
"Yoga. Nih, sahabat Dinda!" Tunjuk Ratu dengan dagunya. Galih mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh, yang cowok pake motor gede itu ya?" tanya Galih.
"Iya, siapa lagi?" ujar Ratu dengan santai.
Galih tertawa kecil, sementara Dinda hanya diam saja sambil menahan geram karena ucapan Ratu tadi.
"Oh ya, Din. Malam Minggu nanti kamu bisa nggak datang ke pestaku?" tanya Galih.
"Pesta apa?" tanya Dinda saat Ratu tidak lagi berbicara.
"Hari peringatan bertambahnya usia," ujar laki-laki itu sambil tersenyum malu.
"Waah, Kak Galih ulang tahun?" celetuk Ratu.
"Bukan ulang tahun juga, sih. Tapi, bertambah usia, makin tua," ucap Galih merendah.
"Akh, makin tua, tapi makin hot. Aduh!" Ratu melirik sahabatnya yang baru saja menyikutnya untuk yang kedua kali di hari ini.
"Nggak sopan!"
Galih lagi-lagi tertawa melihat apa yang Dinda lakukan terhadap sahabatnya.
"Nggak apa-apa, Din. Memang bener apa yang Ratu bilang. Makin hot kan lebih baik. Itu tandanya kita sudah matang, kan?"
__ADS_1
Dinda tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Jadi, kalian bisa kan datang malam minggu nanti?" tanya Galih sekali lagi.
Ratu segera menjawab bisa, sementara Dinda yang terkhusus diundang malah merasa bingung.
"Dinda juga bisa. Kan, Din? Biasanya juga malam minggu ada waktu luang. Jomlo dia!" tunjuk Ratu sambil merengkuh lengan Dinda dan tersenyum.
"Ah, Ratu--"
"Bisa kan, Din? Sama gue kalau misal nyokap elo nggak kasih izin. Biar Ratu yang urus soal itu!" ujar wanita ini sambil menepuk dadanya dengan penuh semangat.
"Aku harap kalian bisa datang, terutama kamu, Din." Galih penuh harap akan kehadiran dari Dinda malam Minggu nanti. "Aku pengen banget kenalin kamu sama orang tua aku dan adikku. Hasya pengen banget ketemu sama kamu."
Dinda terkejut mendengar ucapan Galih tersebut.
"Loh, aku--"
Ratu ingin berbicara lagi, tapi sering telepon membuatnya urung berkata apa-apa. Ratu segera mengambil hp-nya yang ada di dalam tas dan berpamitan setelah melihat nama yang tertera di sana.
"Eh, Mama. Aku pamit dulu angkat telepon," ucap Ratu. Dinda dan Galih menganggukkan kepala.
Kini tinggallah dua orang itu di sana, diam dengan kaku.
"Em ... Kak Galih, yang diundang siapa aja ke pesta?" tanya Dinda.
"Beberapa orang, teman baik lah. Paling cuma dua puluh lima sampai tiga puluh orang," ucap Galih.
__ADS_1
"Oh, banyak juga ya."
"Iya, lumayan. Jangan lupa datang ya."
Dinda menundukkan kepalanya, dia merasa bingung karena sekarang ini tinggal bersama dengan Mama Puspa.
"Aku nggak bisa janji, Kak. Tapi kalau bisa tentu aku akan datang," ujar Dinda. Galih menjawab dengan anggukkan kepalanya.
Pertemuan mereka berakhir setelah makan siang selesai. Dinda dan Ratu berpisah dengan Galih ke kelasnya masing-masing.
Dinda merasa senang dengan undangan dari Galih, semoga saja dia bisa datang ke pesta itu nanti pada saat malam minggu.
"Din, elo pulang sama Yoga lagi?" tanya Ratu setelahmereka selesai dengan kelasnya.
"Iya, kenapa?"
"Nggak apa-apa. Tadinya gue mau ngajak ke maal. Itu juga kalau elo mau sih," ucap Ratu.
Dinda melihat jam yang ada di tangannya. Yoga pasti akan menunggunya sebentar lagi.
"Aku nggak bisa, lain kali aja ya. Yoga bakalan ngambek kalau gue pulang kuliah terus main."
Ratu mencebik sebal. "Ish, elo sama dia tuh dah kayak pasangan aja tau! Kapan dia bakalan lirik gue ya?" damba Ratu.
"Nggak tau. Elonya aja kali yang kegatelan sama si Yoga.
__ADS_1
Padahal yang lian juga banyak. Udah ah, gue mau tanya Yoga dulu udah di mana dia."
Dinda berlalu dari kelas tersebut dan meninggalkan Ratu, tapi saat dia sampai di parkiran, dia melihat Yoga dengan seornag wanita, tengah berbicara dan sangat akrab sekali.