Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
56. Masih Harus Berjuang


__ADS_3

“Aduh!”


Yoga terhempas saat Dinda tak sengaja menendangnya dengan keras, laki-laki itu terjatuh ke lantai sehingga punggungnya terasa sakit.


“Din!”


“Eh, maaf!” Dinda langsung bangun dan menarik tangan Yoga untuk duduk di atas kasur. “Sakit ya? Maaf.”


Dinda menjadi tidak enak hati dan mengusap punggung Yoga yang sakit.


“Keterlaluan deh kamu, masa aku ditendang?” Bibir Yoga mencebik.


“Maaf, nggak sengaja. Lagian tadi tuh refleks, sakit tau!” keluh Dinda.


“Ya, baru pertama mana ada nggak sakit, Din!”


Dinda tersenyum malu, rasa sakit tadi membuat dia refleks melakukan pertahanan diri. Jiwa petarungnya bangkit seperti biasa.


“Anu ... kita coba lagi deh, aku nggak akan kayak gitu lagi.”


“Bener? Jangan lagi loh ya. Sakit tau!”


“Iya, bener.”


Yoga akan mendekat lagi, tapi Dinda menjauh ketakutan. “Tapi pelan-pelan aja ya,” ujar Dinda menahan dada yoga.


“Iya. Pelan-pelan.”


Yoga mendorong bahu istrinya hingga kembali berbaring dengan Dinda yang ada di bawah Yoga. Perlahan laki-laki itu mendekat dan memangkas jarak di antara mereka, mencecap rasa manis yang ada di bibir Dinda dengan penuh kelembutan.


“Ahsss ... enghhh.”


Ciuman itu semakin turun ke bawah, ke leher, dan meninggalkan bekas merah di sana. Dinda hanya pasrah memejamkan matanya menikmati ciuman lembut Yoga. Kali ini dia berhati-hati, jangan sampai menendang Yoga lagi.


Tiga tersenyum senang karena Dinda tidak menendangnya lagi, dengan lembut laki-laki itu mulai menindih tubuh Dinda sehingga kehangatan menjalar di tubuhnya.


Wajah Dinda memerah, malu, tapi wanita itu tidak mau menghentikan ciuman mereka.

__ADS_1


Kening Dinda mengerut, saat benda asing serasa menggelitik miliknya di bawah sana.


“Eughh! Sa—“


Belum Dinda mengeluh, Yoga membekap mulutnya dengan ciuman dan membelit lidah Dinda, sehingga rasa sakit itu teralihkan dengan ciuman lembut.


“Argghh!” Yoga pun mengeluarkan suara kesakitan. Jelas miliknya juga ikut sakit saat mencoba untuk masuk ke dalam sana.


“Akh. Sakit!”


Kaki Dinda bergerak tidak karuan, tangannya mencakar punggung Yoga, tubuhnya tegang, tapi segera ditahan dengan jepitan jempol kakinya sehingga Dinda sulit bergerak.


“Ga, sakit!” rintih Dinda akhirnya setelah tiga puluh menit dan mereka belum juga berhasil. Yoga berpikir jika dia tidak boleh berlama-lama, tapi melihat wajah Dinda kesakitan saat dia memaksa memasukkan miliknya. Dia menjadi tidak tega juga. Akhirnya Yoga berhenti dan memberikan jeda untuk wanita itu menarik napasnya.


Napas Dinda naik dan turun, dadanya yang bulat bergerak naik dan turun. Air mata dihapus oleh Yoga dengan ciumannya.


“Maaf. Apa sakit?”


Dinda mengangguk. “Sakit banget.”


Tatapan Dinda sendu, melihat Yoga yang mengusap wajahnya kasar.


“Ga. Ayo kita lakukan lagi!” Tarik tangan Yoga, Dinda meminta. Yoga menoleh dan tersenyum, akhirnya dia memilih untuk berbaring di sisi istrinya dengan saling berhadapan.


“Kita coba lagi nanti. Kamu udah capek kayaknya.”


“Aku nggak capek. Aku—“


“Nanti saja dulu, kita istirahat dulu. Biar nggak kerasa sakit lagi, ya?”


Akhirnya, meski kecewa, Dinda menganggukkan kepala. Bukan kecewa karena penolakan Yoga, tapi kecewa karena dia masih belum bisa memuaskan Yoga.


“Maaf, ya.”


“Maaf kenapa?” tanya Yoga sambil menatap mata istrinya, tangannya menarik selimut sehingga menutupi tubuh mereka sampai ke dada.


“Karena kita belum berhasil.”

__ADS_1


Yoga tertawa kecil dan mencium bibir Dinda lembut. “Nggak apa-apa. Kita bisa lakukan itu lagi nanti, kan? Ayo tidur. Daripada kamu bilang maaf terus.” Tubuh Dinda dia tarik dan dipeluk erat, tangannya digunakan sebagai bantal kepala Dinda.


Ditatapnya Yoga dengan pandangan yang lembut, laki-laki itu tidak mengalihkan pandangan matanya dari sang istri.


“Ayo tidur, kok malah lihatin aku terus?”


“Aku cuma lihat suamiku. Nggak tau sejak kapan kamu bisa suka sama aku. Padahal kalau dibanding dengan pacar kamu yang banyak itu aku jelas kalah dari mereka. Mereka itu cantik, sedangkan aku—“


“Shttt.” Telunjuk Yoga menutup bibir istrinya. “Memangnya aku perlu orang yang cantik buat jadi pendamping aku? Nggak ya. Lagian aku nggak cari yang cantik, aku cari wanita yang bisa aku lindungi dengan baik. Waktu kamu SMP, kamu sering di-bully sama yang lainnya, dari sana aku pengen lindungi kamu terus. Aku seneng, kamu belajar bela diri. Aku juga senang kamu jadi mandiri, tapi justru sejak itu aku ngerasa kehilangan kamu karena kamu udah mulai kuat.”


“Karena aku sadar kalau aku nggak boleh terus bergantung kepada orang lain. Ga, ayo coba lagi?”


Kening Yuga mengerut, melihat tatapan istrinya yang penuh keyakinan.


“Emang kamu udah nggak sakit?” tanya laki-laki itu.


“Kayaknya udah nggak deh, kita coba lagi yuk. Aku pengen malam ini kita berhasil.” Wajah Dinda memerah, biarkan saja jika dia yang mengajak, ini lebih baik daripada dia tidak bisa berjalan saat di rumah dan mendapati olok-olok dari ibu mertuanya.


Yoga ragu, tapi kemudian tarikan tangan Dinda pada tubuhnya membuat dia terkejut.


“Ya sudah. Kalau kamu memang memaksa.”


Malam semakin larut, percobaan kedua mereka lakukan, tapi tetap saja mereka tidak berhasil. Hanya setengah saja, dan setelah itu Yoga kembali mencabut miliknya saat lagi-lagi Dinda menangis karena sakit. Padahal Dinda sudah berjanji untuk tidak akan menangis lagi.


“Maaf,” ucap Dinda sambil menyeka air matanya yang banyak.


“Shuutr, nggak apa-apa. Wajar namanya juga pertama. Besok pagi kita coba lagi ya.”


Dinda mengangguk dan menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. Akhirnya kedua orang itu memilih untuk tidur saja dan akan melanjutkannya esok pagi.


Yoga tidak keberatan untuk hal ini, dia memilih mengalah terlebih dahulu karena kesakitan itu yang merasakan adalah Dinda. Tidak apa jika menunggu sampai besok pagi, toh mereka juga lelah hari ini.


"Selamat tidur, Sayang." Kecupan lembut diberikan Yoga ke kepala Dinda. Dinda tersenyum dan segera memejamkan matanya.


Yoga belum tidur, dia masih memainkan hp-nya dengan suara yang pelan. Sebuah gambar bergerak dia tonton dengan mata yang setengah mengantuk, tapi dia penasaran akan apa yang ada di dalam gambar itu meski ini bukan pertama kalinya dia melihat. Dia hanya penasaran, bagaimana caranya agar dia bisa memasukkan tongkatnya ke dalam sarang agar istrinya tidak sampai menangis kesakitan.


“Aku harus coba kayak gitu,” gumam Yoga sambil menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


__ADS_2