Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
47. Ayo Kita Beri Mereka Cucu


__ADS_3

Dinda tersadar saat ciuman itu bahkan menjadi ******* yang sangat panas menurutnya. Lembut dan manis rasa bibir Yoga membuat pikirannya tidak karuan sekarang ini. Rasanya aneh, ingin yang lain lebih dari sekarang ini. Pemikirannya semakin menjauh, memikirkan hal yang dilakukan oleh pasangan-pasangan halal seperti mereka.


Apa ini? Dadaku mau meledak, batin Dinda. Bibirnya terbuka, membiarkan akses masuk lidah Yoga yang kini semakin dalam merangsek di dalam mulutnya.


"Ahs." Suara lembut Dinda terdengar di telinga membuat Yoga membuka matanya dan melihat Dinda menutup mata seakan sedang menikmati ciuman yang mereka lakukan. Tangan Dinda memegang dan mencengkeram pakaiannya erat. Dia hanya diam, tapi lidahnya masih sedikit kaku mengikuti alur permainan Yoga yang lincah menari-nari di dalam rongga mulut Dinda.


Yoga tersenyum tipis, kemudian lanjut dengan mendorong kepala belakang Dinda untuk memperdalam ciuman mereka. Tidak ada lagi jarak di antara wajah itu, hidung keduanya saling menyilang, memberikan napas hangat yang menerpa pipi keduanya.


Dinda tersadar, tiba-tiba saja di saat seperti ini dia mengingat Mama Puspa sehingga dia mendorong tubuh Yoga dan menjauh.


"Ada apa?" tanya Yoga dengan kening yang mengerut tanda kebingungan. Dinda yang ditanya seperti itu menjadi salah tingkah.


Gimana bisa aku malah kayak gini sama Yoga? pikirnya.


"Ada apa?" tanya Yoga sekali lagi. Dinda tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya.


"Itu ... makanan Mama. Mama pasti nungguin makanan ini," ucap Dinda kemudian mengambil piring dan menatanya di atas meja makan. Tangannya gemetar atas apa yang telah terjadi tadi. Dia benar-benar tidak tahu kenapa dia sampai terbuai seperti itu dan berciuman dengan Yoga dan juga menikmatinya. Sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal seperti itu. Apalagi bisa saja jika mama Puspa tiba-tiba saja masuk ke dalam dapur dan melihat mereka sedang berciuman seperti tadi. Bukankah hal itu akan sangat memalukan untuknya?


Apa yang sudah aku lakukan? Aku malu!


Melihat tangan Dinda yang gemetar seperti itu, Yoga menjadi tersenyum sendiri, dia geli melihat tingkah laku Dinda. Saat Dinda masih menyiapkan segala sesuatunya di meja makan, tiba-tiba saja dia memeluknya dari belakang, membuat tubuh Dinda menegang dan dadanya semakin berdebar kencang.

__ADS_1


Yoga memeluk erat tubuh Dinda dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.


"Yoga, apa yang lo lakuin?" tanya Dinda dengan suara yang gemetar.


"Gue nggak pengen elo pergi dari sisi gue. Cukup jadikan gue suami pertama dan terakhir. Bisa nggak?" tanya pemuda itu kepada Dinda.


Dada Dinda semakin berdebar dengan sangat kencang saat mendengar ucapan dari Yoga barusan. Dia tidak menyangka jika Yoga benar-benar mengatakan hal yang seperti itu. Apakah pemuda ini serius dengan ucapannya?


Dia nggak mungkin bercanda kan? Masa kalau bercanda bawa-bawa perasaan segala? batin Dinda yang masih merasa bingung.


"Terserah lo mau anggap gue bercanda atau enggak, tapi gue bener-bener cinta sama lo dan gak mau pisah dari lo," ucap Yoga semakin mempererat pelukannya. Ucapan dari pria itu membuat sesuatu yang aneh terasa di dalam dada Dinda, seakan ada sesuatu yang membuncah di dalam hatinya, tapi Dinda masih belum yakin apa yang membuat hatinya seperti itu. Apakah karena perlakuan Yoga? Atau, dia juga punya perasaan terhadap pemuda itu?


"Ga, jangan kayak gini. Nanti Mama Puspa bisa lihat," ucap Dinda dengan suara yang bergetar antara takut dan canggung dengan apa yang dilakukan oleh Yoga saat ini.


"A-anak?"


"Iya, anak. Cucu buat orang tua kita. Gimana?" tanya Yoga.


Seketika Dinda memikirkan apa yang Yoga katakan, bukan hanya perihal anak, tapi bayangan membuat anak dengan proses panjang yang 'katanya' menyakitkan di malam pertama. Bukan hanya malam pertama, tapi beberapa hari setelahnya juga.


Gimana kalau ditusuk? Iya kalau sekali jebol. Kalau sampai dua kali, tiga kali? Sakit dong! pikiran Dinda sudah menerawang jauh ke masa proses pembuatan anak, mengingat cerita dari beberapa teman kampusnya yang telah menikah muda saat menceritakan pengalaman pertama mereka waktu malam pengantin.

__ADS_1


Memikirkan hal itu membuat bulu kuduk Dinda meremang, berdiri bagai terkena angin dingin yang melewati tubuhnya, dia bergidik ngeri membuat Yoga mengerutkan keningnya.


"Nggak. Jangan mikirin begituan deh," ucap Dinda sambil melepaskan diri dari laki-laki itu.


"Kenapa?" tanya Yoga bingung menatap sang istri yang sekarang dengan wajah pucatnya.


Dinda meringis dan menggelengkan kepalanya. "Ya, nggak apa-apa. Tapi jangan mikirin itu dulu deh, gue ... belum siap kalau buat itu." Dinda kini mulai menjauh dengan perlahan.


"Kenapa?" Yoga mendekat membuat dada Dinda berdebar semakin kencang saja. Apalagi saat Yoga menarik pinggangnya sehingga tubuh mereka berdua menempel. Tangan Dinda menahan dada Yoga, terasa debar dada pemuda tersebut yang sama kencangnya dengan debar dadanya.


"Yoga--"


"Apa elo takut?"


"Ta-takut? Takut apa?" tanya Dinda mencoba untuk mengabaikan rasa canggungnya. Lututnya terasa lemas saat mendapati tatapan dari pemuda yang kini melingkarkan tangannya ke pinggang.


Yoga hanya mengangkat kedua pundaknya menjawab pertanyaan dari Dinda barusan.


"Nggak tau, emangnya tadi kamu bilang belum siap untuk apa? Kalau kamu memang belum siap untuk kita melakukannya, kita bisa pelan-pelan aja, kayak ciuman tadi. Pelan-pelan aja," bisik Yoga di dekat telinga Dinda. Kembali kulit tubuh Dinda meremang dan membuat desir darahnya mengalir dengan sangat cepat sekali mendengar suara lembut Yoga. Andai suara jantung itu bisa terdengar dengan sangat jelas, mungkin saja sekarang ini akan terdengar berdebum yang tidak beraturan di telinga.


Apa ini? Mau apa dia? Apa dia mau menciumku lagi? batin Dinda lagi saat mendapati Yoga yang terus saja semakin mendekat.

__ADS_1


Saking canggungnya Dinda dengan posisi mereka yang sangat dekat, refleks dia mengangkat kakinya dan menjatuhkannya dengan sekuat tenaga menimpa kaki Yoga. Pemuda itu mengaduh kesakitan dan memegangi kakinya sendiri, sementara tangan yang lain memegangi tepian meja.


"Dinda, sakit. Aduh!' seru Yoga merasakan sakit yang teramat sangat di kakinya. Dia menatap Dinda yang terpaku di tempatnya tanpa melakukan apa-apa.


__ADS_2