
Sementara itu di rumah Dinda, Irma dan Wildan baru saja selesai sarapan. Mereka tidak menyangka jika Dinda pulang ke rumah mereka dan berjalan ke arah tangga saat sang ibu akan membereskan meja makan.
"Loh, Din. Kok kamu pulang?" tanya Irma heran saat melihat Dinda menaiki anak tangga.
"Mau mandi!" ujar gadis itu.
Irma dan Wildan saling bertatapan satu sama lain. Heran kenapa bisa Dinda mandi di rumah ini.
Selesai Dinda mandi, Dinda langsung menuju ke arah dapur, mencari makanan yang ada di sana, tapi hanya ada telur dadar saja dan sambal kecap.
"Loh, Ma. Cuma ada ini aja?" tanya Dinda memperlihatkan piring yang baru saja dia keluarkan dari tudung saji di atas meja.
"Iya, Mama nggak masak. Simpel aja cuma dadar telur. Kamu kan biasanya juga sarapan di sana. Semenjak kamu ada di sana Mama bisa hemat banyak loh!" Irma tertawa terkekeh, seakan itu adalah hal yang lucu. Sementara Dinda mencebik kesal mendengar ucapan guyonan yang entah itu memang sebuah guyonan atau sebuah kenyataan dengan ucapan syukur.
"Ish, Mama. Sungguh terlalu!"
Dinda mengembalikan piring tersebut ke dalam tudung saji dan kembali berjalan melewati sang mama yang sepagi ini sudah menonton drakor.
"Mau kemana lagi?" tanya Irma.
"Sarapan di rumah mertua. Biar Mama makin hemat!" seru Dinda dengan nada ketus.
Irma terkekeh sambil menatap sang putri yang kembali ke luar dari rumah tersebut.
Wildan baru saja keluar dari kamarnya, telah bersiap dengan pakaian kerja.
"Loh, Dinda kemana?" tanya Wildan menatap pintu yang setengah tertutup.
"Pulang lagi ke rumah suaminya." Irma bangkit, membantu merapikan dasi di leher sang suami.
"Nggak sarapan di sini?" tanya Wildan.
"Nggak. Dia lihat telur dadar, jadi nggak mau. Kalau yang dia lihat daging rendang, dia pasti bakalan sarapan di sini," ujar Irma sambil terkekeh.
Wildan menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan apa yang dikatakan sang istri.
__ADS_1
"Kamu ini, Maa ... Ma. Ada-ada aja, sih. Kenapa juga nggak dikeluarkan tuh rendang?" tanya Wildan.
"Sengaja, Pa. Memang sengaja Mama nggak keluarin. Nanti kalau dia tau ada rendang, dia nggak akan sarapan di rumah suaminya. Habis deh rendang punya Mama," ucap Irma tanpa rasa bersalah sama sekali.
...*...
Dinda kembali ke rumah mertuanya, sudah mandi dan bersiap, tas sudah ada di kamar Yoga tidak perlu dia bawa lagi dari rumah.
"Ayo kita makan," ajak Mama Puspa saat Dinda sudah masuk ke dalam rumah.
Dinda memang lapar, maka dari itu dia segera bergabung di meja makan bersama dengan anggota keluarga yang lainnya.
"Ini, kamu makan yang banyak, biar nggak kurus. Masa tinggal di sini tetap kurus, apa yang bakalan dikatakan orang lain?" Yoga memberikan paha ayam yang dia masak rica-rica, sementara untuk sang ibu yang sedang diet pedas, dia masakkan ayam kecap saja.
"Cih, kirain ngasih perhatian, rupanya cuma ngejek aja!" ujar Dinda sebal.
"Yoga! Kalau ngomong tuh yang bener, yang sopan sama istri sendiri meski Dinda ini adalah sahabat kamu, tapi kan Dinda sekarang sudah jadi istri kamu!" tegur sang ibu. Yoga hanya menjawab dengan senyuman saja, kemudian tidak mempedulikan yang lain dan melanjutkan acara makannya.
Puspa sangat senang sekali dengan adanya Dinda di sini, suasana saat sarapan pagi semakin ramai saja. Puspa sangat memperhatikan Dinda, menyuruhnya untuk menambah lauk dan tak segan mengambilkan banyak daging untuk menantunya itu.
Kini di atas piringnya terdapat banyak lauk sehingga Dinda tidak bisa melihat di mana keberadaan nasinya.
"Ma, sudah cukup. Dinda nggak bisa makan kalau terus Mama simpan lauk pauknya. Licik banget sih, nasinya nggak nambah, tapi lauknya nambah banyak," ujar Yoga sedikit iri, biasanya dia yang akan mendapatkan perhatian itu, tapi kini setelah ada Dinda, gadis itu yang mendapatkannya.
Setelah selesai sarapan, dua orang itu bersiap untuk pergi ke kampusnya.
"Eh, kemana lo?" tanya Yoga saat Dinda pergi mendahuluinya.
"Pamit sama Mama lah. Kamu juga. Pamit sama ibu mertua!" titah Dinda. Yoga mengeluarkan motornya dari halaman rumah dan bersama dengan Dinda menuju ke rumah sebelah.
"Menantu, mau pamit?" tanya Irma yang mendengar Dinda memanggilnya di ambang pintu. Senyum Irma mengembang saat melihat sosok menantu kesayangannya.
"Iya, Ma. Aku berangkat dulu." Dinda mencium tangan Irma, begitu juga dengan Yoga yang melakukan hal yang sama.
"Aku juga, Ma. Aku pamit ya. Doakan biar menantu Mama yang hanya satu-satunya ini sukses dan bisa membuat istrinya bahagia," ujar Yoga sambil mencium punggung tangan sang ibu mertua.
__ADS_1
"Iya dong, Ga. Mama pasti akan doakan yang terbaik untuk kamu dan Dinda. Yang semangat belajarnya, biar tercapai cita-cita," ucap Mama Irma mengelus pundak menantunya. Dinda menatap ibunya dengan tak suka, biasanya dia yang didoakan seperti itu, kini ada yang lain yang menjadi perhatian sang ibu.
"Makasih, Ma. Kami pamit ya." Yoga menganggukkan kepala kepada Irma.
Dua orang itu kemudian pergi dengan memakai motor Yoga, Dinda sebal jika Yoga memakai motor ini, sedikit sulit untuknya naik dengan tubuh yang mungil dan harus berpegangan pada tubuh Yoga.
"Lama-lama gue encok kalau pake motor ini!" ujar Dinda sebal.
"Lah kenapa?" tanya Yoga sebelum melajukan motornya.
"Naik susah, turun juga susah. Posisi duduk mesti condong ke depan. Gimana mau ngak encok gue!" ujar Dinda.
"Tapi enak kan? Bisa peluk gue setiap hari?" goda Yoga.
"Cih, peluk elo? Terpaksa Yoga! Gue nggak mau ya elo ngerem mendadak dan bikin gue kejungkal!" cerca Dinda.
Yoga tersenyum saja. Dia hanya menggelengkan kepala dan kini mulai melajukan motor itu dengan kecepatan yang sedang. Kedua mama ada di teras rumah masing-masing menunggu dua orang anaknya itu pergi.
"Mbak Besan!" panggil Irma dan mendekat pada pagar samping yang membatasi rumah mereka berdua. "Sudah enakan?" tanya Irma.
"Sudah, Mbak Besan. Alhamdulillah, enakan sedikit." Tak lupa Mama Puspa puspa juga mendekat dan melipat kedua tangannya di atas pagar.
"Alhamdulillah. Aku masakin sesuatu, mau?" tanya Irma menawarkan.
"Hem, apa ya?" Puspa mencoba berpikir.
"Ada sayur apa di rumah? Aku punya daging rendang loh!" ujar Irma memberitahu, siapa tahu saja Puspa ingin makan rendang buatannya.
"Ada ayam kecap sih, sama sayur capcay buatan si Yoga. Tapi, kalau Mbak Besan mau kirim daging rendang juga nggak apa-apa. Makan di sini saja yuk, nanti siang. Bawa satu potong aja, aku pengen icip."
"Ayo aja, eh ... Tadi Yoga yang masak? Dinda bantuin nggak?" tanya Irma khawatir, pasalnya anak itu suka bangun siang dan tidak pernah membantunya. Dia sempat khawatir jika Dinda akan membuat repot seisi rumah Puspa. Malu lah kalau ketahuan anak itu pemalas.
"Bantuin kok. Dinda malah bangun pagi, semangat bantuin suaminya di dapur!"
Irma menghela napasnya dengan lega, mengurut dadanya yang sedari kemarin merasa khawatir sedari status anak itu menjadi istri Yoga.
__ADS_1
Syukur deh kalau Dinda sudah berubah. Aku jadi nggak terlalu khawatir kalau begitu, gumam Irma di dalam hati.