
Udara semakin dingin saat pagi hari Dinda terbangun dari tidurnya. Dia melirik Yoga yang sedang tertidur dengan lelap. Dadanya yang bidang menggoda sekali untuknya dan semakin dia merebahkan kepalanya di sana. Hangat, dengan detak jantung yang berdetak pelan dan teratur terdengar di telinga Dinda.
Tangan Dinda menelusuri perut Yoga, ke bawah terus sehingga sampai di area yang terlihat menyembul di balik selimut.
"Mau apa kamu?" Yoga menahan tangan Dinda. Dia sudah terbangun saat merasakan geli akibat tangan Dinda yang bermain di permukaan perutnya.
"Eh, a-- nggak. Nggak mau apa-apa. Akh!" seru Dinda saat Yoga dengan sengaja mendorong tubuhnya sehingga lagi-lagi di bawah kuasa Yoga.
"Sudah siap, Sayang?"
"Eh, siap apa?"
"Siap bertempur lah."
"Ah, anu ... aku--. Ah ...." Dinda tidak tahan menahan suara di bibirnya, dia mend3sah dengan pelan saat Yoga meraup pucuk di dadanya dengan mulut dan bak anak bayi kehausan. Mata Dinda melotot, kemudian terpejam merasakan desir aneh dari apa yang Yoga lakukan.
Bukan hanya sekedar bermain di dua gundukan kenyal saja, Yoga perlahan turun dan semakin turun ke bawah hingga kepalanya kini sudah tidak terlihat lagi karena tertutup selimut.
"Yoga! Auhhh ...."
Tubuh Dinda melengkung ke atas, tangannya merem4s seprai sehingga kusut. Bukan dia tidak tahu apa yang Yoga lakukan, tapi dia tidak tahan dengan perlakuan suaminya itu yang membuat dadanya hampir meledak.
Tangan Dinda meraih kepala Yoga, mendorong untuk Yoga menjauh dan menghentikan perbuatannya yang membuat Dinda panas dingin. Akan tetapi, Yoga mengambil tangan Dinda dan menahannya di kedua sisi tubuh Dinda.
“Auhh ... Yoga!” Suara Dinda tak tertahankan lagi. Geli enak terasa di bawah sana sehingga terasa seperti ingin meledak.
“Yoga, aku mau ke ... pipis.”
Yoga tidak mendengarkan, dia semakin gencar melakukan aksinya menikmati makanan pagi buta di bawah sana.
“Yoga!” teriak Dinda tidak tahan, dia ingin marah, tapi ledakan yang terjadi membuat dia terengah sendiri dan lelah.
Yoga menyembul keluar dari balik selimut dengan senyuman puas di bibirnya, menatap sang istri dengan wajah yang kini sudah memerah dan terengah-engah. Tubuh Dinda sedikit basah oleh keringat.
__ADS_1
“Aku pipis. Kamu nakal!” ucap Dinda sebal. Dia ingin pergi ke kamar mandi, tapi saat dia hendak bangun, Yoga menubruk tubuhnya dan memagut bibir Dinda dan melum4tnya rakus.
“Eeumhhh ....” Suara decak dari pautan bibir mereka terdengar dengan sangat jelas di ruangan itu, Yoga mengangkat kedua tangan Dinda ke atas, mengunci pergelangan tangan istrinya sehingga Dinda tidak bisa melakukan apa-apa. Dinda sudah lelah, dan dia sudah tidak memiliki kekuatan bahkan untuk hanya berbicara.
“Eughhhh!!!”
Sesuatu melesak di bawah sana. Dinda memejamkan matanya menahan sakit, menggigit bibirnya agar tidak berteriak. Yoga membekap mulut Dinda dengan mulutnya, sementara satu tangan yang lain masih mencoba untuk melesakkan miliknya ke dalam sana dengan gerakan naik dan turun.
Dinda menahan kesakitan itu, dia sudah pasrah sekarang ini menyerahkan dirinya kepada sang suami.
“Akhh!!!” teriak Dinda akhirnya. Dinda tidak kuat, mengangkat kepalanya dan menggigit bahu Yoga untuk meredam suara saat sesuatu membuatnya sakit sekali di dalam sana.
“Eughhh!” Yoga juga bersuara, saat akhirnya dia bisa menjebol penghalang yang sudah hampir satu jam lalu dia hajar.
Bahunya masih Dinda gigit, tapi Yoga tidak keberatan sama sekali dan membiarkan rasa perih itu, tidak sebanding dengan apa yang Dinda rasakan saat ini.
Yoga bergerak dengan perlahan, menggerakkan pinggulnya naik dan turun sampai ketika Dinda melepaskan gigitannya dari bahu Yoga. Perih, sakit, rasanya Dinda tidak ingin lagi merasakan hal seperti ini. Namun, setelah beberapa menit Yoga bergerak, Dinda bisa merasakan hal yang lebih baik meski rasanya masih perih. Perlahan dia bisa menikmati permainan mereka hingga akhirnya permainan berakhir dengan sebuah ledakan dan lahar panas yang membuat Dinda kembali melengkungkan tubuhnya ke atas.
“Terima kasih, Sayangku. Kamu pasti capek. Tidurlah sekarang.” Sebuah ciuman diberikan Yoga di bibir tipis istrinya. Peluh membasah di kening Dinda, dia usap dengan telapak tangan.
“Kamu butuh bantuan? Kenapa nggak bilang?”
“Akh! Yoga!” teriak Dinda saat Yoga ada di dekatnya dan menggendong dirinya ke kamar mandi. Yoga hanya tertawa terkekeh dan tidak peduli dengan teriakan istrinya itu.
“Sudah, kamu keluar. Aku mau bersih-bersih!” titah Dinda, tapi laki-laki itu malah membuka tutup toilet dan dengan santai air mengucur ke lubang toilet itu.
“Yoga, jorok ih!”
Dinda langsung menutup kedua matanya. Sedangkan Yoga tertawa keras mendengar protes dari istrinya itu.
“Ya elah, Din. Segitu juga udah rasain pipis bareng sampai enak—“
“Itu beda, Yoga!” teriak gadis itu kembali.
__ADS_1
“Cepet keluar ya, Sayang. Biar kita bisa satu ronde lagi hari ini.”
Alis Yoga naik dan turun menggoda istrinya.
Brak!
Pintu dibanting oleh Dinda. Sebal sekali rasanya, Yoga dengan santai buang air di hadapannya.
“Astaga! Yoga ini.”
Baru saja Dinda akan keluar dari kamar mandi, dia mencari keberadaan pakaiannya, tapi pakaian itu masih dingin di tempat gantungan. Begitu juga dengan pakaian Yoga.
“Aku mau keluar pake apa?” gumam wanita itu, dia melupakan selimutnya tadi dan rasanya tidak mungkin juga jika keluar tanpa pakaian. “Ah, pake lupa lagi tadi nggak pake selimut!”
“Yoga” panggil Dinda saat Yoga berbaring di atas kasur. Yoga melirik istrinya yang hanya terlihat kepalanya saja, tubuhnya tertutup pintu kamar mandi.
“Iya, Sayang?” jawab Yoga lembut.
“Anu ... itu aku lupa bawa selimut, bisa kamu bawakan buat aku?”
“Selimut buat apa? Nggak usah kali, Yang. Lagian di sini juga Cuma ada aku aja.”
Dinda kesal. “Yoga. Aku malu. Cepet bawain selimut atau handuk.”
“Iya. Bawel. Padahal tadi aja ke kamar mandi juga polos kayak bayi,” gumam Yoga akhirnya mengakhiri posisi nyamannya dan membawakan handuk kimono untuk istrinya.
Suara ketukan pintu terdengar, Dinda membukakan pintu kamar mandi sedikit dan mengulurkan tangannya. “Mana?”
“Nih!”
Bukan handuk yang dia terima, tapi tangan Yoga yang menariknya keluar dari kamar mandi.
“Yoga!” teriak Dinda terkejut saat Yoga lagi-lagi menggendongnya, kali ini di pundak, membuatnya seperti sebuah karung beras dan lebih mengesalkan lagi saat Yoga melemparnya ke atas kasur dan menindihnya lagi.
__ADS_1
“Ayo kita bikin anak sekali lagi!”
"Akh!!!"