara kedua orang itu, mana yang lebih baik?" tanya Dinda pelan. Dinda menunggu, tapi dia malah merasa bodoh karena sudah menanyakan itu.
"Nggak ada pilihan lain?" tanya Yoga. Dinda hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kalau pilihan hanya mereka berdua nggak ada. Elo tuh apaan juga sih? Nanyain begituan? Nggak jelas!" ujar Yoga kemudian menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Dinda hanya meringis dan menggelengkan kepalanya. "Nggak ada kok. Cuma pengen tau aja yang elo pikirin, hehe." Dinda meringis dan tersenyum, tapi tatapannya dia alihkan ke tempat lain. Jangan sampai Yoga melihatnya seperti itu dan marah saja.
Segera Dinda menyelesaikan pekerjaannya kini dengan diam, melipat seluruh bajunya dan milik Yoga juga sekalian.
Setelah selesai melipat pakaian, keduanya sibuk melihat acara kesukaannya masing-masing. Mereka bukannya rebahan dan tidur kini masih membuka matanya untuk menonton acara kesukaan mereka.
Yoga melirik Dinda, rasanya tergiur juga melihat film yang Dinda tonton. Dia mendekat ke arah Dinda sedikit di atas tempat tidur.
"Agak jauhan dikit. Gue juga mau nonton," ujar Yoga seraya menjauhkan hp dari wajah Dinda, ternyata nonton drakor seru juga apalagi yang dia tonton adalah drama tentang Korea zaman Joseon. "Bagi cemilannya!"
Tanpa dikomando, Yoga mengambil makanan yang ada di pangkuan Dinda dan menikmatinya.
Dua orang itu menikmati filmnya bersama-sama.
Dinda sedikit pegal karena mengangkat hp-nya sedari tadi, sehingga dia tidak mau diam.
"Elo gerak-gerak terus sih! Gue nggak bisa lihat jelas ini."
"Tangan gue kesemutan, pegel nih pegang ini muslim gantian Napa?"
__ADS_1
Yoga melirik malas Dinda, tapi tak ayal jika dia mengambil alih hp-nya.
"Biar gue yang pegangin,.elo tinggal menikmatinya aja."