
"Dinda!" teriak suara Galih membuat tubuh Dinda menegang. Laki-laki yang sedang dia hindari itu kini malah berlari ke arahnya.
"Din, Kak Galih tuh." Ratu menyenggol lengan sang sahabat. Dinda hanya bisa tersenyum saja.
Langkah kaki Galih semakin dekat kepada Dinda.
"Kita bicara!" Galih menarik tangan Dinda dan memaksanya untuk ikut dengannya tanpa menghiraukan kehadiran Ratu yang menyapanya.
Sampai di suatu tempat yang sepi, Dinda melepas paksa tangan laki-laki yang pernah dia sukai itu.
"Jelaskan, Dinda. Tolong bilang sama aku yang soal kemarin itu. Kamu nggak bener-bener nikah sama Yoga kan? Dia bohong kan?" tanya Galih menatap sang pujaan hati dengan tatapan penuh luka. Jangan sampai Dinda membenarkan ucapannya tersebut dan membuat lukanya semakin dalam. Namun, gadis itu hanya menundukkan kepalanya saja.
"Maaf, Kak Galih. Yang Yoga bilang kemarin itu memang bener. Aku dan dia memang sudah menikah. Ada satu hal yang bikin kami menikah. Aku ... aku minta maaf soal ini."
Hati Galih benar-benar hancur, impiannya menikah dengan Dinda kini sirna sudah saat mendengar pernyataan dari wanita ini.
"Maaf," ucap Dinda sekali lagi.
Galih menatap Dinda yang masih menunduk. "Kamu bilang ada satu hal yang bikin kalian menikah? Apa itu? Apa kamu dipaksa menikah sama dia?" tanya Galih. Mendengar ucapan Dinda tadi, dia merasa jika ada hal yang janggal yang terjadi kepada wanita ini, padahal beberapa bulan yang lalu saja hubungan dia dan Dinda masih baik-baik saja.
Dinda menggelengkan kepalanya, memang bukan suatu paksaan karena dia juga dengan rela hati menjalani pernikahan ini meski pada awalnya mereka hanya melakukannya sementara.
"Bilang sama aku kalau dia maksa kamu. Aku akan bawa kamu pergi dari dia!" geram Galih.
Dinda menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Nggak, dia nggak maksa. Aku yang setuju menikah dengan dia. Aku minta maaf sama kamu, Kak, karena aku nggak bisa bertahan buat kamu," ucap Dinda lirih.
Dia kira akan ada rasa takut dan sakit di hatinya saat mengatakan hal ini, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bagai air yang terjebak di suatu tempat dan kini saluran itu sudah tidak ada yang menghambat, rasa lega menghampiri hatinya.
"Maaf, aku sudah kecewakan kamu. Aku harap kamu ketemu sama wanita yang lebih baik daripada aku."
Dinda menundukkan kepalanya sedikit sebagai permintaan maafnya yang mendalam. Dia kemudian pergi dan meninggalkan Galih yang terdiam terpaku melihat Dinda yang semakin menjauh.
"Aku terlambat!" decak kesal Galih sambil tersenyum perih. Seharusnya dia tidak menunggu untuk bisa meminta gadis itu untuk bersama dengannya meski hanya mengikatnya dengan cincin sederhana. Namun, apa salahnya jika dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk gadis itu?
Dinda berlalu pergi ke parkiran motor dan menemui Yoga yang sudah menunggunya semenjak beberapa menit yang lalu.
"Kok lama?" Diperhatikannya wajah sang istri yang sedikit sembab dan hidungnya kini yang berwarna merah. Dinda tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Yuk. Hari ini bisa libur kerja nggak? Jalan yuk! Cari bakso kalau bisa."
Yoga menebak jika Dinda sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dia mengangguk dan memasangkan helm kepada Dinda.
"Oke, mau bakso yang model gimana?" tanya Yoga sambil tersenyum tanpa niat menanyakan apa yang telah terjadi.
"Rudal atau Dower juga boleh."
"Ayo."
__ADS_1
Dinda naik ke atas motor dan Yoga upn melajukan motor itu dengan kecepatan sedang meninggalkan universitas.
Dari kejauhan, Galih menatap mereka dengan tatapan luka. Sungguh terlambat dirinya dan mengakibatkan kehilangan wanita yang dia cintai.
***
Dinda telah setuju untuk mengadakan pesta resepsi, mereka hanya harus mencari tanggal yang tepat untuk melaksanakan niatan itu. Di bulan ini banyak hal yang harus Heru lakukan dan tidak bisa ditunda maupun dibatalkan, terpaksa acara resepsi pernikahan Dinda dan Yoga akan dilaksanakan di bulan depan.
"Kalian harus sudah fitting pakaian dari mulai sekarang, soal undangan dan gedung biar kami yang uruskan," ujar Heru memberi saran kepada kedua anaknya.
"Iya, bener banget. Mama punya kenalan desainer yang bagus. Kalian bisa datang secepatnya untuk memesan pakaian. Iya, kan Jeng Besan?" tanya Puspa melirik kepada sang besan.
"Iya, Mbak Besan. Baju pengantin memang harus dipesan dari jauh hari, takutnya kalau dadakan nggak ada baju yang pas kan repot," timpal Mama Irma. Dinda tersenyum kaku menanggapi ocehan kedua orang tuanya kini. Rasa-rasanya aneh mendengar soal persiapan pernikahan mereka.
Yoga yang duduk di samping Dinda melirik kepada sang istri yang sedari tadi hanya diam saja.
"Din, pergi yuk," ajaknya setelah menyenggol lengan sang istri.
"Ke mana?" toleh Dinda.
"Mana aja, bosan nih bahas ginian."
Dinda tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Yuk!"
"Ma, Pa. Aku mau permisi ya."
"Mau nge-date." Jawaban datar diberikan Yoga kepada sang ibu, tangannya menarik jemari Dinda yang kemudian menatap dan memberikan senyuman penuh minta maaf kepada kedua orang tua yang ada di sana.
"Oh, oke. Kalian hati-hati ya di jalan. Jangan terlalu malam pulangnya," seru Puspa setelah dua orang itu menjauh darinya.
"Ish, Mama nih. Ya biarin aja kali kalau mereka nggak pulang juga. Toh, udah halal," tegur sang suami. Puspa meringis malu, dua anak itu sudah dia asuh sejak lama, dan itu sudah menjadi kebiasaan baginya untuk mengingatkan andai keduanya akan pergi malam hari.
"Kita mau pergi ke mana sih?" teriak Dinda melawan angin yang menerpa wajahnya.
"Ke mana aja, aku bosan bahasan resepsi mulu."
Kendaraan roda dua itu terus melaju di jalanan yang lumayan ramai.
Hingga akhirnya mereka telah sampai ke sebuah tempat yang lapang, mencari daerah dataran tinggi untuk melepas penat di kepala dari lelahnya duniawi.
"Cantik ya."
Lampu bersinar warna warni di kejauhan sana, membentuk sebuah lukisan yang tidak beratur di tengah malam yang pekat. Kendaraan tidak jauh terparkir dari mereka, hanya jarak beberapa meter saja dari bangku kayu yang mereka tempati.
"Hm."
Angin berembus pelan, tapi terasa dingin bagi makhluk Tuhan yang lemah lembut, tapi bisa menjadi kuat di saat tertentu.
__ADS_1
"Dingin ya?"
"Iya." Kedua tangan Dinda saling memeluk, mengusap lengannya mengusir dingin yang menerpa.
Yoga berinisiatif memberikan jaketnya dan memasangkan benda tersebut membungkus tubuh sang istri.
"Makasih."
"Sama-sama."
Mereka terdiam, menikmati kesunyian yang ada di sana, suara hewan malam terdengar indah di telinga, membuat suasana hati keduanya menjadi damai.
"Kita ini aneh ya."
"Kenapa?" Dinda menolehkan kepala melirik sang suami yang menatap lurus ke depannya.
"Aneh aja, nggak pernah kebayang dari waktu kecil, di masa sekarang ini malah kita bersama," ujar pemuda tersebut.
Dinda terkekeh pelan.
"Iya, aku juga nggak nyangka kita bisa begini."
"Kamu nyesel nggak?"
"Nyesel kenapa, Ga?"
"Nikah sama aku."
Dinda terdiam.
"Kamu menikah sama aku karena permintaan aku kemarin sebab Mama sakit. Maaf, kayaknya aku terkesan maksa jadinya," ujar laki-laki itu.
"Nggak apa-apa. Awalnya aku memang keberatan, tapi sekarang nggak kok."
Dinda mendekatkan tubuhnya pada sang suami, menyandarkan kepala pada bahu lebar Yoga yang terasa nyaman. Baru kali ini dia merasakan kenyamanan seperti ini dari seorang laki-laki.
Tubuh Yoga menegang, terdiam tatkala sang istri malah melingkarkan kedua tangannya di lengan. Rasa hangat dari tubuh membuat desir darahnya menjadi lebih cepat. Wangi aroma sampo menguar mengganggu indra penciumannya. Yoga menjadi resah seketika. Duduk setenang mungkin meski di dalam tubuhnya ada yang tidak bisa membuatnya tenang kini.
Mereka diam menikmati udara dingin yang menyelimuti, menikmati kegelapan malam dengan hiasan lampu dan bintang yang terlihat kecil di langit. Andai bintang itu jatuh, Dinda ingin sekali mengucapkan harapan agar kelak dia bisa selamanya bersama laki-laki yang kini menjadi suaminya.
Meski pernikahan mereka bukan hal yang diinginkan Dinda awalnya, tapi jelas laki-laki ini menaruh banyak perhatian kepadanya, memberikan yang terbaik meski dengan sikapnya yang terkadang konyol.
Tangan Dinda bergerak, menelusup di antara jemari panjang Yoga dan saling menggenggam. Cerita mereka memang aneh, tapi ini adalah takdir yang telah digariskan oleh Tuhan untuk keduanya.
Tiba-tiba saja, Yoga mengambil dagu Dinda dan menariknya, mengikis jarak dan mempersempit oksigen Dinda dengan hangat ciuman mesra.
Dug. Dug.
__ADS_1
Suara detak jantung itu semakin kencang dan tidak bisa lagi terelakkan, tangan Dinda terdiam, kini hanya membiarkan Yoga mengakses rongga mulutnya.