
"Mama senang deh kalian ada di sini. Makasih ya, Din. Sudah mau jadi menantu Mama. Mama sempat takut kalau Mama meninggal dan nggak bisa lihat Yoga punya istri. Oh, ya. Setelah Mama sembuh, kita bikin resepsi pernikahan kalian ya, sekalian juga daftarin pernikahan kalian ke KUA. Gimana pun juga Mama masih khawatir kalau kalian cuma punya bukti selembar kertas aja," ucap wanita itu.
Yoga melirik Dinda dan akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Iya, Ma. Asalkan Mama cepat sembuh. Mama kenapa sih, nggak bilang sama kita kalau Mama sakit? Aku nggak tau sama sekali loh soal ini. Mama tuh bikin kita khawatir aja," ucap Yoga kesal.
"Justru Mama nggak pengen bikin kalian khawatir, lagian Mama juga kuat kok selama ini, nggak nyangka aja kalau ternyata kanker Mama sudah seperti ini. Tadinya dokter bilang cuma dengan obat aja juga sudah cukup, tapi ... ya gitu lah," ucap Puspa sambil tertawa kecil.
"Mama harus sembuh, nggak boleh sakit lagi, ya. Aku mau sama siapa nanti curhatnya kalau Mama sakit?" tanya Dinda pada Puspa dengan wajah yang sedih dan hampir menangis.
"Loh, kamu kan sudah ada Yoga! Kamu kan juga biasanya kalau curhat nggak sama Mama ya sama Juna," ujar Mama Puspa. Dinda menunduk malu, sekarang ini sudah beda rasanya, tidak sama lagi seperti waktu dulu.
Dinda melirik Yoga, tapi laki-laki itu tengah sibuk dengan ponselnya, senyum yang terlihat oleh Dinda membuat Dinda paham akan sesuatu.
"Aku keluar dulu, Ma," ujar Yoga sambil berdiri.
"Mau ke mana?" tanya sang ibu.
"Pengen ngerokok, rasanya asem nih mulut, tadi sudah makan nggak ngerokok," ujar pemuda itu. Puspa menggelengkan kepalanya.
"Kamu itu, Ga. Harusnya kamu berhenti merokok. Nggak baik buat kesehatan kamu. Ingat, sekarang ini kamu sudah punya istri, dikurangi jatah rokoknya. Lebih baik kamu kasih nafkah yang baik buat istri kamu daripada buat beli rokok," ucap Puspa.
"Iya, nanti pasti aku juga akan kurangi rokok, tapi dikit-dikit lah, Ma."
Yoga tidak lagi menjawab, dia pergi dari sana dengan santai.
__ADS_1
"Kamu bisa nggak, suruh Yoga buat nggak ngerokok lagi? Kan Mama nggak suka, apa lagi kalau nanti kamu hamil. Nggak baik buat kesehatan kalian," ucap Puspa.
"Iya, Ma. Nanti aku akan bilang sama Yoga."
Sore harinya, Heru kembali ke rumah sakit. Dia juga datang bersama dengan orang tua Dinda. Beberapa makanan telah dikeluarkan dari kantong yang dibawanya.
"Nah, ini dia yang Mama mau. Waah, enak banget!" ucap Puspa sambil menghirup aroma wangi pandan yang ada di dalam kolak. Sedari tadi siang dia sudah sangat menginginkannya.
"Mbak, maaf ya. Nanti malam aku nggak bisa ikut jaga di sini, anu ... malam ini aku harus pergi ke luar kota buat seminar. Nggak apa-apa kan?" ucap Irma tak enak hati. Jika saja seminar ini tidak penting dia pasti tidak akan pergi juga,
"Nggak apa-apa, dong. Nggak apa-apa. Pergi aja. Lagian kan di sini juga ada Mas Heru sama anak-anak. Sama siapa perginya, Mbak?" tanya Mama Puspa.
"Sama saya, Mbak. Kalau berangkat sendiri saya nggak tenang rasanya, ya meskipun sama teman-temannya juga rombongan, tapi ...." Ayah Dinda terdiam, melirik kepada istrinya yang hanya cuek. Akan tetapi, Mama Puspa sudah sangat tahu apa yang tengah dirisaukan oleh besannya tersebut.
"La wong aku kerja kok bawaannya curiga mulu, Mbak. Gimana ya siasati biar suami nggak cemburuan. Lagian juga dia kan sudah punya istri. Kok masih dicemburui," ujar Irma kesal.
Sampai sore mereka ada di sana. Irma berpamitan kepada yang lainnya untuk pulang ke rumah dan akan berangkat ke kota sebelah untuk melakukan seminar yang akan dilakukan di jam tujuh malam nanti.
"Kalian juga pulang. Di sini kan ada Papa. Mama biar sama Papa aja," ucap Puspa.
"Iya, kalian pulang saja. Kan besok kalian juga kuliah pagi." Heru menimpali.
"Ah, kuliah bisa berangkat dari sini, Ma." Tolak Yoga.
"Ingat, Ga. Sekarang ini kamu sudah ada istri. Jangan egois kamu, Ingat Dinda juga adalah prioritas kamu sekarang ini," ucap Puspa. Yoga melirik Dinda.
__ADS_1
"Eh, nggak apa-apa, Ma. Nggak masalah kok, lagian bener kata Yoga, besok kita bisa berangkat dari sini," ucap Dinda.
"Nggak, kalian pulang saja. Mbak, bawa anak-anak sekalian pulang. Mereka akan kecapekan kalau sampai menunggu aku di sini. Lagian Mama juga sudah enakan badannya kok, tadi kan kalian sudah denger dari dokter, Mama sudah nggak apa-apa. Mungkin lusa juga sudah pulang," ucap Puspa, yang akhirnya membuat kedua putranya itu pulang ke rumah bersama dengan Irma.
Yoga mengikuti mobil Irma dari belakang. Dia tidak berniat meninggalkan mobil itu meski di jalanan macet. Bisa saja dia menyalip dan pulang duluan, tapi rasanya tidak baik juga jika dia seperti itu.
"Din, boleh Mama tanya sesuatu?" tanya Irma kepada Dinda.
"Iya, Ma? Tanya apa?" tanya Dinda tanpa mengalihkan tatapannya dari HP.
"Kamu menikah sama Yoga, apa karena permintaan Mama Puspa?" tanya Irma menyelidik, memang dia sangat suka dengan Yoga karena pemuda itu sangat bertanggung jawab, tapi menikah di usianya yang semuda ini juga membuat Irma curiga. Apakah putrinya itu terpaksa? Salahnya juga kemarin dia langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh Yoga dan juga Dinda tentang menikah.
Dinda terkejut mendengar pertanyaan dari ibunya. "Em ... nggak juga sih. Nggak terpaksa juga. Aku kan sama Yoga sudah lumayan lama kenal, sedari kecil malah. Memang Yoga juga udah beberapa kali minta aku nikah sama dia, tapi aku tolak terus," jawab Dinda mencari alasan. Bukan alasan juga, tapi lebih tepatnya kenyataan akan apa Yoga lakukan kepadanya beberapa hari ini, meski dia tidak tahu kenapa juga laki-laki itu menginginkan Dinda menjadi istrinya.
"Terus. Kamu kenapa jadi menikah sama dia? Mama pikir kamu beneran suka sama Yoga," ujar Irma.
Dinda mengembuskan napasnya. Akhirnya pertanyaan itu datang juga untuknya.
"Ya, nggak apa-apa. Karena aku pikir, nggak ada salahnya juga sama Yoga. Toh, aku sudah kenal dia dari lama, sayangnya dia sama aku juga sudah jelas terbukti. Kayaknya nggak mungkin juga dia akan berbuat aneh-aneh atau macam-macam sama aku. Mama Puspa dan Papa Heru kan juga sangat baik sama kita."
Irma terdiam mendengar putrinya yang berbicara seperti itu.
"Sudah, Mama. Aku yakin kalau Dinda juga pastinya nggak akan sembarangan kok. Bener apa kata anak kita. Mas Heru dan Mbak Puspa kan sangat baik, kita juga nggak akan khawatir Dinda sama mereka. Apalagi kan rumah kita bersebelahan, kan kita juga nggak akan khawatir nggak ketemu mereka dalam waktu yang lama," ucap sang ayah.
Dinda mengalihkan tatapannya kepada papanya. "Loh, emang nanti aku tinggal nggak sama kalian?"
__ADS_1