Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
14. Sanjungan Untuk Ratu


__ADS_3

Motor telah melaju di jalanan yang padat merayap, di belakangnya sebuah mobil berwarna hitam mengikuti dua pemuda tersebut. Bibirnya mengulas senyum, senang sekali rasanya karena dia akan bertemu dengan orang tua dari pria yang disukainya.


"Aku harus bersikap baik di depan ibunya," gumam Ratu kemudian menyalakan sebuah lagu yang dia dengar dari pemutar musik yang terdengar di mobil.


Sementara itu di motor yang dikendarai oleh Yoga, Dinda tidak mau berpegangan kepada pria itu. Mengecewakan sekali saat Yoga memperbolehkan Ratu ikut bersama mereka ke rumah sakit.


"Din, pegangan!" teriak Yoga dari balik helmnya. Motor itu melaju dengan cepat melesat melewati beberapa kendaraan yang ada di depannya. Begitupun mobil yang Ratu bawa, dia berani melewati beberapa kendaraan agar tidak tertinggal jauh oleh laki-laki yang sangat disukainya.


Dinda memegang tepian jaket Yoga, tapi tentu saja Yoga khawatir dengan gadis itu sehingga dia menarik tangan wanita itu untuk melingkar pada perutnya.


"Elo Itu kenapa?" tanya Yoga kepada Dinda.


"Gue nggak papa!" seru Dinda dari belakang. Dia melonggarkan pelukan pada perut Yoga karena saking sebalnya.


Merasakan pelukan Dinda yang melonggar, Yoga seketika menarik rem pada tangan kirinya sehingga badan Dinda tersentak menabrak punggung Yoga dan otomatis dia berpegangan dengan erat kepada laki-laki itu.


"Lo yang bener bawa motornya!" teriak Dinda dengan sangat kesal.


Yoga tidak banyak berbicara dia hanya tersenyum dan kemudian kembali melajukan motor itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Apa mungkin dia sedang merasa kesal? tanya Yoga kepada dirinya sendiri.


Yoga tidak peduli akan hal itu dan dia tetap melajukan motornya melewati beberapa kendaraan yang ada di belakang.


"Ah ya ampun andai gue ada di posisi Dinda," ujar Ratu iri yang melihat sahabatnya menaiki motor bersama dengan Yoga. Dia sangat iri sekali dan ingin berada di posisi Dinda saat ini. Bukankah akan sangat menyenangkan jika dia yang bersama dengan Yoga menikmati jalanan malam yang ramai hanya berdua? Berkeliling kota dan menikmati waktu bersama dengan Yoga.


"Hem, kapan ya aku bisa pergi berdua sama Yoga?" gumam Ratu menatap punggung Dinda.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Dinda segera turun dari motor dan berjalan mendahului Yoga untuk menuju ke ruangan Puspa, dia sampai lupa jika ada Ratu yang ikut bersama dengannya di belakang.


"Din, elo kenapa sih?" tanya Yoga yang mengikuti langkah kaki Dinda yang cepat.


"Nggak apa-apa!" jawab Dinda ketus sambil berjalan dengan semakin cepat meninggalkan dirinya.


"Yee, lagi PMS apa ya? Galak banget, perasaan tadi pagi juga nggak gitu deh," gumam Yoga bingung.


Nyebelin banget deh, harusnya ditolak. Ngapain juga dia nggak nolak waktu Ratu mau ikut? gumam batin Dinda merasa kesal, terus melajukan langkah kakinya dengan cepat dan kasar.


Ingat dengan Ratu, Dinda berhenti dan berbalik dengan tiba-tiba sehingga Yoga yang tidak siap dan tidak menyangka jika gadis itu akan berbalik hampir saja menubruknya.


"Ya elah, jalan tuh jangan nge-rem ngedadak! Gimana kalau ketabrak, bisa kayak di film India kita!" ujar Yoga terkejut. Akan tetapi, melihat wajah Dinda yang kusut membuat laki-laki itu kembali heran.


"Elo kenapa sih, Din? Perasaan tadi pagi juga nggak manyun. Ada masalah?" tanya Yoga.


"Elo masalah gue!" ujar Dinda, kemudian mendorong Yoga ke samping. "Gue mau cari Ratu, kemana lagi tuh anak. Ngilang," gumam Dinda kemudian menjauh dari hadapan Yoga.


"Dia kenapa, sih? Gue salah apa ya?" gumam Yoga. "Apa karena gue ganti pake motor lagi?" tebaknya.


Yoga tidak mau pusing dengan hal itu, dia pergi ke ruangan ibunya terlebih dahulu.


Sementara itu, Dinda menghubungi Ratu dan menanyakan keberadaannya yang belum ketemu juga.


"Iya, aku lagi di supermarket, lagi beli buah. Masa jenguk calon ibu mertua nggak bawa buah tangan," ujar Ratu yang membuat Dinda semakin kesal. Orang lain saja ingat dengan hal seperti itu, kenapa dirinya tidak? Jangan berpikir sebagai menantu yang baik, sebagai anak yang diurus Mama Puspa pun Dinda tidak cukup peka dengan hal itu.


Sepuluh menit Dinda menunggu, akhirnya Ratu telah sampai di dekatnya dengan senyuman yang lebar. Ratu berjalan dengan sangat riang seakan kakinya tidak menapak pada lantai.

__ADS_1


"Ayo, maaf ya. Aku nggak bilang dulu tadi sama kamu. Jadi nungguin lama."


"Nggak apa-apa," ujar Dinda ketus, Ratu hanya menganggap ketusnya Dinda karena menunggu dirinya barusan.


Sampai di ruangan Puspa, Ratu segera mencium tangan Puspa dan memeluk serta cipika-cipiki, menyerahkan parcel berupa buah-buahan untuk wanita paruh baya itu, membuat Dinda menjadi sebal.


"Loh, kok repot-repot. Makasih, ya." Puspa dengan senyum ramahnya.


"Iya, Tante. Nggak repot, kok. Malah saya senang bisa ikut jenguk Tante di sini. Maaf kalau sebelumnya nggak tau, baru bisa jenguk sekarang," ucap Ratu berbasa basi.


"Ah, nggak apa-apa, Tante juga baru kemarin masuk rumah sakit kok."


"Om, apa kabar?" Kali ini Ratu menyapa ayah Yoga.


"Baik. Kamu temennya Yoga?" tanya laki-laki itu.


"Ah, iya Om. Saya sebenarnya teman Dinda, tapi teman Dinda juga kan bisa dibilang teman saya juga kan, Om?" ujar Ratu sambil tertawa kecil dan menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, nampak tiba-tiba saja berubah menjadi elegan, padahal juga biasanya jika di depan Dinda, gadis itu sangat barbarly.


Dinda cemburu melihat Ratu dan Mama Puspa yang tampak akrab saling berbicara, pembawaan Ratu yang humble dan juga ramah memang satu keunggulan darinya yang sangat disukai oleh orang lain.


"Dimakan buahnya, Tan. Saya kupasin ya, Tante mau makan buah apa?" tanya Ratu membuka parsel tersebut dan mengambil pisau yang memang tersedia di sana.


"Ah, apel. Mau apel saja," ujar Puspa.


"Oke, saya kupasin. Saya bisa loh Tan, kupas buah yang baik dan benar," ujar Ratu menonjolkan diri, dia memperlihatkan skill mengupas buahnya dengan baik di hadapan Puspa dan juga Heru, mengupas buah apel dengan cara memutar sehingga terkupas semua kulitnya tanpa terputus sama sekali. Hal itu membuat decak kagum dari Puspa dan juga Heru.


"Wah, kamu pasti jago masak juga ya? Pegang pisaunya udah pinter gitu," tanya Mama Puspa. Pipi Ratu bersemu malu.

__ADS_1


"Nggak juga, Tan. Saya hobi masak aja, tapi nggak jago kayak mama saya," ujar Ratu kemudian memotong apel merah tersebut menjadi beberapa potongan dan menyimpannya ke atas piring.


"Wah, hebat kamu bisa masak, setidaknya kamu nggak akan salah ngasih bumbu. Beruntung nanti laki-laki yang akan menjadi suami kamu," ujar Puspa.


__ADS_2