Jodoh Lima Langkah

Jodoh Lima Langkah
15. Trik Memuaskan Pasangan


__ADS_3

Dinda merasa sebal saat mendengar semua itu dari ibu mertuanya. Entah kenapa, dia yang biasanya cuek dengan ucapan semacam itu, kini malah peduli dan rasanya sebal sekali saat Mama Puspa menyanjung orang lain.


"Elo kenapa?" tanya Yoga menyenggol lengan Dinda yang duduk di sampingnya.


"Nggak apa-apa," jawab Dinda, memilih memainkan hp-nya daripada menyaksikan semua itu.


"Nggak apa-apa kok masam gitu mukanya. Perut lo sakit? Mau gue beliin Kiranti?" tanya Yoga menawarkan diri. Dinda menatap Yoga dan mengerutkan keningnya.


"Lo kira gue lagi PMS?"


"Ya kali aja, kan elo lagi badmood kayak gini biasanya memang lagi PMS kan?" bisik Yoga sekali lagi.


"Nggak, gue nggak lagi PMS. Lagi malas aja. Mules gue!" ujar Dinda ketus, melirik ke arah Mama puspa dan Papa Heru yang senang akan kehadiran Ratu dan berbincang dengannya.


"Mules ya ke toilet lah. Ngapain juga masih di sini?" ujar Yoga.


Dinda merasa sebal, memutuskan untuk mengabaikan mereka dan bermain game saja.


"Tan, aku pamit ya. Udah siang nih, takut mami nyariin," pamit Ratu akhirnya setelah satu jam dia ada di sini.


"Eh, sebentar amat udah mau pamit aja," ujar Mama Puspa.


"Iya, Tan. Takut mami cari, soalnya aku nggak kasih kabar sama mami. Ini udah sore, kalau pulang telat nanti mami khawatir," ujar Ratu sekali lagi.


"Oh, iya. Ratu anak yang baik ya, anak soleh. Jarang loh ada anak zaman sekarang yang begini." Puspa melirik ke arah Yoga yang ada bersama dengan Dinda. Anaknya itu seringkali pergi ke luar tanpa pamit dan pulang menjelang malam.


"Eh, iya, Tan. Aku memang diajarkan sama mami dan papi kalau keluar harus pamit, soalnya aku anak satu-satunya. Biasalah, mereka takut aku kenapa-kenapa," ujar Ratu lagi sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Dinda melirik sebal pada sosok sahabatnya itu, ingin sekali dia mengatakan jika itu bohong. Ratu dengan segala hidup glamor dan pergaulannya yang 'waahh!', juga suka pergi clubbing hingga menjelang pagi, sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dia katakan dan juga tak pantas mendapatkan sanjungan yang Mama Puspa yang tadi diberikan.


"Saya pamit ya, Tan, Om. Lain kali kalau boleh saya ke sini lagi buat jenguk," ujar gadis itu sambil menyodorkan tangannya dan mencium punggung tangan Puspa dan Heru.


"Iya, tentu aja boleh. Kenapa nggak boleh?" kata Mama Puspa yang membuat Ratu menjadi senang.


"Din, anter yuk, aku mau pulang. Takut Mami telepon," ujar Ratu.


Dinda tidak menyahut, hanya berdiri dan mendahului pergi ke luar dari ruangan itu.


"Anak yang baik," ucap Puspa sebelum Ratu keluar dari sana.


Ratu mengikuti langkah kaki Dinda dan tersenyum kegirangan. Melompat senang bak anak kecil yang diberikan hadiah.


"Waah, gue seneng banget bisa ketemu sama mereka. Baik banget mereka. Cocok lah kalau jadi mertua gue yang cetar membahana ini," ujar Ratu dengan nada yang riang, lupa jika tadi dia berubah menjadi wanita yang elegan dengan segala kekalemannya. Dinda memutar bola matanya malas.


"Ya nggak pa-pa. Kan demi terlihat baik dan soleh di mata kedua calon mertua gue!" ujar Ratu dengan bangga.


"Ckckck, kalau mereka sampai tau sifat elo yang bener gimana?"


"Ih, ya jangan dong. Please. Masa elo tega mau kasih tau mereka sifat gue. Gue traktir deh, selama seminggu ini. Jangan bocorin kelakuan gue sama mereka," ujar Ratu memohon sambil memegang tangan Dinda.


*


Ratu sudah pergi, Dinda kembali ke dalam ruangan Mama Puspa dan kembali duduk di sofa yang ada di sana. Mama Puspa sedang menikmati buah apel yang tadi dikupas oleh Ratu.


"Din, mau ini? Banyak buah. Sudah makan apa belum?" tanya Mama Puspa dengan suara yang sudah tidak lagi lemah seperti hari kemarin.

__ADS_1


"Nggak deh, Ma. Buah buat Mama juga," ujar Dinda.


"Nggak apa-apa, banyak kok. Lagian Mama juga nggak akan habis dimakan sendiri. Kalau buat hari besok juga nggak akan seger lagi. Yuk, mendingan makan bareng-bareng," ajak Mama Puspa.


"Iya, Din. Atau kamu mau makan yang lain? Biar Yoga carikan," ujar Heru.


Dinda merasa tidak enak hati atas perhatian yang kedua mertuanya berikan sehingga dia mendekat pada Puspa dan mengupas buah yang ada di sana.


"Ratu anak yang baik ya," celetuk Puspa tiba-tiba membuat Dinda berhenti mengupas buah di tangannya.


"Iya, dia memang anak yang baik."


"Kamu juga harus belajar masak sama dia. Biar pinter masak," ucap Puspa lagi.


Entah kenapa hati Dinda tiba-tiba saja menciut mendengar ucapan dari mertuanya ini. Berbeda dengan Heru yang melirik Dinda yang sedari tadi berubah masam wajahnya.


"Nggak bisa masak juga nggak apa-apa kali, Ma. Kan Yoga juga pinter masak, kenapa juga harus masak sama anak yang tadi. Toh kalau belajar masak sama suami sendiri kan rasanya malah semakin berkesan. Bisa sambil ***-*** di meja dapur," ujar Papa Heru sambil terkekeh dengan pelan tanpa menutup mulutnya sama sekali.


"Eh, bene juga. Jadi inget dulu kita gimana." Mama Puspa terkekeh, menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Matanya melirik ke arah anak dan menantunya yang duduk di sofa.


Yoga dan Dinda yang mendengar itu menjadi malu, wajah mereka sudah memerah dan kedua orang itu saling menjauhkan dirinya satu sama lain.


"Kalian ngomong apa juga! Nyebelin. Bahas begituan di depan kita," ujar Yoga salah tingkah.


"Lah, memang ya kenapa? Nggak salah kan? Kalian juga sudah sah jadi suami istri. Sesekali berguru sama Mama atau Papa. Kami bisa kasih tau trik untuk memuaskan pasangan," bisik Papa Heru di akhir kalimatnya.


"Udah, ah. Kalian ini ngadi-ngadi. Lagian juga, mana mau kita main di dapur? Nanti kalau kalian ada di rumah pas kita main tusuk-tusukkan, keenakan kalian dong, nonton gratis!" ujar Yoga.

__ADS_1


Dinda mendengar ucapan sahabatnya itu dengan malu. Ingin rasanya menyimpan mulut Yoga dengan menggunakan kaos kaki ya yang belum dia ganti selama empat hari.


__ADS_2