Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
58. Berakhirnya Hari Menyenangkan


__ADS_3

Suara dering telepon terdengar hingga membuat Dinda terbangun dari tidurnya. Matahari sudah tinggi di luar, Dinda tidak tahu jam berapa sekarang, tidak ada jam di dinding kamar penginapan tersebut.


Suara itu masih terdengar, Dinda menggapaikan tangannya dan mencari ponselnya yang ada di atas nakas.


"Mama?"


Dinda terkejut sehingga terbangun dan membuat Yoga membuka mata.


"Ada apa?" tanya Yoga bingung.


"Mama telepon. Bagaimana ini?" tanya Dinda yang juga bingung.


"Ya elah, tinggal angkat aja kali. Kenapa kayak gitu mukanya?" tatap mata malas Yoga pada wanit itu.


"Anu ... ini mama yang telepon, kita kan belum pulang semalaman."


Melihat Dinda yang tampak kaku dan kebingungan, Yoga merebut hp milik Dinda dan mengangkat panggilan itu.


"Kalian di mana?" teriak suara Mama Puspa terdengar melengking dan menyakitkan telinga Yoga. "Mama dari semalam hubungin kalian, tapi kalian nggak ada yang ngangkat telepon. Kalian bikin Mama khawatir aja tau, nggak?" Mama Puspa mengomel dengan kalimat yang panjang lebar.

__ADS_1


"Mama, ini masih pagi. Ngapain juga udah ngomel-ngomel?"


"Mama itu khawatir, Yoga! Mana Dinda? Kalian ada di mana semalaman nggak pulang?" tanya wanita itu lagi ingin tahu.


"Ada, Dinda ada di samping aku. Maaf kita semalam terjebak hujan dan nggak bisa pulang. Jadi, kita bermalam di penginapan. Mama tenang aja, kita lagi sibuk sedari kemarin bikin cucu buat kalian."


"Yoga!" teriak Dinda memukul lengan Yoga. Dia sudah merangkai kata sebaik mungkin agar tidak membuat ibu mertuanya khawatir, tapi ternyata Yoga mala berkata hal memalukan seperti itu.


"Ih, kenapa? Aduh, sakit!" rintih Yoga sambil tertawa geli, terutama karena melihat wajah Dinda yang merah dan kesal. Tubuh wanita itu polos dengan beberapa corak merah di lehernya.


"Oh, kalian lagi bersenang-senang ya? Kalau gitu kalian lanjutkan saja lagi. Harusnya kalian kabari Mama, jadi Mama nggak khawatir. Mama sampai nggak bisa tidur karena nunggu kalian pulang. Ya sudah, Mama nggak mau ganggu lagi. Jangan lupa saat pulang nanti bawa kabar yang baik buat kami!"


"Nggak, ya! Ini aja masih sakit. Yang bener aja, Ga!" Dinda marah.


"Bener kok. Kamu dengar sendiri kan tadi Mama bilang apa? Pulang nanti bawa kabar baik." Yoga terus mendekat dengan wajah yang tersenyum garang.


"Nggak mauuuu!" Dinda berteriak dan berlari mengabaikan rasa sakit di inti tubuhnya. Pintu kamar mandi dia tutup dengan keras dan membuat Yoga terkekeh pelan.


"Ish, padahal kan enak. Kok nggak mau," ucapnya sambil tertawa dan menatap pintu kamar mandi yang tertutup.

__ADS_1


Menjelang siang, mereka sudah bersiap untuk cek out dari penginapan itu. Yoga menyempatkan diri pergi ke toko yang ada di dekat penginapan dengan mengenakan pakaiannya yang masih setengah basah. Terpaksa dia lakukan untuk mencari pakaian baru untuk Dinda.


"Sudah nggak sakit lagi?" tanya Yoga dan mendapatkan anggukkan kepala dari sang istri. "Padahal aku ngarep kita msih bisa satu malam lagi loh di sini," tambah Yoga dengan muka yang merengut menyedihkan. Tangannya memeluk tubuh Dinda, tapi segera Dinda hempaskan tangan itu dari tubuhnya.


"Nggak, ya. Mama khawatir di sana nunggu kita pulang. Lagian kalau di sini terus juga bahaya. Kamu pasti mau lagi dan lagi kan?" Tebak Dinda marah, semenjak semalam mereka sudah melakukannya tiga kali, sampai tadi pun saat Dinda mandi, Yoga masuk ke kamar mandi dan lagi-lagi mereka melakukannya di bawah guyuran air shower.


"Hehe, soalnya kamu enak sih. Bener kata yang lain kalau ternyata main enak-enak itu ternyata memang enak. Memangnya kamu nggak rasain kalau itu enak?" tanya Yoga membuat Dinda merasa malu.


"Yoga ih, kok bahas yang begituan. Ayo ah kita pulang. Udah siang ini." ajak Dinda menarik tangan Yoga.


"Idh, padahal aku masih pengen lagi." Bibir Yoga cemberut saat Dinda lagi-lagi menarik tangannya untuk pergi dari sana. "Nanti malam lagi ya?" Yoga masih belum mau menyerah.


Melihat suaminya yang tidak mau beranjak dari sana akhirnya Dinda memberi jawaban, "Iya."


"Asyiiik!" Yoga bangkit dan melompat kegirangan bak anak kecil yang sudah dijanjikan membeli mainan.


Dua orang itu keluar dari sana setelah menyelesaikan pembayaran menginap semalam.


"Ah, harusnya hujan jangan berhenti saja," gumam Yoga pelan saat Dinda menaiki motornya.

__ADS_1


Hari yang menyenangkan harus berakhir dengan perasaan tidak rela dari pemuda tersebut.


__ADS_2