Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
9. Hujan Kala Itu


__ADS_3

Kesal rasanya mendengar jasuke yang ingin dia makan telah habis, penjualnya pun mulai pergi meninggalkan tempat itu.


"Sayang banget dah habis. Padahal ini enak banget," ucap Dinda sedih. Kesal, sebal, nyesek deh rasanya di dalam hati.


Yoga tak tahan melihat wajah sedih itu, tapi itu lucu.


"Pftt!"


Dinda melirik Yoga yang menutup mulutnya dengan satu tangan, matanya menyipit saat tertawa kecil seperti itu.


"Sudah, nanti gue bikinin yang spesial di rumah."


"Emang lo bisa bikin jasuke?" tanya Dinda masih sebal.


"Gampang. Kan sekarang tingggal cari di YouTube. Semua resep ada di sana. Yuk, lanjutkan perjalanan. Nanti keburu malam, takut hujan juga," ujar Yoga melihat langit yang ternyata tak lagi memperlihatkan bintang di kejauhan sana.


"Ya."


Motor membawa Yoga dan Dinda kembali melaju di jalanan yang padat merayap. Mereka menikmati angin yang bersemilir meskipun terasa panas di malam ini. Tak sedingin malam saat cerah.


Derai hujan turun dengan perlahan, menjadi gerimis yang cukup pekat. Yoga benci saat membawa motor di kala hujan. Baginya ini sangat tidak menyenangkan sama sekali, apalagi dia membawa Dinda di belakangnya.


"Din, hujan! Kita menepi sebentar ya!" ujar Yoga.


"Iya!" teriak Dinda. Yoga menepikan motornya di sebuah pelataran toko yang telah tutup, bersamaan dengan pengendara-pengendara lain yang juga meneduh di sana.


Dinda mendahului berlari ke pelataran toko meninggalkan Yoga yang sedang memarkirkan motornya. Hujan semakin deras, membuat perjalanan mereka terganggu.


"Yah, hujan!" seru Dinda, kemudian membuka helm-nya. Rencana makan enak harus tertunda karena ini. Hujan yang kecil kini berubah semakin deras, menciptakan percikan air saat mengenai tanah. Aroma tanah yang kering tercium dengan sangat jelas di hidung.


"Ya, mau gimana lagi? Tunggu reda ya. Masa mau hujan-hujanan!" ujar Yoga masih kesal.


"Elo sih, kalau disuruh bawa jas hujan tuh susah banget. Kan jadi susah sekarang, pulang aja nggak bisa!" rutuk Dinda.

__ADS_1


"Bawa kok jas hujan, tapi kan cuma satu aja. Nanti deh kita pulang setelah hujan agak reda ya."


"Hem!"


Dinda akhirnya duduk di lantai. Celananya sedikit basah akibat kehujanan tadi. Dingin.


"Nih!" ucap Yoga seraya menyerahkan jaketnya saat melihat Dinda menggosok-gosok kedua telapak tangannya.


"Eh?"


"Pake ini. Elo nggak pake jaket." Sesaat Dinda terpana mendengar perhatian dari Yoga. Dia mengulurkan tangannya meraih jaket itu. "Nanti kalau masuk angin gue juga yang repot harus urusin elo? Elo kan manja kalau sakit!" ujar laki-laki itu, membuat Dinda sebal mendengarnya. Dengan cepat, jaket yang terulur padanya dia rebut.


Ish, nih laki, udah bikin baper malah endingnya nyesek. Awas aja Lo! gumam Dinda di dalam hatinya, tapi tak ayal dia memakai jaket itu untuk menutupi punggungnya yang kedinginan.


"Elo gimana?" tanya Dinda menatap Yoga yang berdiri sambil memainkan hp-nya.


"Nggak masalah. Kulit gue kan tebel. Nggak kayak elo, kulit ari," ujar pemuda itu santai. Dinda tersenyum senang, rasa hangat di dalam hatinya. Yoga memang pemuda yang baik, meski sering kali dia itu nyeleneh, nyebelin, arogan, kadang tidak peduli. Akan tetapi, tidak dipungkiri jika pemuda tersebut selalu ada di saat dia membutuhkannya.


Orang yang berteduh di sana semakin banyak saja, membuat Dinda tersudut ke tepi teras. Hawa dingin merasuki tubuhnya meski dia memakai jaket milik Yoga, tapi jaket itu tidak bisa menutupi hawa dingin yang diakibatkan oleh hujan yang entah sampai kapan akan reda.


Sadar dengan cipratan air yang mengenai Dinda, Yoga beralih ke sebelah kiri sang istri dan bersandar pada tembok. Air yang terciprat kini tak lagi mengenai Dinda, tapi mengenai Yoga.


Selama hampir satu jam mereka menunggu, tapi hujan belum juga reda. Dinda sudah lapar, juga semakin kedinginan. Ingin rasanya memakan martabak yang tadi telah dibeli, tapi posisinya yang tersudut dan penuh sesak dengan orang membuat dia tidak bisa banyak bergerak.


"Din, kita pulang aja, yuk. Kayaknya hujan juga nggak akan reda deh," ajak Yoga.


Dinda melihat ke langit yang gelap, hujan memang sangat besar sekali dan juga dia tidak tahu kapan hujan akan berhenti, sementara malam sudah semakin larut.


"Kan elo cuma bawa jas hujan satu," ujar Dinda.


"Elo aja yang pake. Kalau nggak nekat pulang, mau sampai kapan kita ada di sini? Emangnya elo mau nginep di sini? Kalau gue sih ogah!" ujar Yoga. "Ayo!"


"Tapi---"

__ADS_1


Belum selesai Dinda berbicara, Yoga sudah menarik tangan gadis itu untuk berdiri. Dinda refleks mengambil helm yang ada di sampingnya.


Yoga berlari kecil menuju motornya dan segera kembali ke hadapan Dinda.


"Ini elo pake ya." Yoga memakaikan jaket itu pada Dinda dan juga jas hujan.


"Terus elo?"


"Nggak perlu khawatir. Udah gue bilang, kulit gue ini tebel. Nggak akan masalah kalau kehujanan sebentar," ucap Yoga sambil tersenyum lebar.


"Kalau gitu elo pake jaketnya ya," pinta Dinda. Dia segera membuka jaket milik Yoga tadi dan memberikannya kepada pemuda itu. "Gue juga nggak mau repot ngurus bayi sakit!"


"Cih, nggak akan sakit. Tapi kalau sakit juga kan setidaknya ada istri gue yang tercinta yang urus gue."


Dinda tersipu malu mendengar ucapan itu. Aneh.


Nekat. Itu lah yang Yoga pikirkan. Dia tidak mau melihat Dinda kedinginan lebih lama di sana. Dia juga tahu jika Dinda kelaparan, dan dia tidak mau Dinda sakit gara-gara terlalu lama di luaran di saat malam hujan seperti ini.


"Elo yakin, Ga?" tanya Dinda sebelum menembus hujan untuk menuju motor Yoga.


"Daripada di sini nggak tau sampai kapan. Mending kehujanan sebentar, tapi sampai rumah bisa hangat kan?" ucap Yoga sambil tersenyum lebar.


Dinda setuju dengan hal itu dan menganggukkan kepalanya.


"Eh, elo mau jadi cari cilok dan boba?" tanya Yoga teringat dengan makanan yang tadi Dinda sebutkan. Akan tetapi, Dinda menggelengkan kepalanya.


"Nggak deh. Pulang aja. Kayaknya ini martabak juga sudah dingin deh." Senyum Dinda seraya menggelengkan kepalanya.


"Oke. Sebentar, gue harus pastikan kalau elo sudah aman," ucap Yoga. Helm dia pasangkan di kepala Dinda dan memastikannya terkunci dengan baik. "Sorry, ya. Harusnya gue dengerin elo buat pake mobil mama. Jadi aja kita kehujanan di sini," ucap Yoga menyesal. Dia sadar jika dirinya masih saja egois, padahal dia sekarang ini sudah memiliki seorang istri.


"Nggak apa-apa, sekali-sekali kita main hujan-hujanan. Udah lama kan kita nggak naik motor sambil hujan gini?" ucap Dinda mengenang masa lalu. Pulang sekolah bersama dengan Yoga di dalam hujan lebat kala itu, membuat keduanya dimarahi oleh Irma dan Puspa.


Harusnya kalian meneduh dulu. Kenapa malah hujan-hujanan? Sebentar lagi kan ujian, kalau Dinda sampai sakit gimana? Kamu ini, gimana mau punya pacar kalau jaga sahabat sendiri aja nggak bisa?

__ADS_1


Yoga tersenyum kala mengingat itu. Sang ibu mengomel habis-habisan setelah melihatnya membonceng Dinda dalam keadaan basah kuyup.


"Ayo. Kita pulang ke rumah!"


__ADS_2