
“Permintaan apa?” tanya Dinda takut dan bertanya dengan nada yang sangat pelan sekali, membayangkan sebuah permintaan, apa lagi di malam hari, dan setelah mereka berciuman tadi yang menandakan jika hubungan mereka akan lebih serius membuat Dinda menjadi panas dingin dengan permintaan Yoga nanti malam.
“Aku pengen kamu sambut aku di luar rumah kalau aku pulang, biar kayak suami-suami yang lain, kalau pulang kerja disambut sama istrinya,” ucap Yoga sambil tersenyum malu.
Dinda salah mengira, dia kira permintaan Yoga adalah sesuatu yang akan membuat derit ranjang mereka berbunyi. Dia menepuk kepalanya yang overthinking.
Hah, terlalu banget gue mikirin yang begituan, padahal Yoga aja nggak mikirin itu! Ujar Dinda mengusir pemikirannya yang terlalu berlebihan.
Yoga bingung melihat sang istri yang seperti itu. “Elo kenapa?” tanya Yoga. Dinda tersenyum meringis sambil menggelengkan kepalanya.
“Enggak, nggak ada apa-apa. Cuma lagi—“
Tak!
Tiba-tiba saja Yoga menjentikkan jari tengahnya di kening Dinda sehingga wanita itu meringis kesakitan dan refleks mengusap keningnya yang sakit.
“Auwhh, sakit. Elo apa-apaan sih?” teriak Dinda kesal saat kini merasakan panas di tempat tadi Yoga menjentikkan jarinya.
“Pasti mikirin yang jorok ya?” tunjuk laki-laki itu tepat ke arah wajah Dinda yang langsung memerah tidak sampai sepersekian detik.
“Ng-nggak, kok. Nggak lah, gue mikirin apa juga? Gue cuma ... lapar,” ucap Dinda beralasan. Mana bisa dia memberitahu jika apa yang dikatakan Yoga barusan adalah kenyataannya?
“Oh, syukur deh kalau elo nggak sampai mikirin kayak gitu. Soalnya bahaya kalau gue belum pulang dan elo pengen anu-anu. Nggak ada lawannya.”
Blushhhh.
Wajah Dinda semakin memerah mendengar Yoga mengatakan hal itu. Ucapannya kini semakin tidak terkendali dan membuat kulit leher belakangnya merinding.
“Udah deh ih, kok bicaranya yang ngaco kayak gitu, gue nggak mikirin kayak gitu kok.”
“Terus mikirin apa?” tanya Yoga yang tidak mau kalah, ingin sekali mengetahui pemikiran Dinda tadi.
“Itu ... deh ah, elo berangkat sana. Gue nggak mau nunggu elo. Elo kan pulangnya suka nggak tentu jam-nya. Enakan tidur di kamar,” ucap Dinda sambil berbalik dan melangkah pergi. “Elo ati-ati aja di jalan, jangan ngebut ya,” ucapnya sebelum masuk ke dalam rumah.
Yoga yang melihat tingkah istrinya tertawa terkekeh. Sikap gadis itu semakin menggemaskan saja setiap harinya, meski memang lebih seringnya membuat emosi saja.
Akhirnya Yoga pergi untuk menuju ke perusahaan ayahnya.
“Yoga udah berangkat?” tanya Puspa saat Dinda duduk di tempatnya lagi.
“Iya, sudah, Ma. Barusan berangkat,” ucap Dinda.
“Oh, ayo makan. Mama sudah lapar. Masakan kalian pasti enak ini.”
Mama Puspa juga mengambilkan makanan untuk Dinda. Dinda hanya diam dan menerima makanan yang telah diambilkan ibu mertuanya tersebut.
__ADS_1
“Ma, aku minta maaf ya,” ucap Dinda tiba-tiba saja saat Puspa hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Eh, maaf kenapa?” tanya wanita itu bingung. Melihat Dinda yang hanya menundukkan kepalanya membuat Puspa merasa bingung. “Kamu punya kesalahan apa sampai kamu minta maaf?” tanya wanita itu lagi.
Dinda merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan selama ini kepada Mama Puspa, mengingat wanita ini telah sangat baik kepada dirinya, tapi dia malah berbohong dengan hubungan palsu dengan anaknya.
Aku harus jalani hubungan ini dengan baik, Mama Puspa sudah sangat baik sama aku. Aku nggak boleh kecewakan dia dan Papa Heru, batin Dinda.
“Kenapa, Din?” tanya Puspa sekali lagi. Dinda menggelengkan kepala.
“Nggak apa-apa, Ma. Dinda Cuma belum bisa menjadi istri yang baik buat Yoga dan menantu yang baik buat Mama. Masak aja masih harus diajari sama Yoga,” ucap Dinda sambil tersenyum kecil.
Puspa juga tersenyum dan menambahkan daging ayam yang tadi dimasak ke atas piring milik Dinda. “Nggak apa-apa, toh kalau soal urusan masak kan bisa belajar. Urusan beberes rumah juga kita bisa lakukan sama-sama. Kamu itu menantu, bukan pembantu. Mama cuma pengen kamu jadi orang yang baik buat Yoga. Tidak perlu menjadi orang yang terbaik, karena Mama tau kamu nggak akan bisa seperti itu. Cukup kamu jadi baik untuk Yoga, itu sudah bikin Mama dan Papa senang,” ucap wanita itu sambil mengusap pipi Dinda lembut.
Dinda mendengar ucapan Mama Puspa mengangguk dengan rasa haru, sebaik itu Mama Puspa dan dia masih tega untuk menyakiti hatinya dengan kepura-puraan ini?
“Bisa kan? Kamu jadi orang yang baik kepada Yoga? Jadilah Dinda yang seperti biasanya, yang bisa membuat Yoga tersenyum, yang bisa membuat Yoga selalu bersemangat. Yoga nggak pernah bawa wanita lain ke sini dan mengenalkannya sama Mama maupun Papa, dia juga nggak pernah nyebutin nama wanita lain di hadapan Mama, tapi saat dia cerita soal kamu, soal kebersamaan kalian, dia itu selalu bersemangat sejak dulu.”
Dinda tersentak mendengar cerita Mama Puspa soal itu, dia tidak tahu sama sekali jika Yoga yang banyak pacarnya bahkan belum pernah membawa satu wanita pun untuk diperkenalkan kepada orang tuanya.
“Hah? Beneran dia nggak pernah bawa wanita lain?” tanya Dinda yang tidak tahan untuk bertanya.
Puspa menganggukkan kepalanya. ”Iya, dia nggak pernah bawa orang lain ke sini.” Puspa tersenyum melihat wajah kaget Dinda. “Yoga memang nggak pernah bawa ceweknya ke rumah, meski Mama tau dia banyak pacar di luaran sana, tapi dia tidak sungguh-sungguh dengan mereka,” ucap Mama Puspa lagi. “Ayo cepat makan, Mama sudah lapar.” Mama Puspa menyuapkan makanan yang ada di sendoknya.
**
Kakinya yang panjang melangkah memasuki area perusahaan milik sang ayah. Dia segera pergi ke loker untuk mengganti seragamnya dan menyimpan barang bawaannya.
“Kamu telat, Yoga?” tanya seseorang saat Yoga baru saja masuk ke area pantry untuk mengambil minuman.
Yoga menolehkan kepalanya dan melihat Pak Danu di belakangnya.
“Pak. Iya. Saya terlambat. Saya minta maaf kareana jalanan sangat padat dan macet,” ucap Yoga. Laki-laki bertubuh pendek dengan perut buncit itu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak yang baru bekerja dua bulan di tempatnya ini terlambat lebih dari lima menit lamanya.
“Ckckck, kamu nggak bisa kasih alasan itu. Apa nggak bisa jauh sebelum jam kerja kamu sudah harus ada di kantor, setidaknya lima menit sebelum jam pergantian shift?” tanya Pak Danu sambil menempatkan kedua tangannya di pinggang, matanya melotot besar menatap Yoga dengan marah.
“Iya, Pak. Saya paham, saya minta maaf karena hal ini. Saya nggak akan mengulanginya lagi besok,” ucap Yoga sambil membungkukkan tubuhnya saat berbicara dengan laki-laki itu yang seumuran dengan ayahnya.
"Iya, lebih baik kamu nggak ulangi itu kalau kamu nggak mau dapat surat peringatan.” Danu marah dan kesal, dia berbalik untuk meninggalkan Yoga di sana. Akan tetapi, sebelum membuka pintu pantry, laki-laki itu berbalik dan kembali berbicara. "Kamu harus bersihkan area lobi, juga pastikan semua air minum yang ada di semua lantai di gedung ini. Jangan sampai ada galon yang kosong dan para karyawan kehausan," ucapnya lagi.
"Baik, Pak. Akan saya kerjakan," ucap Yoga sambil menganggukkan kepalanya. Danu pergi dari sana, dan Yoga segera mengambil minuman dari dispenser dan meminumnya dengan rakus.
Pintu ruangan pantry terbuka, seorang gadis muda masuk ke dalam dan mendekati Yoga. Dia juga mengambil air minum untuknya sendiri.
"Kamu baru datang?" tanya gadis muda itu.
__ADS_1
"Iya. Aku harus pergi ke lantai bawah buat bersihin lobi sama ganti galon di semua ruangan," ujar Yoga sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Eh, lobi sudah aku bersihin barusan. Kamu tinggal ganti galon aja sih," ucap Denisa, salah satu karyawan OB yang juga menyukai pemuda tersebut.
"Oh, sudah?"
Denisa menganggukkan kepalanya.
"Makasih, ya. Aku tertolong banget. Maaf sudah merepotkan, Nisa," ucap Yoga. Denisa mengangguk dan tersenyum senang, dia sangat menyukai Yoga. Inginnya menyatakan cinta kepada laki-laki itu, tapi dirinya masih malu dan tidak berani untuk menyampaikannya. Bukan hanya karena pemuda itu tampan, tapi Yoga juga laki-laki yang sopan dan sangat ramah, berbeda dengan teman sesama OB yang bekerja di sana, terlalu berani untuk menggodanya dan mengganggunya, sementara Yoga perhatian kepadanya walau laki-laki itu seringkali cuek.
...*...
Pak Danu berada di lantai yang sama dengan Yoga saat pemuda itu sedang mengangkat galon untuk mengisi dan mengecek semua air minum yang ada di sana. Laki-laki itu tidak peduli bahkan saat melihat Yoga yang berkeringat karena pekerjaan berat tersebut, dia hanya menunjuk dan memerintahkan Yoga ini dan itu, padahal pekerjaan yang sedang dia pegang saja belum selesai sama sekali.
Bertepatan dengan itu Heru melewati Yoga bersama dengan salah seorang bawahannya.
"Selamat siang, Pak." Danu menyapa Heru yang baru saja kembali ke perusahaan.
"Siang," jawab Heru tanpa menghentikan langkah kakinya.
Heru melihat sang putra yang wajahnya sudah memerah, sedari dia masuk ke dalam area kantor, dia melihat pemandangan yang tidak enak dilihat oleh matanya. Dia memerintahkan bawahannya itu untuk pergi terlebih dahulu.
"Kamu," panggil Heru sambil menunjuk kepada Yoga yang sedang mengangkat dua galon sekaligus di bahunya. Yoga yang akan pergi ke ruangan lain menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah.
"Iya, Pak? Saya?" tanya Yoga.
"Kamu terlambat datang? Tadi rasanya saya tidak lihat kamu di sini," ucap Heru. Danu yang mendengar atasannya berbicara segera mendekat dan membenarkan ucapan heru barusan.
"Iya, Pak. Maafkan atas kesalahan bawahan saya. Lain kali tidak akan terjadi lagi," ucap laki-laki itu sambil berbicara dan menundukkan kepalanya. Dia semakin menunduk dan tidak berani berbicara saat mendapati tatapan tajam dari atasannya itu.
"Turunkan galonnya, ikut ke kantor saya. Kamu gantikan dia isi dan ganti semua galon yang kosong," titah Heru kepada Danu.
"Baik, Pak." Tidak ada yang bisa Danu lakukan lagi selain menuruti perkataan sang atasan. Heru pergi dari sana dengan cepat ke arah lift, sementara Yoga segera menurunkan dua galon itu hati-hati dan membantu mengangkat galon tersebut di bahu Danu.
"Maaf ya, Pak. Terima kasih. Saya ke kantor Pak Heru dulu." Yoga tersenyum puas melihat wajah Danu yang kewalahan, kemudian dia pergi menyusul sang ayah yang telah menunggu lift terbuka.
"Huh, kurang ajar! Kalau aja nggak ada Pak Heru, aku nggak harus kerjain ini!" gumam Danu kesal.
Pintu lift terbuka, Heru dan Yoga segera masuk ke dalam kotak besi tersebut dan membawa mereka naik ke lantai atas di mana kantor Heru berada.
"Apa kamu nggak bisa nolak perintah dia?" tanya Heru dengan nada dinginnya.
"Hah, Papa coba saja jadi OB juga. Asal Papa tau, di perusahaan ini masih berlaku senioritas," ujar Yoga. Heru bisa menatap raut wajah kekesalan dari sang putra dari ucapannya ini.
"Harusnya kamu tolak kalau pekerjaan itu terlalu berat buat kamu. Bahu kamu bisa patah kalau mengganti semua galon yang ada di sini," ujar Heru.
__ADS_1
"Hhh. Papa nggak pernah ngerasain yang kayak begini sebelumnya, makanya Papa bisa bilang kayak gitu. Mereka nggak akan lepasin anak magang yang ngelawan mereka," ujar Yoga. Heru terdiam, memang dirinya tidak banyak tahu tentang hal yang seperti ini ada di perusahaannya. Dia memang pimpinan dari perusahaan ini, tapi dia tidak bisa memperhatikan semuanya sendirian. Semua ada bagiannya yang memantau pekerjaan bawahannya masing-masing.
"Udah lah, aku nggak apa-apa. Tapi lihat saja mereka yang sudah bikin aku repot, aku akan bikin mereka kapok nantinya!" gumam Yoga yang jelas bisa terdengar oleh sang ayah.