Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
40. Galih: Tunggu Aku Pulang. Kita Menikah


__ADS_3

Suasana hari ini sangat panas sekali, Dinda sesekali mengusap keningnya yang basah karena keringat. Dia sedari tadi memikirkan minum es campur atau apa pun yang bisa membuat tenggorokannya segar. Akan sangat lebih baik jika membeli makanan pedas berbumbu kacang, entah itu batagor atau siomay. Tidak ada keduanya, cilok pun jadi lah.


"Gue duluan ya." Ratu melambaikan tangannya, berpisah seperti biasanya dengan Dinda saat sampai di parkiran.


"Elo nggak nungguin Yoga?" tanya DInda menyelidik, tidak biasanya Ratu pulang tanpa melihat Yoga dan itu sudah terjadi beberapa hari ini.


"Nggak ah, gue lagi males sama dia."


"Loh, kok? Kenapa?" tanya Dinda bingung.


"Kemarin, waktu di pesta kan gue ngomong sama dia, kalau gue pengan deket gitu, tapi dia nolak. Katanya dia udah punya gebetan. Si Maya kali ya? Secara kan waktu di pesta mereka akrab banget tuh," ujar Ratu sedikit kesal.


"Kan memang mereka sudah akrab semenjak lama," ujar Dinda.


"Iya, sih. Tapi kan nyebelin banget, Din. Gue udah lama banget suka sama dia, waktu ada kesempatan buat deket, eh malah ada yang lain. Kan kesel jadinya. Udah ah, gue lagi pengen menenangkan diri lagi. Nggak mau ketemu dia dulu," ucap Ratu kembali melambaikan tangannya lagi kepada Dinda.


"Oh, gitu ya. Ya udah deh. Ati-ati di jalan, deh." Dinda balas melambai.


"Iya." Ratu masuk ke dalam mobilnya dan sekali lagi melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Mobil berwarna kuning ngejreng yang dia naiki kemudian pergi dari hadapan Dinda. Dinda kemudian menghampiri motor Yoga yang entah berada di mana pemiliknya itu.


"Kok tumben belum datang. Biasanya dia nungguin di sini," ucap Dinda sambil menyandarkan tubuhnya pada motor.


Hampir setengah jam dia menunggu, tapi Yoga belum muncul juga sehingga Dinda memutuskan untuk menghubungi Yoga. Namun, panggilan itu tidak diangkat oleh pemuda itu.


"Ish, kemana lagi dia. Telepon aku kok nggak diangkat?" gumamnya kesal.


"Dinda, lagi nunggu Yoga?" tanya seseorang yang baru saja sampai di parkiran.


"Iya, Kak. Lagi nunggu Yoga."


"Aku antar aja, atau kamu mau nunggu dia?" tanya Galih sambil membawa helm-nya.

__ADS_1


Dinda berpikir sejenak.


"Aku juga pengen ngobrol sama kamu sih."


"Eh, ngobrol apa? Di sini saja," ujar Dinda.


Galih tersenyum kecut. Akan lebih baik jika Dinda mau dibawa ke kafe atau sejenisnya.


"Di tempat lain nggak bisa ya?" tanya Galih.


Dinda menjadi bingung sendiri, akhirnya dia mengangguk saja karena merasa tidak enak hati terhadap Galih.


"Ya udah, sebentar aja ya."


Galih tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya. "Iya, kalau gitu ayo ikut aku bentar." Dinda naik ke atas motor Galih dan segera pemuda berkaca mata itu melajukan motornya ke luar dari area kampus.


"Pegangan yang kenceng!" teriak Galih saat mereka keluar dari gerbang kampus.


Sementara itu, Yoga berlari sambil menatap jam yang ada di tangannya. Dia terlambat untuk menunggu Dinda. Tadi, saat akan keluar dari kelas, Maya datang dan memintanya untuk menerangkan materi yang tadi dibahas di kelas. Maya masih belum mengerti dengan materi itu yang akan dipergunakan di tugas minggu depan. Yoga menolak, tapi Maya memaksa hingga akhirnya Yoga menyetujui untuk menerangkan sedikit kepada Maya. Namun, saat akan sampai ke parkiran, ternyata dia melihat Galih yang sudah membawa Dinda di atas motornya.


Napas Yoga terengah-engah, terlambat untuk menemui Dinda. Kini Dinda sudah pergi menjauh.


...***...


"Kamu mau pesan apa?" tanya Galih saat dia dan Dinda sudah sampai di kafe yang berada tidak jauh dari kampus mereka.


"Eh, aku nggak usah deh. Katanya mau ngomong. Ngomong apaan?" tanya Dinda langsung. Galih tampak bersemu wajahnya. Seorang pelayan kafe menunggu sebentar, Galih memesankan minuman dan cemilan yang dijual di sana.


"Mau minuman apa?" tanya Galih sekali lagi.


"Eh, nggak usah, Kak. Aku nggak deh."

__ADS_1


"Loh kok enggak? Aku nggak enak dong kalau sampai kamu nggak pesan apa-apa," ucap Galih.


"Ya udah, terserah deh."


Galih menganggukkan kepalanya dan memesan es kopi untuk mereka berdua. Pelayan itu pergi setelah menerima pesanan.


"Jadi, Kak Galih mau ngomong apa sih?"


Hati Dinda menjadi tidak karuan. Dia takut jika wajahnya berubah aneh, tapi untunglah suasana di kafe tersebut masih sepi.


"Itu, kemarin waktu pesta aku, kamu pulang duluan ya?" tanya Galih sedikit kecewa nadanya.


"Oh, iya. Aku pengen pamit, tapi Kakak lagi sibuk dengan yang lain. Maaf ya."


"Nggak apa-apa. Maaf aku juga salah, sudah biarin kamu sendiri," ujar Galih tidak enak hati.


"Nggak apa-apa."


"Din, sebenarnya aku pengen bilang sama kamu sesuatu. Soal yang waktu itu. Aku belum ngenalin kamu sama kedua orang tuaku. Kalau misal minggu ini kamu nggak ada acara, mau nggak kamu datang ke rumah?"


"Hah, buat apa?" tanya Dinda.


"Mau aku kenalin kamu ke orang tuaku sebagai pacar." Galih tiba-tiba saja memegang tangan Dinda yang ada di atas meja dan menggenggamnya dengan erat.


"Sebentar lagi aku kan lulus, aku juga sudah punya rencana ke depannya mau gimana. Maaf kalau selama ini aku sudah bikin kamu nungguin. Sebelum aku lanjut kuliah S2 nanti, kamu mau kan aku bawa ketemu sama kedua orang tuaku dan aku kenalin kamu sebagai pacar aku?"


Galih menatap Dinda dengan tatapan memohon, sementara itu jantung Dinda berdetak kencang mendengar permintaan Galih.


"Oh, aku minta maaf karena selama ini aku belum pernah nembak kamu, dulu aku masih berpikir apakah ke depannya nanti aku akan jadi orang yang bisa kamu banggakan. Maka dari itu aku belum berani nembak kamu seperti ini, tapi kali ini aku mau bilang bener-bener sama kamu, Din. Sebelum aku pergi ke luar negeri untuk selesaikan jenjang S2-ku, aku pengen minta sama kamu untuk jadi pacar aku. Kalau perlu aku akan lamar kamu sekarang. Kamu mau kan? Nunggu aku pulang nanti? Setelah aku lulus, aku akan pulang dan langsung nikahin kamu."


Pikiran Dinda kosong sekarang, jelas ini adalah sesuatu yang membahagiakan untuknya. Jantungnya berpacu dengan sangat kencang sekali mendengar dan mendapatkan perlakuan dari Galang. Hal yang dia tunggu sedari dulu untuk kata-kata ini.

__ADS_1


__ADS_2