
Hidangan bakso yang panas sudah tersedia di depan mereka. Ratu yang tidak sabaran segera menyeruput kuah tersebut dengan tidak sabaran,mengesampingkan tatapan Dinda yang menatap heran pada wanita itu.
"Elo tuh belajar debus ya? Masih panas udah main makan aja," ujar Dinda sambil menyeruput jus alpukat miliknya.
"Kalau udah dingin kan nggak enak. Lagian juga kita kan harus cepet pergi ke perpus biar bisa ngulang pelajaran. Elo sih enak bisa belajar bareng Yoga, lah gue nggak bisa. Seneng kayaknya kalau bisa deket sama orang yang kita suka. Gue nggak bisa gitu sama Yoga," ucap Ratu sambil mengaduk-aduk makanan di dalam mangkoknya.
"Uhuk!" Mendengar ucapan Ratu membuat Dinda tersedak minumannya. Hampir saja minuman yang sudah ada di dalam mulut tersembur jika dia tidak menutupnya dengan telapak tangan.
"Heh. Apa? Elo suka sama Yoga?" tanya Dinda menatap Ratu dengan tidak percaya. Ratu tersenyum malu sehingga pipinya bersemu merah.
"Eh, gue keceplosan. Aduh, malunya gue!" ujar Ratu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Dinda menelan salivanya dengan susah payah, serasa di dalam sana ada batu kerikil yang mengganggu dan membuat sakit tenggorokannya.
"Sejak kapan elo su-suka sama Yoga?" tanya Dinda, jus alpukat itu ia minum lagi, berusaha untuk menenangkan dirinya yang kini sudah tidak karuan.
"Sebenarnya udah lama sih, tapi ... gue kan masih ragu kalau kemarin-kremarin tuh, sekarang gue yakin kalau gue suka sama Yoga. Elo mau kan bantu gue biar deket sama Yoga? please!" ujar Ratu membuat Dinda kembali menjadi bingung dan merasa bersalah.
"Please, Din. Kayaknya gue suka deh sama Yoga semenjak pertama kenal sama dia. Soalnya dari waktu itu gue nggak bisa lagi kalau deket sama orang lain, gue nggak bisa maksain hati gue buat orang lain karena gue pengen sama Yoga, kayaknya!" ujar wanita itu lagi sambil menarik dan menggoyangkan tangan sang sahabat.
"Please, elo bisa kan bikin kita lebih deket lagi? Tapi gue minta tolong kalau lo jangan bilang sama Yoga gue suka sama dia. Gue takut kalau Yoga nganggap gue ini wanita yang nggak tahu diri," ujar Ratu membuat Dinda menatap iba kepada wanita itu. Banyak laki-laki yang ingin bersama dengan Ratu, banyak pemuda dari kalangan atas dan dari kalangan biasa yang mengejar cintanya, tapi kenapa harus Yoga yang dia suka?
Dinda menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Apa jadinya jika sahabatnya ini tahu jika dia dan Yoga sudah menikah?
Bener apa kata Yoga, status kita nggak boleh diketahui orang lain! batinnya di dalam hati.
Siang setelah kelas selesai. Ratu bersama dengan Dinda pergi ke luar.
"Mau anter gue nggak? Ke mall, yuk. Ada sepatu yang pengen gue beli," ajak Ratu.
"Eh, sekarang?"
"Iya, lah. Kapan lagi?" tanya wanita itu sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti orang India.
"Aduh, gue nggak bisa. Udah ada janji," ucap Dinda. Tadi pagi Yoga berkata akan menjemputnya, dan barusan dia sudah mengirim pesan jika ada di luar kampus untuk menjemput dan pergi ke rumah sakit.
"Janji sama siapa? Pacar ya?" tunjuk Ratu tepat di depan hidung sang sahabat dengan nada yang menggodanya.
__ADS_1
"Ih, bukan. Anu ... sama Yoga."
"Eh, sama Yoga? Ke mana? Kalian mau pergi ya? Jalan kemana? Ikut dong!"
Dinda menjadi bingung dengan rengekan Ratu.
"Bukan pergi ke luar sih, tapi ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya wanita itu cepat.
"Mama Puspa."
"Mamanya Yoga?"
"Iya."
"Oh, calon mama mertua aku kenapa? Sakit apa? Duh kasihan banget, ikut dong, ya. Please!" ucap Ratu memohon, raut wajahnya sangat khawatir saat mendengar Mama Puspa yang dirawat di rumah sakit.
"Aduh, kalau itu tanya Yoga deh. Aku juga nggak tau dia datang pake motor apa pake mobil."
Dinda kali ini berharap Yoga menjemputnya dengan menggunakan motor, berharap jika Ratu tidak ikut dengannya.
Mampus! batin Dinda berseru saat melihat sang sahabat mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya. Biasanya ratu diantar oleh sopir, kenapa hari ini dia bawa mobil sendiri?
Tidak ada lagi yang bisa Dinda lakukan, dia hanya berharap statusnya bersama dengan Yoga tidak terungkap. Semoga saja baik orang tuanya ataupun orang tua Juna tidak mengatakan jika mereka telah menikah.
"Ya udah deh ayo."
"Oke, kita tunggu dulu Yoga datang gue mau bilang ikut sama dia ke rumah sakit," ucap Ratu dengan senang dan berharap jika laki-laki itu juga mengizinkannya untuk ikut.
Dinda hanya bisa berharap statusnya tidak terkuak. Apa yang akan terjadi jika mereka tahu bahwa dia dan Yoga sudah menikah, apalagi ternyata ratu menyukai Yoga, dan bagaimana jika nanti laki-laki yang disukainya juga mendengar tentang semua ini?
Ah ya ampun hidup gue berat banget! batin Dinda di dalam hati.
Dua wanita itu menunggu di tepi jalan depan universitas. Tidak lama Yoga datang dengan menggunakan motor dan berhenti di depan mereka berdua.
Ratu tampak senyum-senyum dan salah tingkah saat melihat laki-laki pujaan hatinya datang. Tampan dan juga sangat keren dengan motor gede kesayangannya. Tangan Dinda terasa sakit akibat remasan tangan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Ini siapa?" tanya Yoga sambil membuka helm full face miliknya.
"Ini--"
"Ratu! Nama aku Ratu. Aku sahabat Dinda," ucap wanita itu dengan cepat sambil menyodorkan tangannya pada Yoga.
"Oh ternyata ini yang namanya Ratu ya? Cantik." Juna tersenyum membuat hati Ratu meleleh.
Dinda melirik kepada sang sahabat yang semakin salah tingkah saja. Antara kasihan dan juga merasa bersalah dirinya kepada wanita itu.
"Malah melting dia," gumam Dinda menyesali ucapan Yoga barusan.
"Kalian dari jurusan yang sama?" tanya Yoga kepada ratu.
"Iya jurusan kami sama. Andai kita bertiga satu jurusan, pasti aku akan sangat senang sekali kenal sama kamu sejak lama, Mas."
Yoga tertawa mendengar ucapan dari wanita cantik tersebut.
"Jangan panggil saya Mas, umur saya sama dengan Dinda. Kalau begitu kami harus pergi dulu."
"Tunggu dulu Mas. Eh, Jun, anu ... Katanya ibunya lagi sakit ya? Boleh aku ikut ke rumah sakit buat jenguk ibunya?" tanya Ratu dengan penuh harap.
"Oh boleh kok. Tapi aku pakai motor gimana dong?"
"Nggak apa-apa sih aku bawa mobil kok, kalau memang boleh tunggu sebentar aku mau bawa mobil dari dalam," ucap wanita itu dan menunggu jawaban dari Yoga.
"Ya sudah aku tunggu di sini."
Ratu mengangguk dengan senang hati dan segera pergi ke tempat parkir untuk mengambil kendaraannya.
Sementara itu Dinda mendekat kepada Yoga dan mencubit pinggang pria itu sedikit keras.
"Aww! Kamu ini kenapa juga main cubit-cubit segala? Kalau mau main cubit-cubitan nanti malam aja di kamar biar sama-sama seru," bisik laki-laki itu sambil mengelus perutnya yang terasa panas.
"Kenapa kamu izinkan dia buat ikut kita ke rumah sakit?"
"Lho memangnya aku salah? Kalau memang dia pengen ikut jenguk Mama yang nggak papa kan?"
__ADS_1
Dinda merasa kesal dengan jawaban dari Yoga. Laki-laki itu tidak tahu saja jika Ratu tengah mengincarnya.