
Yoga dan Heru telah sampai di ruangan. Yoga langsung mengambil tempat untuk berbaring di kursi sofa yang ada di sana. Tubuhnya lelah, sakit, karena beberapa kali dia pergi dengan membawa dua galon di pundaknya tanpa bantuan dari orang lain, itu sebagai hukuman karena dia sudah terlambat untuk masuk bekerja siang ini. Rasanya tulang-tulangnya retak karena pekerjaan berat tadi. Belum lagi nanti dia harus membersihkan toilet di lantai tiga. Jumlah toilet di setiap lantai lumayan banyak dan membuatnya kesal karena aromanya yang terkadang membuat tidak enak di hidungnya.
"Setelah selesai kuliah, kamu akan Papa tempatkan di cabang," ucap Heru saat Yoga akan memejamkan matanya.
"Cabang yang di mana?"
"Kamu juga tau cabang yang di mana. Memangnya kita punya berapa cabang?" tanya sang ayah.
Yoga memikirkan tempat itu, rasanya jika memegang cabang sendirian dia tidak sanggup juga.
"Pa, boleh nggak sih aku buka cafe aja?"
"Kafe apa?" tanya sang ayah yang mengalihkan tatapannya dari pekerjaan di tangannya.
"Kafe jualan makanan lah, emang Papa kira kafe itu gimana?" ujar sang anak malas.
"Dengan satu syarat kalau kamu mau buka kafe, kamu harus tetap urus kantor cabang. Papa kira nggak terlalu susah kalau kamu pegang cabang, ada Dirga yang bisa bantu kamu di sana. Asalkan urusan kantor beres, kamu bisa mengurusi kafe," ujar sang ayah menyebutkan nama asistennya yang dipercaya untuk memegang anak cabang perusahaan itu.
Yoga melirik sang ayah, tapi tidak lantas bangun dari berbaringnya. "Papa mau kasih modal buat aku?" tanya Yoga.
Heru menganggukkan kepalanya. "Iya, tentu akan Papa kasih modal. Tapi, ya itu tadi. Kamu pegang cabang sebelum kamu nantinya akan Papa serahkan perusahaan ini," ucap Heru.
Yoga mendecih sebal, lagi-lagi soal perusahaan. Terbayang nanti, dia tidak akan bisa sebebas sekarang, terpenjara di dalam ruangan dengan segudang pekerjaan yang membosankan.
"Ingat, kamu sudah punya istri sekarang. Kamu nggak boleh bermalas-malasan, apalagi kalau kamu dan Dinda punya anak. Anak kalian akan bangga dengan pekerjaan ayahnya. Dia akan bilang kalau papanya adalah orang yang hebat memimpin perusahaan. Apa kamu nggak mau kasih yang terbaik buat anak kamu kelak? Pendidikan untuk dia, materi yang mencukupi untuknya?" ujar Heru melirik sang putra yang kini tampak diam seakan sedang memikirkan apa yang dia ucapkan.
Yoga membayangkan hal itu, tanpa sadar terbit senyuman kecil di bibirnya.
Lucu juga kalau aku dan Dinda punya anak.
Cewek apa cowok ya nanti? batin Yoga, tanpa sadar jika sang ayah sedang memperhatikan dari meja kerjanya.
"Apa hubungan kamu dan Dinda lancar? Nggak ada masalah, kan?" tanya sang ayah membangunkan lamunan Yoga.
"Nggak ada." Yoga membalikkan tubuhnya berbaring menghadap ke samping, memunggungi sang ayah dan lanjut memikirkan betapa lucunya anaknya nanti. Dia akan mirip dengan siapa? Bagaimana rupa wajahnya? Bagaimana sifat anaknya nanti? Apakah mirip dengan Dinda, atau mirip dengannya?
Memikirkan sifat sang anak membuat Yoga menggelengkan kepalanya, jangan sampai jika anak mereka nanti mirip dengan Dinda, keras kepala gadis itu sangat menjengkelkan.
Melihat sang anak yang menggelengkan kepalanya beberapa kali membuat Heru tersenyum sendiri. Lucu melihat sang putra yang seperti itu. Anaknya itu sedang dalam masa bahagianya.
"Apa Dinda belum ada tanda-tanda?" tanya Heru.
__ADS_1
Yoga mendengar itu dan membalikkan tubuhnya memandang sang ayah.
"Tanda apa?"
"Hamil lah. Memangnya tanda apa lagi yang kami tunggu?" tanya Heru sedikit sebal. Sebagai seorang laki-laki rupanya puteranya ini tidak peka terhadap hal seperti ini.
Yoga menjadi salah tingkah sendiri, dia duduk dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Nggak tau, belum kayaknya."
"Kalian benar sudah melakukan malam pertama kan? Jangan bilang kalau anak Papa payah dan masih belum bisa taklukan istri di atas ranjang!" Heru menatap sang anak, menyidik putranya itu yang tiba-tiba saja menjadi canggung.
"Eh, mana ada. Nggak lah. Papa nggak percaya aku sama Dinda sudah begituan?" ujar Yoga kesal dan malu di saat yang bersamaan.
"Percaya, tapi kenapa belum ada tanda juga? Oh iya. Pernikahan kalian kan masih belum dirayakan. Gimana kalau kita mikirin untuk bikin pesta? Kita bikin resepsi di gedung."
"Gedung?"
"Iya, gedung. Mama pasti akan suka kalau ada pesta. Kalian masih belum punya foto pernikahan buat dipajang di ruang tamu," ucap Heru.
Yoga sedang berpikir, apakah Dinda sudah mau mempublikasikan pernikahan ini?
"Gimana?" tanya Heru saat Yoga hanya diam saja.
"Iya, sekalian kamu juga tanya dan bicara sama Dinda, jangan menunda momongan. Kami dan Mama Irma juga Papa Wildan nungguin anak dari kalian. Jangan cuma satu aja, sepi. Kasihan nanti anak kalian nggak punya temennya di rumah," ujar Heru.
Yoga jadi merasa tidak nyaman dengan perkataan sang ayah, tadi saja saat mengutarakan soal membuat anak, Dinda sampai menginjak kakinya dengan keras dan saat ini pun dia masih bisa merasakan ngilunya.
"Ya, bicara sama Dinda. Minimal tiga lah."
"Iya, Pa."
"Eh, Dinda nggak ngeluh kan?" tanya Heru yang membuat Yoga bingung dan menatap sang ayah.
"Ngeluh kenapa?"
"Soal urusan ranjang." Wajah Yoga memerah mendengar sang ayah berbicara soal itu. "Dia terpuaskan sama kamu kan? Kalau dia mengeluh karena nggak bisa terpuaskan, Papa bisa kasih tips kamu buat naklukin wanita di ranjang. Meskipun nggak tau apa sama kayak Mama kamu atau nggak, tapi setidaknya Papa bisa kasih tau cara-caranya," ujar sang ayah sambil menggerakkan alisnya naik dan turun dengan senyuman lebar menggoda sang anak.
"Ish, Papa nih. Nggak perlu lagi. Apaan juga tips begituan. Kayak nggak percaya aja kalau anaknya juga bisa memuaskan istrinya sampai 'ah uh' di atas ranjang. Udah ah, aku balik lagi ke bawah, Pa. Banyak kerjaan yang harus aku beresin," ucap Yoga yang tidak ingin pembahasan dari sang ayah meluber ke mana-mana.
"Eh, jangan lupa, tanyain Dinda mau pesta yang kayak gimana," teriak Heru saat Yoga akan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Iya, nanti aku tanyain."
Yoga keluar dari sana dengan gumaman kesal di mulutnya.
"Apa-apaan sih Papa. Kok bahasnya yang begituan. Apa lagi kalau dikasih tips buat taklukin wanita, yang ada aku yang takluk dan nggak berdaya kalau nggak bisa lakuinnya. Bisa gawat dan bisa-bisa dilaporkan pasal pemerkosaan terhadap istri sendiri, kalau Dinda nggak mau ***-***," gumamnya memikirkan masa depannya nanti.
"Duh, gini amat ya nikah, tapi nggak bisa na-ni-nu," ucapnya pelan.
Yoga teringat dengan pesta yang ingin dirayakan oleh sang ayah. Pesta ya? Apa Dinda mau? batin Yoga sambil berjalan meninggalkan pintu ruangan kerja sang ayah.
Denisa sedang berada di pantry saat Yoga kembali dan mengambil minumannya. Gadis itu resah karena sedari tadi Yoga tidak kunjung turun juga setelah tahu dari yang lain jika Yoga dipanggil ke ruangan sang atasan.
"Ga, kamu nggak apa-apa kan? Ada apa di lantai atas? Jangan bilang kalau kamu dikasih surat peringatan sama Pak Heru!" seru Denisa mendekat dan menatap pemuda yang ada di hadapannya itu.
Yoga hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. "Cuma dikasih ceramah aja kok, nggak sampai dikasih surat peringatan," ujar pemuda itu sambil tersenyum meringis, kemudian meneguk minuman yang ada di dalam gelas.
"Syukur deh kalau kamu aman, aku takutnya kamu dikasih surat peringatan atau di pecat," ucap gadis itu lagi.
"Aku nggak apa-apa kok, tadi dipanggil cuma disuruh beresin ruangannya sekalian."
"Iya, kadang Pak Heru memang sedikit seram sih. Dulu pernah ada yang dipecat soalnya karena dia melakukan kesalahan, padahal itu hanya salah paham aja," ujar gadis itu mengenang kejadian satu tahun yang lalu.
"Oh, ya?"
Dia menganggukkan kepalanya.
"Aku mau kerja lagi, nggak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Yoga saat Denisa akan membuka mulutnya untuk melanjutkan ceritanya tadi.
"Oh, iya. Silakan." Kecewa Denisa karena Yoga kini telah pergi, padahal dia berharap sekali bisa berbincang dengan Yogi dan bisa dekat dengan pemuda tampan nan baik itu.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, jam untuk Yogi pulang ke rumah. Biasanya dia bekerja dari jam satu siang sampai jam enam saja, atau jika ada karyawan yang lembur, dia juga ikut pulang bersama dengan karyawan yang lainnya.
"Yogi!" teriak seseorang saat Yogi baru saja akan pergi ke lantai basemen untuk mencari motornya. Dia menoleh dan mendapati Denisa yang masih ada di sana, padahal gadis itu seharusnya pulang di jam lima tadi sore.
"Nisa, kok masih di sini?" tanya Yogi heran.
"Iya, motor aku kayaknya bocor ban-nya. Aku lagi tungguin temen, tapi dari tadi dia belum sampai juga," ucap gadis itu dengan muka yang masam.
"Oh, gitu."
__ADS_1
Denisa menunggu, berharap jika pemuda itu ada hati untuk menawarkan pulang bersama dengannya.
"Ya sudah. Kamu tunggu saja di sini. Mungkin lagi macet di jalan. Maaf, aku buru-buru pulangnya. Duluan ya!" ucap Yogi kemudian pergi ke arah motornya berada dan memakai helm, serta segera pergi dari tempat itu meninggalkan Denisa yang berdecak kesal karena ternyata Yogi meninggalkannya sendirian tanpa menoleh lagi.