
Dinda masuk ke dalam rumah, kembali duduk dengan tenang di sofa dan memainkan hp-nya. Dia masih merasa sebal dengan kehadiran Ratu yang menyempatkan dirinya datang tadi. Game yang ada di tangan dia perbesar volume-nya hingga suaranya cukup terdengar ke arah kamar Puspa.
Dari arah tangga, tiba-tiba saja Yoga yang sudah selesai mandi mendekat pada Dinda dan duduk di samping gadis itu, masih menggosokkan kepalanya yang basah dengan handuk kecil.
"Temen lo udah pulang?" tanya Yoga, mengambil teh yang masih utuh milik ibunya kemudian meminumnya dengan tenang.
"Hem, yang elo lihat gimana? Ada nggak?" ujar Dinda sebal.
"Nggak ada, ya kali aja dia tuh bunglon, ngilng, terus nanti kelihatan lagi," ujar Yoga. "Dia tuh mau apa juga datang ke sini?" gumamnya pelan.
"Buat gecengin elo lah. Buat apa lagi?" jawab Dinda asal.
"Heh, ngecengin gue? Maaf ya, bukan tipe gue. Terlalu tipis, sebelas dua belas sama elo," ujar Yoga. Dinda mendelik sebal, sudah hari ini kedatangan Ratu, sekarang malah dibandingkan dengan orang itu! Ingin rasanya dia menyanyikan lagu 'Ojo Dibandingke' di depan Yoga.
"Nggak ya, gue tuh lebih unggul dari dia, seenggaknya dada gue masih berisi, satu nomor lebih gede dari dia!" ujar Dinda.
__ADS_1
Yoga melihat game yang Dinda mainkan, masih saja levelnya jauh di bawahnya sehingga dia merasa gregetan ingin membantu Dinda bermain dan menaikkan levelnya.
"Minggir lo, ini mainan gue. Jangan ikut campur!" ujar Dinda kesal.
"Itu, gue mau bantuin biar elo bisa naik ke level Master. Masa dari kemarin Elite terus. Mana bintang sering berkurang pula!" ujar Yoga dengan tangan yang gatal hendak merebut hp milik Dinda. Akan tetapi, Dinda menepis kasar tangan Yoga dan melarangnya untuk ikut campur dengan permainannya.
"Nggak apa-apa Elit juga, yang penting gue nggak Warior lagi!" ujar Dinda kesal.
Saat kedua orang itu berebut Hp, Puspa keluar dari kamarnya dan melihat sudah tidak ada Ratu di sana. Puspa segera duduk di depan kedua anak-anaknya. "Ratu sudah pulang?" tanya Puspa sama seperti Yoga tadi.
"Aww, sakit!"
"Lagian elo juga. Mama, lihat Yoga tuh! Masa mau rebut hp aku!" teriak Dinda dengan keras, dia tidak ragu seperti itu karena sudah biasa di hadapan Mama Puspa.
"Yoga! Bisa diam nggak sih? Kamu juga ada hp sendiri kok main rebut punya Dinda?" tegur Puspa dengan suara yang masih pelan, kekuatannya belum sepenuhnya kembali seperti saat sebelum masuk ke rumah sakit waktu itu.
__ADS_1
"Gregetan, Ma. Masa main gitu aja nggak bisa-bisa."
"Heh, siapa tuh tadi itu? Kenapa kamu sembarangan bawa anak orang datang ke rumah sakit?"
"Apa?" tanya Yoga atas pertanyaan sang ibu.
"Ratu. Siapa lagi yang kamu bawa ke rumah sakit tadi?" ujar Puspa mengulangi dan menyebut namanya dengan sangat jelas. Mama Puspa merasa kesal karena dengan sembarangan anaknya membawa Ratu datang.
"Eh, aku--"
"Mama nggak suka ya kamu deket dengan orang lain. Ingat Yoga, sekarang ini kan kamu udah jadi suami Dinda. Meski kemarin kamu bilang sama Mama buat nggak kasih tau teman-teman yang lain soal pernikahan kalian, tapi Mama nggak mau ya kamu sembarangan dekat dengan gadis lain. Ratu itu kalau Mama lihat kok kayaknya lagi deketin kamu. Awas kamu, jangan kegatelan deket-deket sama dia. Mama nggak suka. Dia penuh kepalsuan!" ujar Mama Puspa sambil menunjuk ke arah wajah Yoga.
Yoga melihat sang ibu yang berbicara dengan nada marah.
"Iya, lagian juga aku kan nggak deket sama dia. Dia aja yang nempel-nempel sama aku. Pengen ikut segala ke rumah sakit. Aku kan orangnya setia. Apalagi sama istriku yang cantik dan imut ini!" ujar Yoga sambil menjepit dagu Dinda dan mencium pipi gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
Dinda yang mendapatkan ciuman dari Yoga membeku. Dadanya berdebar dengan cukup kencang dengan apa yang pemuda itu lakukan.