
Dua hari lagi acara syukuran empat bulanan Khanza akan di di selenggarakan, ada beberapa orang berseliweran di rumah untuk mendekorasi.
Aku memilih menepi di taman belakang sembari menyeruput kopi hitam di temani nikotin yang melenakan. Entahlah semenjak mendengar perkataan Syifa tempo hari aku seolah hilang semangat untuk hidup, hingga kembali lari pada nikotin guna menenangkan pikiranku.
" Rayan, papa cari kamu di mana-mana ternyata kamu ada di sini. "
" Ada apa pah? "
" Kamu merokok, papa baru kali ini liat kamu merokok? "
" Hanya iseng kok pah. " ku tampilkan senyum agar papa percaya jika yang ku hirup ini hanya sebuah keisengan bukan pelampiasan atas masalah hatiku yang berantakan.
Papa mendekat dan ikut duduk di hadapanku. " Ada yang ingin kamu ceritakan Rayan? Papa ini papa kamu papa kandung kamu, bukan orang asing Rayan. "
Ku tatap papa, benar juga sebenarnya aku memang butuh seseorang untuk di mintai pendapat dari pada ku simpan semua ini sendiri hanya akan mengganggu hatiku.
" Eee, sebenarnya .... "
" Yah, ternyata kalian ada di sini, ayo ke depan Udah di tungguin mama di depan, " Idris datang meminta kami berkumpul, kamipun mengikuti langkah Idris.
Mungkin memang belum saatnya menceritakan tentang Syifa pada papa.
" Selain syukuran untuk Khanza acara ini juga Mama buat sebagai syukuran atas pulihnya kembali prusahaan kita yang pada akhirnya orang yang salahpun telah berada Pada tempatnya. "
" Maksud Mama, orang yang salah siapa? "
" Om kamu. "
" Om Hans. "
" Yah, berkat papa dan Rayan akhirnya kebusukan Om Hans terbongkar dan ia sudah berada di tempat yang semestinya. "
" Di penjara. "
" He'eh. "
" Alhamdulillah ... "
" Eee, gimana kalau syukurannya kita undang anak yatim, ya, macam santunan gituh, " Khanza memberi usul.
" Boleh itu, " Mama menanggapinya antusias.
" Ide bagus istriku memang cerdas, " Puji Idris yang langsung memberi kecupan di kening Khanza.
" Cikk, sok romantis, " cibir Rayan.
" Biasa memang jomblo hanya bisa mencibir. " semua terbahak kecuali Rayan yang nampak kesal.
" Biar nanti Mama sama papa yang ke panti asuhan yah. "
__ADS_1
" Eee, boleh gak mah, Khanza kasih usul. "
" Boleh dong sayang, usul apa?. "
" Gimana kalau anak pantinya anak panti dari panti asuhan kak Syifa. " Khanza melirik Rayan. Begitupun dengan Rayan ia tak menduga jika Khanza bisa berfikir sampe ke sana.
" Kak, Syifa? " Mama menatap Rayan juga Khanza bergantian.
" Ia kak Syifa mantan istri kak Rayan, " Jawab Za cepat.
" Sekarang dia punya panti? "
" Panjang kisahnya mah, nanti Za ceritain deh, gimana Mama setuju atau gak? "
" Yah, " mengangguk-angguk kan kepala. " Besok kita temui mereka. "
" Alhamdulillah ... Aku gak sabar buat kesana lagi. "
" Dengan Rayan, kau tau kan tempatnya? " Rayan gelagapan." Eee, ya, ta-tau sih. "
Keesokannya.
" Bunda, ada yang nyariin? "
" Siapa? "
" Om yang kemarin itu. "
" Ya, nanti bunda kesana. "
" Dari tadi mas? " Syifa menghampiri Rayan dan hendak mendudukkan diri di kursi sebrang, namun urung saat netranya menangkap sosok lain dari Rayan yang tak asing lagi.
" Mama! "
Mama Maryam berdiri menghampiri Syifa lantas memeluk Syifa.
Syifa terpaku dengan sifat Mama Maryam. Saat Mama Maryam melepas pelukannya Syifa segera meraih tangan Mama Maryam dan menciumnya, tak terasa air mata pun mulai berjatuhan saat tangan Mama Maryam ia cium.
" Kamu apa kabar Syifa? "
" Alhamdulillah Bai mah, " Jawab Syifa sembari mengusap air matanya.
" Kamu makin cantik pakai kerudung. "
" Hehe ... Terima kasih mah. " Mereka pun kembali duduk. Tak lama seseorang datang menyajikan makanan dan minuman.
" Di minum mah, mas! " Rayan dan Mama Maryam mengambil gelas berisi teh dan mulai meneguknya.
" Sebenarnya kedatangan kami kemari .... " Ucapan Rayan terpotong Mama nya.
__ADS_1
" Ingin meminta maaf pada mu, maafkan Mama atas perlakuan Mama dulu, maaf juga karena Mama tidak mau percaya sama kamu malah lebih percaya orang lain dari pada kamu. " Rayan tersenyum menatap mamanya.
" Syifa sudah lama maafin Mama. Justru karena kejadian itu membuat Syifa menjadi banyak berubah terlebih berubah ke hal yang lebih baik, Syifa juga bertemu orang-orang baik yang menuntun Syifa menjadi seperti ini. "
" Trus ini ceritanya udah baikan nih, " ucap Rayan. Merekapun tersenyum.
" Dan kami juga ingin mengundang kamu berserta anak-anak panti ke rumah. "
" Kapan? "
" Besok. "
" Dalam rangka apa? "
" Syukuran empat bulanan Khanza. "
" Khanza adik ipar kamu mas! "
" He'eh. "
" Alhamdulillah ... Khanza sudah hamil. Insyaallah mah, kami akan datang. "
" Kalian sudah kenal lama. "
"Belum lama ini Kami hanya baru bertemu beberapa kali. "
" Oh, yah. "
Merekapun berbincang-bincang hingga tak terasa waktu semakin sore.
" Jangan lupa yah besok. "
" Insyaallah, mah. "
" Dah anak-anak. "
" Dah Tante dah Om. "
Hari empat bulanan Khanza berjalan dengan lancar, anak-anak pantipun datang menambah keramaian, Syifa juga di kenalkan dengan papa Salim dan yang lainnya termasuk Sam dan Nadia pun berada di sana.
Khanza memperhatikan Rayan dan Syifa yang terlihat akrab. begitupun dengan Mama Maryam yang hampir beberapa tahun ini tak pernah melihat senyum Rayan yang seperti itu.
" Khanza, kamu lihat kakamu Rayan, ia nampak bahagia sekali. "
" Ia mah, Khanza senang melihat mereka. "
" Khanza Mama punya ide .... " Mama Maryam membisikan sesuatu pada Khanza, Khanza pun mengangguk setuju dan tersenyum.
Next,,,,
__ADS_1
rencana apa yang di buat Mama Maryam dan Khanza yah,,,,🤔