
Yoga tampak sangat akrab sekali dengan wanita itu dan tersenyum dengan lebar, matanya tidak teralihkan kepada yang lain dan hanya menatap wanita cantik tersebut.
“Huh! Katanya nggak boleh deket-deket orang lain, kok sendirinya malah ingkar sama omongan sendiri!” gumam Dinda kesal kemudian berbalik arah dan pergi dari sana menuju ke gerbang luar.
Dinda kesal bukan main melihat Yoga yang akrab sekali dengan wanita itu, wanita yang tidak pernah Dinda lihat sebelumnya.
“Siapa dia? Anak mana sih?” gumamnya terus sambil berjalan ke luar. Yoga sedekat itu dengannya sehingga jarak keduanya sangatlah dekat, apa lagi wanita itu juga tadi terlihat mencubit perut Yoga.
“Dasar ulet keket kegatelan! Nggak tau apa kalau dia itu laki orang?”
Langkah kaki Dinda terdiam, dia ingat dengan menyadari ucapannya.
“Eh, kenapa juga dengan ucapan gue?” ujar Dinda bingung, tapi di dalam hati dia membenarkan jika Yoga adalah suaminya.
“Cih, aneh! Bodo ah, lagian juga dia bukan siapa-siapa gue dan cuma bohongan!” gerutu Dinda kemudian kembali melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Langkah kaki Dinda kasar menjejak di lantai, kesal, ingin marah. Bukan cemburu, tapi karena laki-laki itu menjilat ludahnya sendiri.
“Tiga bulan? Cih, baru aja dua minggu udah deket sama yang lain. Memang dasar buaya!” ujar Dinda.
Sampai di depan kampus, Dinda hendak melangkah ke halte terdekat, tapi seseorang memanggilnya dan membuat Dinda menoleh.
“Hei, mau pulang?” tanya Galih yang kebetulan juga mau pulang.
“Iya, Kak. Mau pulang lah.” Dinda mencoba untuk tersenyum, jangan sampai laki-laki ini melihat jika dirinya tengah kesal.
“Masuk, aku antar ya,” tawar Galih.
“Eh, nggak usah deh. Aku mau ke halte aja,” tolak Dinda.
“Kenapa ke halte? Kebetulan aku ada urusan ke dekat rumah kamu, ayo. Lumayan irit ongkos,” ujar pemuda tersebut.
Dinda hendak menolak lagi, tapi sebuah panggilan telepon terdengar dan Dinda melihat nomor Yoga tertera di layar hp-nya.
“Ayo deh, aku ikut. Lumayan irit ongkos,” ujar Dinda mematikan panggilan dari Yoga dan masuk ke dalam mobil hitam Galih.
__ADS_1
Yoga terus menghubungi Dinda beberapa kali, tapi sahabat sekaligus istrinya itu tidak juga kunjung mengangkat teleponnya.
“Duh, Dinda ke mana lagi?” gumam Yoga sambil melihat ke arah sekeliling. Yoga tidak melihat Dinda ada di sana. “Apa mungkin belum keluar kelas ya? Apa ada jam tambahan?” gumamnya sekali lagi kemudian dia menunggu saja di atas motornya dengan sabar.
Panas semakin terik. Hampir setengah jam Yoga menunggu, tapi Dinda belum keluar juga. Dia memutuskan untuk mencari Dinda ke kelasnya.
“Eh, kelasnya kosong. Dia di mana ya? Mana telepon gue nggak diangkat lagi!” gumam Yoga kesal. Dia mencoba untuk menghubungi Dinda lagi, tapi tetap saja tidak diangkat oleh gadis itu.
*
“Din, ada telepon tuh. Kok nggak diangkat?” tanya Galih saat mendengar dering telepon dari hp milik Dinda.
“Eh, cuma Mama kok. Mungkin tanya aku pulang jam berapa.”
Dinda berbohong, dia menekan tepi ponselnya dan mengubah dering itu menjadi getar. Yoga sangat mengganggu sekali!
*
“Aishh. Apa-apaan lagi dia? Ke mana juga? Gue udah nunggu satu abad belum muncul juga. Apa jangan-jangan dia mules kali ya?” gumam Yoga teringat dengan sarapan yang dia buat tadi pagi. “Ah, masa iya? Dia kan jago makan pedes.” Akan tetapi, Yoga berjalan juga ke toilet wanita, siapa tahu saja kan Dinda benar ada di sana!
“Eh, nggak. Lagi nunggu Dinda nih, kok dia belum keluar juga ya? Aku tadi nyusulin ke kelas, tapi kelas sudah kosong, terus ke toilet kali aja dia di dalam.”
Ratu menjadi bingung sendiri, padahal dia yakin tadi Dinda sudah pulang.
“Eh, kirain kalian pulang barengan. Tadi Dinda pamit sama aku mau pulang kok.”
“Nggak ada. Aku tunggu Dinda tadi di parkiran, tapi dia nggak nongol. Makanya aku kira dia ada di kelas atau di toilet,” ujar Yoga.
“Nggak ada. Apa mungkin dia udah pulang duluan?” tanya Ratu mengemukakan pemikirannya.
"Nggak tau, kenapa kamu tanya aku?” Yoga menjadi bingung sendiri.
“Bisa aku minta tolong nggak? Tolong telepon Dinda dong, tanyain dia ada di mana, please!” ujar Yoga dengan tatapan lembutnya, Ratu menjadi terpana akan tatapan itu dan mengangguk setuju, lantas mengeluarkan hp-nya dan menyerahkannya kepada Yoga.
“Pinjem bentar ya,” ucap Yoga mengambil hp itu dari tangan Ratu.
__ADS_1
“Iya.”
“Thank’s.”
Tatapan Ratu tidak teralihkan dari Yoga, senyumnya lebar dia juga hampir tidak mengedip menatap betapa tampannya laki-laki tersebut, hingga saat terasa panas di bola matanya, barulah Ratu mengedipkan kelopak matanya.
Yoga menghubungi Dinda segera, tangannya dengan lincah mengetikkan nomor telepon yang kemudian tertera nama Bestie Kesayangan di sana.
*
Getar panggilan di hp Dinda terasa, tapi Dinda abaikan saja karena kali ini dia sedang berbicara dan tertawa riang dengan Galih. Laki-laki itu sangat bisa sekali menghidupkan suasana sehingga tidak pernah ada kata bosan saat di dekatnya.
“Dan kamu tau apa? Masa dia bilang kalau perkumpulan kami adalah perkumpulan sesat pemuja setan. Kan kocak tuh orang!” Galih tertawa, Dinda juga sama. “Ya ampun, udah jelas perkumpulan kita ini perkumpulan organisasi mahasiswa, kok malah disebut perkumpulan sesat. Haduh, rasanya pengen banget tuh anak aku sekap dan cuci otak sekalian.”
“Ya lagian juga namanya bikin orang curiga. Coba kalau namanya diganti dengan Grup Perkumpulan Mahasiswa Kece Nan Pintar, kan pasti dia mau ikut gabung tuh.”
Dinda menutup mulutnya dengan satu tangan.
“Ah, nggak seru lah kalau terlalu banyak anggota. Urus tiga puluh orang aja udah bikin aku gila, apa lagi kalau nambah banyak member. Nggak tau lagi deh dengan kelakuan mereka. Bisa-bisa aku yang masuk rumah sakit jiwa duluan. Kamu tau kan setiap anggota kita gimana?” tanya Galih, Dinda menganggukkan kepalanya, perutnya kini sakit akibat banyak tertawa dengan lelucon dan ghibahan Galih tentang teman-teman satu frekwensinya.
“Iya.”
“Tapi kalau kamu mau masuk ke grup kami, masih bisa kok. Aku akan sisakan satu slot buat kamu,” ucap Galih menawarkan. Namun, Dinda menggelengkan kepalanya.
“Nggak deh, makasih, Kak. Aku masih pengen waras, hehe. Lagian aku juga nggak bisa terlalu akrab dengan yang lain, aku juga terlalu mager buat pergi atau buat perkumpulan gitu. Rasanya lebih enak rebahan aja deh,” tolak Dinda. Galih tertawa mendengar keinginan Dinda.
“Iya, lebih baik jangan sih. Soalnya ....” Galih mengambil tangan Dinda dan menggenggamnya lembut. "Aku takut kalau kamu masuk ke sana kamu bakalan jadi pusat perhatian mereka,” ujar Galih.
Dinda tersenyum senang menatap tangannya yang digenggam sedemikian rupa oleh pemuda itu, tapi saat dia melihat cincin yang tersemat di sana, Dinda seketika menarik tangannya dari Galih. Tentu saja melihat hal itu Galih terkejut dan malu.
“Eh, maaf. Aku terbawa suasana. Maaf sekali,” ucap pemuda itu.
Dinda tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa, aku Cuma ....” Dinda menghentikan ucapannya, dia bingung akan melanjutkannya dengan kalimat apa.
“Aku terlalu terbawa suasana, Din. Saking senangnya kamu ada di sini. Bikin hati aku salting sebenarnya,” ujar Galih. Dada Dinda bergemuruh cukup kencang mendengar ucapan Galih barusan. “Aku suka sama kamu, kamu juga sudah tau kan dari lama?”
__ADS_1
Dinda terkesiap, terdiam mendengar ucapan itu lagi. Memang galih sudah menyukainya semenjak lama, tapi dia sendiri belum memberikan jawaban atas pertanyaan laki-laki itu beberapa bulan yang lalu.