Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
22. Bukan Sangkuriang


__ADS_3

"Hoaaammm."


Dinda terbangun di keesokan harinya dengan tubuh yang sangat segar sekali. Dia melihat matahari yang bersinar dengan cukup cerah di luaran sana, terhalang oleh tirai berwarna putih yang menutupi jendela kaca di kamar Yoga.


Dina melihat ke kanan dan ke kiri, sosok laki-laki itu sudah tidak ada di sampingnya. Namun, suara penggorengan yang beradu dan aroma wangi masakan sampai hingga ke kamarnya.


"Pagi!" sapa Mama Puspa saat Dinda turun dari lantai atas. Mama Puspa dan Yoga telah sibuk di dapur, Yoga yang memasak, sementara Mama Puspa yang membereskan dan menata piring-piring di atas meja.


"Pagi, Ma."


Dinda terdiam sejenak, merasa malu dengan senyuman yang diberikan oleh Puspa pagi ini. Jelas saja dia malu karena dirinya terlambat bangun, apa lagi Mama Puspa yang baru saja sembuh pun lebih semangat di pagi ini dan telah menyibukkan diri di dapur.


Yoga mendekat, memberikan ciuman di kening Dinda dengan lembut. "Selamat pagi, Istriku. Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Yoga, bukan hanya pertanyaan laki-laki itu ssaja, tapi juga karena perlakuannya yang tiba-tiba dan membuat jantung Dinda merasa tidak nyaman. Pagi-pagi sudah mendapatkan ciuman selamat pagi dari sahabatnya.


"Hei, kok ngelamun? Malam tadi kamu nyenyak tidur, kan?" tanya Yoga. Dinda tersenyum kecil dan masih terpaku, melihat Yoga dan bermain mata untuknya agar segera menjawab pertanyaannya, seakan dari permainan mata itu dia ingin mengatakan jika Dinda harus menjawab karena ada sang mama di sana.


"Eh, iya. Aku nyenyak kok. Tidur aku nyenyak banget," jawab Dinda dengan cepat.


Mama Puspa tersenyum kecil dan merasa senang dengan jawaban dan juga keakraban yang anak-anaknya ini lakukan.


"Syukur kalau kamu bisa nyenyak tidur, Din. Mama seneng dengernya. Sini, kita sarapan dulu. Yoga sudah masak makanan kesukaan kamu," ucap Mama Puspa menata piring milik Dinda.

__ADS_1


Beberapa hidangan tersedia di atas meja, dari mulai hidangan yang mewah dan hidangan yang biasa. Perut Dinda kini mulai meronta-ronta meminta diisi. Namun, saat Dinda akan duduk di kursinya, Yoga menarik kerah belakang baju Dinda bak mengangkat anak kucing.


"Hei, Sayang. Kamu belum mandi kan? Aku yakin kamu juga belum cuci muka dan gosok gigi. Sana, mandi dulu. Atau, kamu mau aku mandiin?" tanya Yoga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dinda tidak terima dengan perlakuakn Yoga, dia menggerakkan tangannya dan ingin menjauhkan tangan besar pemuda itu darinya. "Lepas, gue ... aku mau makan."


"Nggak bisa. Mandi dulu!" tegas Yoga, kemudian menarik Dinda menjauhi meja makan. "Nggak boleh balik sini kalau belum mandi atau gosok gigi!" ujar Yoga. Dinda mencebikkan bibirnya, menatap sebal pada pemuda yang satu minggu ini menjadi suaminya.


"Yoga! Jangan kayak gitu. Kamu kan bisa bilang dengan baik-baik sama Dinda. Kok malah kayak bawa anak beruang aja!" teguran keras tercetus dari mulut ibunya.


"Iya, Mama. Aku bicara baik-baik kok. Ya kan, Sayang?" tanya Yoga sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Kemana, Din?" tanya Mama Puspa berteriak saat Dinda bergegas keluar.


"Ambil baju!" jawab Dinda sambil berteriak tanpa menghentikan laju kakinya keluar dari rumah itu.


"Loh, kok ganti baju?" tanya Mama Puspa pada Yoga. Yoga masih sibuk dengan urusan memasaknya. "Ga, memang baju Dinda belum dipindahkan ke sini ya?" tanya Mama Puspa dengan bingung.


"Iya, memang belum. Dari kemarin Dinda pulang pergi ke rumah mama mertua kok. Kadang pulang dulu dan ambil baju sebelum ganti baju di sini. Kadang juga mandi di sana."


"Eee, memagnya kamu nggak ngasih tempat buat naruh pakaian Dinda?" tanya Mama Puspa lagi. Dia kira dua orang itu tahu apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


"Nggak, Ma. Aku aja belum beres-beres. Lagian Dinda kan rumahnya deket. Bisa bolak balik sana sini kalau cuma buat ambil pakaian."


Suara wajan beradu dengan penggorengan terdengar lagi, Yoga masih memasak satu makanan untuk bekalnya ke kampus nanti dan juga Dinda sekalian.


"Aduh!"


Mama Puspa geram, mendengar ucapan anaknya yang seperti itu sehingga dia memukul Yoga dengan sendok sayur yang ada di tangannya. Sebelum sendok sayur itu masuk ke dalam mangkok sayur, lebih baik dipakai untuk memukul kepala anaknya terlebih dahulu. Yoga mengusap kepalanya yang berdenyut nyeri.


"Mama! Sakit. Kok aku dipukul pake gituan? Aku kan bukan Sangkuriang!" seru Yoga sambil terus mengusap belakang kepalanya, terasa sedikit benjol akibat pukulan sang ibu tadi. Dia ingat dengan film Sangkuriang yang dipukul saat masih kecil karena membunuh anj*ng yang merupakan jelmaan ayahnya dan membawa hatinya kepada sang ibu.


"Iya, bukan Sangkuriang!" Seru Mama Puspa. "Heh, denger ya. Mana ada suami istri yang kayak gitu? Harusnya suami istri tuh hidup berdua, satu rumah, satu tempat. Ini kok malah misah gitu pakaiannya. Baju masih di rumah sebelah. Konsepnya gimana ini?" tanya Mama Puspa masih dengan mengacungkan sendok sayur. "Harusnya kamu itu saing berbagi sama Dinda. Baik ranjang, kamar mandi, maupun lemari, apa pun yang kamu punya sekarang ini juga milik Dinda. Kamu harus berbagi tempat mulai dari sekarang. Paham?" Pelototan tajam diberikan oleh Mama Puspa untuk Yoga.


"Iya, Ma. Paham banget. Nanti aku beresin baju-baju aku, kasih tempat buat Dinda. Lagian juga bukan cuma aku yang bisa disalahin, kali. Dinda juga nggak ngomong sih soal baju-bajunya," ujar Yoga membela diri. Mama Puspa duduk dengan lunglai, serasa lemas saja lututnya. Apa yang akan dia katakan kepada besannya dengan hal ini. Jika setiap hari mereka mendapati Dinda yang masih bolak balik hanya untuk mengambil pakaiannya saja.


"Terlalu kamu! Aduh, Mama pusing!"


Mama Puspa kembali berdiri, berjalan meninggalkan Yoga sendirian di dapur.


"Loh, Ma. Kemana? Nggak jadi sarapannya?" teriak Yoga dari depan kompor.


"Kepala Mama pusing. Mama mau ambil obat," ucap Mama Puspa. Yoga menatap kepergian Mama Puspa hingga masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2