
Za mengintip dari balik jendela, terlihat sosok yang ia tunggu muncul dari dalam mobil.
Idris berjalan mendekati pintu. Za yang sudah berada di balik pintu menanti sang suami mengetuk pintu. Idris mengetuk pintu, Za terdiam sesaat, mengontrol debar yang selalu bermunculan di kala ia menatap suaminnya, membiarkan Idris mengulangi ketukannya, hingga di ketukan yang ketiga barulah ia bukakan pintu untuk suaminnya.
setelah pintu di buka, sesaat mereka saling mematung, saling menatap dan tersenyum canggung.
Lalu di raih nya tangan Idris, lantas ia cium punggung tangan suaminnya. Sedang Idris hanya terbengong dengan sikap Za.
"Mas, sudah makan?" Sejujurnya ingin sekali bertannya kenapa ia baru pulang selarut ini, namun Za fikit, mungkin Idris ada urusan pribadi dan ia tidak boleh ikut campur urusan pribadi suaminya.
"Sudah" jawab Idris, singkat.
"Heeh, kita masuk dok!" nampak helaan kecewa Za.
Mereka memasuk ke dalam rumah, tapi, tiba-tiba.
Kruyuk ....
Suara perut Za terdengar oleh Idris, Za yang memang belum makan sejak sore tadi, karena menunggu Idris agar bisa makan bersamannya.
sontak Idris menoleh dan menatap Za.
"Kamu belum makan?" tanya Idris.
Sedang wajah Za merah merona, menahan malu. lalu ia mengangguk.
"Yasudah, ayo kita makan!" ajak Idris pada Za.
"Loh, katannya mas sudah makan?" Tannya Za, polos.
Idris tak menjawab, ia langkahkan kakinya menuju meja makan. di ikuti Za dari belakang.
Idris mendudukkan dirinya di atas kursi begitupun dengan Za. Za melayani suaminnya seperti biasa. lalu mereka menyantap makanan dalam diam.
Di tengah menikmati makan malam nya, Za yang sejujurnya penasaran dengan Idris yang pulang selarut ini, namun tak berani bertannya, dan ahirnnya hanya bisa melirik Idris.
Tak sengaja mata mereka saling bertemu, buru-buru Za mengalihkan pandangannya ke makanan yang sedang ia makan.
Idris menyadari tatapan Za, tatapan penuh tanya. Pasti Za ingin tau kenapa ia terlambat pulang. Batinnya mencoba menduga.
"Maaf, kalau tadi kamu nunggu saya" Idris mulai membuka suara di sela makan malam mereka.
"Sebelum jam peraktek saya habis tadi, ada kecelakaan mobil beruntun dan para korbannya di bawa kerumah sakit. karena ada beberapa korban yang mengidap penyakit jantung, jadi saya harus ikut menangani mereka." Jelasnya tanpa di minta.
"lain kali, kalau selarut ini saya belum pulang, kamu makan duluan saja, jangan tunggu saya"
__ADS_1
lagi sang dokter berucap.
Za tertegun, menelan nasi yang lembut pun serupa menelan batu, tercekak di tenggorokan, Susahpayah ia menelannya.
Bagi Za, Idris tak ubahnya seperti cenayang, yang mampu membaca fikiran seseorang.
sedang seburat merah kembali menghiasi pipinnya.
Malam itu, Za tak bisa tidur, debar-debar aneh itu kembali menguasai nya. Ia paksakan matannya tuk terpejam, namun dalam mata yang tertutup itu kembali melihat wajah seseorang muncul. yah, siapa lagi kalau bukan wajah suaminnya.
Za membalikan badannya mengubah posisi tidur nya, berharap wajah rupawan suaminnya menghilang di telan mimpi. tapi semakin ia menutup mata semakin jelas wajah pria itu muncul di muara.
Za mengusap wajahnnya dengan kasar, jam menunjukan jam dua dini hari, mata yang sebenernya sudah lelah itupun tak bisa di ajak kompromi, tetep melek, walau kantuk menerjang.
Hingga ahirnnya Za terpejam dengan membiarkan bayang rupawan suaminnya tenggelam dalam lelap, berlayar bersama mimpinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa hari setelah kejadian malam itu. Idris mendapatkan jatah libur, ia pergunakan hari libur nya untuk mengistirahatkan diri, bersantai di rumah, menjadi pilihannya.
Centing ....
Suara notif dari gawainya, segera ia buka.
Tertera nama sahabat nya Sam, mengirim chat.
'Rumah'
'Ini dah siang kali!'
'Dapat jatah istirahat'
'Oh,'
'Cie, jangan-jangan mau bulan madu nih, ye,' tulis Sam di Sertai emot mata mengedip.
Berkerut dahi Idris, disertai senyuman.
'Husnudzon bener fikiran mu, bro!'
'Ha ha ha, yalah.'
'RS, rame, bro' tulis Sam lagi.
'Ya, iyalah!, kalau sepi mah kuburan kali!'
__ADS_1
'He he, ya, juga, yah'
'Tapi, kali ini rame nya gara-gara, loe!'
'Apa urusannya?'
'Mereka heboh, karena tau loh udah nikah di RS' mata Idris membulat membaca chat dari Sam.
Bukankah ia dan Za menikah secara diam-diam, bahkan bisa di bilang secara sembunyi-sembunyi juga. Bagaimana mungkin ada yang tahu?. Dari mana mereka tahu?.
'Terserah kalau mereka Dris, gue cuma takut, berita ini sampe ke mamah loe, dan mamah loe tau dari orang lain, sebelum loe sendiri yang kasih tau. Gue cuma mau saranin, supaya loe cepet kasih tau mamah loe. Gue tau pasti mamah loe masih trauma sama pernikahan kakak loe, tapi, loe harus coba bicarain baik-baik.' chat nya lagi panjang lebar, udah kaya orang lagi ceramah.
Idris diam sejenak, berfikir jika apa yang di katakan Sam ada benarnya. Namun Idris belum menemukan cara untuk memberitahukan pernikahannya pada sang mama tanpa harus membuat mamah nya kembali mengingat pernikahan nya dan kakaknya yang gagal.
Mah, tak semua orang itu memiliki nasib yang sama, batin Idris.
Tapi, bagaimana ia memberitahukan mamah nya, jika hubungannya dan Za saja masih sebeku ini, Idris berfikir jika ia harus mencairkan dulu hubungannya dengan Za, baru membicarakan hubungannya ini dengan sang mama.
'Aku usahakan, thanks nasihat nya. Tumben ngomongnya kaya orang waras kamu Sam!'
'Yaelah, jadi selama ini Lo anggap gue, sedeng!. Cik, dasar temen gak ada duanya loh, kalau ngomong bener!' disertai emot ketawa yang berjejer hingga dua paragraf.
"Nih anak di katain kok, malah bangga, yah."
****
Za datang membawakan secangkir kopi untuk Idris, Idris berterima kasih pada Za. Jika biasannya setelah menghantarkan kopi pada Idris Za akan pergi membaur dengan kesibukannya sendiri, tapi tidak dengan hari ini.
Za ikut duduk di kursi yang bersebelahan dengan Idris, di tatapnnya Idris yang terlihat sibuk dengan gawainya.
sadar jika ada yang menatapnya, Idris menaro handphone nya di atas meja, laludi tatapnnya Za.
"Ada apa?" seperti biasa, Idris selalu sepeka ini pada Za.
"Saya ... mau bicara" ucap Za ragu.
"Bicaralah!" Idris mengambil kopi di atas meja dan meminumnya perlahan.
"Dok, apa dokter tidak lelah dengan hubungan kita ini?" Za mulai bicara. sedang Idris mendengarkannya dengan seksama.
"Kita suami istri, tapi tak selayaknya pasangan suami istri. Dok, sebelum dokter menikah dengan saya, tentu dokter juga punya kehidupan dokter sendiri, dan saya tau, mungkin dokter terpaksa menikah dengan saya, begitupun juga saya. Saya ...." sedik ragu Za mengatakannya.
"Saya tidak bisa terus-terusan menjadi beban dokter. Dok! ... lepaskan saja saya, dan jalani kehidupan dokter seperti sebelum dokter bertemu dengan saya"
bersambung.....
__ADS_1
sedeng \= gila