
"Loh, Yoga kok nggak kerja?" tanya Mama Puspa saat melihat sang putra yang masih ada di area dapur. Yoga yang sedang sibuk membersihkan daging ayam yang sedang dicuci di wastafel menolehkan kepalanya dan tersenyum melihat sang ibu yang ada di ambang pintu.
"Sebentar lagi, Ma. Bantu Dinda masak dulu."
"Oh."
Sementara itu Dinda merasa malu saat melihat Mama Puspa yang meliriknya. Pikirannya kemana-mana saat ini, takut dan pastinya malu karena sebagai seorang wanita dia tidak bisa memasak sama sekali.
"Ya sudah. Mama tadinya mau bantu Dinda masak, tapi sudah ada kamu, ya kamu aja yang masak bareng Dinda." Mama Puspa tertawa kecil, kemudian pergi setelah mengambil air minum untuknya.
Dinda masih menundukkan kepalanya, malu rasanya karena ucapan Mama Puspa tadi. Pikirannya sedang sibuk memikirkan jiak dia ingin lebih baik lagi untuk ke depannya, tidak mungkin rasanya Mama Puspa atau Yoga yang terus saja memasak untuknya sementara dia dengan status menantu hanya makan dan tidur saja kerjaannya.
"Hei, ngelamun. Minta sereh sama daun salam di kulkas," ucap Yoga sambil menyenggol bahu Dinda.
Dinda terkejut dengan perlakuan suaminya itu.
"Eh, apa?" tanyanya.
"Ambil sereh sama daun salam," ulang Yoga. Gegas Dinda membuka kulkas dan mengambil apa yang diminta oleh Yoga, jika hanya bumbu dapur dia hapal, tapi untuk rasa masakan dia tidak pede sama sekali karena seringkali tidak enak.
"Ini." Dinda memberikan dua benda tersebut kepada Yoga dan diterima dengan diiringi senyuman manis pemuda tesebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Istriku."
"Hah?" Dinda melongo mendengar panggilan yang tidak biasa dari laki-laki itu.
"Hah, apanya?" goda Yoga menatap sang istri sambil tersenyum jahil.
"Eh, nggak." Dinda menggelengkan kepalanya, sepertinya dia salah mendengar apa yang Yoga katakan tadi.
"Ayo kita mulai masak," ucap Yoga sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya." Dinda menuruti perkataan Yoga dan mulai mengikuti langkah yang Yoga katakan tadi, setiap step dia patuhi termasuk saat memasak bersama pria itu.
"Enak. Ini enak banget. Gimana bisa kamu masak seenak ini, padahal kan nggak ada yang ajarin kamu masak?" ujar Dinda menatap sang suami dengan tatapan heran sekaligus kagum.
"Dari Mama lah. Kamu tau kan kalau Mama tuh jago masak apa pun sedari dulu," ucap Yoga menjawab pertanyaan dari istrinya, Dinda mengakui itu, Yoga tidak perlu jauh belajar karena ada Puspa yang bisa mengajarinya untuk memasak.
"Wah, aku aja yang cewek nggak bisa masak. Nggak tau deh gimana nanti kalau aku punya suami orang lain. Apa mereka bisa atau nggak terima aku yang nggak bisa masak jadi istrinya," celetuk Dinda tiba-tiba.
Yoga mendengar itu, ada rasa tidak suka darinya. "Kamu nggak perlu sama yang lain. Apa aku aja nggak cukup buat jadi suami kamu?" tanya Yoga, Dinda menatap Yoga dengan bingung. Jelas bingung karena dia yang juga masih dalam tahap penyangkalan dari pernyataan Yoga tadi.
Tiba-tiba saja Yoga mendekat dan terus mendekat membuat Dinda kaget dan refleks mundur karena tubuh mereka yang semakin dekat. Jelas Yoga sengaja menyudutkannya hingga punggungnya menubruk lemari es dengan tangan Yoga yang berada di dua sisi tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dinda, suaranya bergetar saat Yoga semakin mendekatkan wajahnya saja.
"Apa yang aku lakukan? Aku cuma pengen bilang aja sama kamu, jangan pernah coba mikir buat cari pengganti aku. Apa aku nggak cukup baik buat jadi suami kamu?" Tatapan pria itu menusuk ke kedalaman mata Dinda, terlihat percaya diri dan bersungguh-sungguh.
"Apa aku nggak layak?" tanyanya lagi.
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Ng-nggak. Anu ... aku cuma lagi mikir--"
"Mikir apa?" tanya Yoga, satu tangannya mengambil dagu Dinda dan tanpa ragu pria muda itu kembali mencium Dinda dengan tanpa gadis itu duga sama sekali. Dinda tidak menyangka jika lagi-lagi Yoga akan menciumnya, dan ini dia lakukan di dapur!
Tubuh Dinda panas dingin mendapatkan perlakuan itu dari sang sahabat yang telah menjadi suaminya beberapa bulan ini. Dia tidak bisa menolak atau menghindar, yang terjadi malah menutup mata dan menerima perlakuan yang diberikan dengan sangat lembut oleh pria itu.
Dinda tidak tahan, rasanya meleleh dan dia ingin pingsan sekarang juga saat mendapatkan perlakuan istimewa dari pria itu, sementara Yoga tidak ingin melepaskan ciuman dari bibir manis nan hangat sang istri.
Suara decap bibir mereka mulai terdengar, bergerak halus dengan belitan dan l*mat*n pelan yang tidak menuntut sama sekali. Gemuruh dadanya terdengar kencang, tapi mereka tidak peduli itu. Untuk sekarang ini, mereka hanya peduli dengan waktu dan moment yang ternyata sangat menyenangkan sekali. Hal yang tidak pernah mereka duga selama ini jika sebuah persahabatan ternyata melahirkan sebuah perasaan lain hingga membuat galau dua hati dari dua insan berbeda jenis ini.
Puspa merasa sangat lapar dan menyusul makanan miliknya yang mungkin saja sudah matang. Namun, saat masuk ke dalam area dapur dan melihat kedua anaknya sedang saling membelit lidah tanpa ragu sama sekali, dia mengurungkan niatnya dan kembali ke tempatnya semula, menahan lapar yang menderanya sedari tadi.
"Aku nggak boleh ganggu. Sabar ya," ucapnya sambil mengusap perutnya yang mulai berbunyi. "Memang anak muda zaman sekarang, mentang-mentang pengantin baru kalau lagi berduaan, cari-cari kesempatan nggak tau di mana!" gumamnya.
__ADS_1