
Yoga mematikan lampu, Dinda merapatkan selimut hingga menutupi lehernya. Takut-takut wanita itu mengintip dari balik selimut saat Yoga mendekat dan semakin mendekat.
Dag. Dig. Dug. Bunyi jantungnya jangan sampai dia malah sesak napas pula. Dinda hanya ingin keluar dari sini dengan selamat di keesokan harinya.
“Apa kamu bener siap?” tanya yoga. Dinda berharap Yoga tidak bertanya karena dia ingin pergi sekarang juga.
“A-aku ... aku takut. Sakit nggak ya?” Pertanyaan yang bodoh, jelas beberapa orang berkata jika saat malam pertama mereka kesakitan hingga menangis dan ada pula yang pingsan akibat tidak kuat dengan benda asing yang memaksa masuk ke dalam inti tubuh mereka.
“Jadi, kamu nggak mau malam ini?” Yoga bernapas dengan lirih, sedikit kecewa apa bila dia tidak mendapatkan haknya.
“Eh, bukan, Nggak. Aku m-mau kok. Tapi jangan kenceng-kenceng ya,” pinta Dinda.
“Iya.”
Yoga mendekat, duduk di samping Dinda, tapi bukannya bergerak laki-laki itu hanya diam dan memainkan jemarinya di atas pangkuan.
Jelas saja mereka canggung. Biasanya mereka akan berdebat dan bertengkar di atas tempat tidur, sebagai sahabat tentunya. Tapi sekarang ini, dia akan bersama sebagai pasangan suami istri.
“Ga. Kok diam saja?” tanya Dinda menyadarkan Yoga dari lamunan.
“eh, anu ... rasanya kok aneh ya.”
“Aneh kenapa?”
__ADS_1
“Nggak tau. Itu ....”
Yoga malu, juga tidak tahu harus berbuat apa, padahal dia sering menonton film dewasa dan dia sangat yakin jika dia cukup hebat untuk membuat istrinya melenguh kenikmatan, tapi sekarang saja tubuhnya kaku bak kayu yang tidak bisa bergerak.
“Aku canggung. Sebentar.”
Sebuah tarikan napas Yoga lakukan, setelah itu mengembuskannya pelan. Begitu juga dengan Dinda yang masih ada di dalam selimutnya.
“Sudah siap?”
“He-em.”
Yoga menyingkirkan selimut yang ada di tubuh Dinda, meraih kedua bahu wanita itu dan menarik ke dekatnya. Dia akan mencium Dinda, tapi posisi sejajar kepalanya dengan Dinda membuat laki-laki itu semakin canggung. Begitu juga dengan Dinda yang tertawa malu karena posisi yang sama.
“Kamu ke kanan, aku ke kiri.” Bukannya berhasil, lagi-lagi hidung mereka bertubrukan, sehingga keduanya malu bukan kepalang.
“Hah, lama!” Dinda meraih kepala Yoga dan mendekatkan bibirnya sehingga saling menyatu. Yoga terkejut karena Dinda, tapi setelah itu dia menutup mata dan menikmati permainan lidah mereka yang saling berdecap dengan suara yang indah.
Tubuh keduanya semakin larut dan terbaring ke atas kasur. Perlahan Yoga menaiki tubuh Dinda dan menurunkan ciumannya ke leher.
“Ah, eeummmh ....”
Dinda mengeluarkan suara seksinya, serak yang tidak dia sangka sebelumnya.
__ADS_1
Malam yang dingin itu seketika berubah menjadi panas untuk mereka berdua.
Tidak sampai sepuluh menit, Yoga telah berhasil melepaskan seluruh pakaian di tubuh Dinda, begitu juga dengan tubuhnya yang tadi hanya terlilit handuk saja.
“Ah ....”
Napas keduanya terengah, berebut oksigen yang seakan tidak akan ada lagi. Lidah berkelit, menyesap, dan saling merasai satu sama lain. Manis dan hangat, suaranya terpadu dalam alunan yang indah.
“Sudah siap?” tanya Yoga.
Dinda mengangguk dengan ragu.
“Aku mulai ya.”
“Pelan-pelan.”
“Iya.”
Yoga menyentuh miliknya, mengarahkan benda tumpul berurat itu ke celah di antara pangkal paha sang istri.
“Tahan ya.”
“Akh! Sakit!”
__ADS_1