
Pov Rayan nya udah dulu, kita balik lagi ke Idris sama Khanza.
Bohong jika aku tidak menghawatirkan Mama. Kejadian semalam membuatku merasa bersalah pada Mama, bukan hanya telah membuatnya kecewa, tapi juga menyebabkan emosi Mama kembali tak terkontrol.
Sejak kepergian ku dari rumah, aku jarang sekali mengunjungi Mama, bukannya aku tak rindu, tapi karena aku tak ingin berjumpa dengannya, dia ... kakakku.
Entah sampai kapan rasa benci ini kan berahir. Salah, memang salah, sesama saudara saling membenci, menghindari, menjauhi, bahkan kami hampir tak pernah bertegur sapa lagi.
Tapi, ini bukan salahku, ini salah dia, dia yang memulai genderang perang di antara kami.
Dia yang menyebabkan hubungan darah yang lebih kental dari pada air menjadi seperti air dan minyak, sama-sama benda cair namun tak bisa menyatu.
" Cari makan, yuk! " Sam masuk ke ruangan ku.
Aku yang tengah duduk sembari melamun terlonjat mendengar ucapannya.
Karena seperti biasa pria yang kini berada di hadapanku, masuk tanpa memberi aba-aba.
" Lo, kok, kaget sih Dris? "
" Ya, kaget, lah, orang di datengin penampakan kaya, Lo. "
" Hahaha, " ia terbahak. " Di datengin penampakan sekeren ini, kok kaget, sih, " ucapnya seraya menyugar rambut.
Dihh, narsis abis. temen siapa sih tuh.
" Ngapain kesini!? " Tanyaku sedikit kesal.
" Ngajakin makan! masa ia ngajakin nangkep kecebong. " sungut Sam.
" Napasih, Loh, sejak dateng tuh muka kusut trus, lupa di setrikain sama bini, yah? " Tanya Sam seraya menarik turunkan alis.
" Lah, kalau muka disetrika, bakalan rata, dong, " jawabku sekenanya.
" Heleh, dasar bocah gak peka bener, " ucap Sam sembari melangkahkan kaki ke luar ruangan.
" lah, benerkan. " aku mengernyitkan alis.
" Ayo!! mau makan atau mau gue makan, nih. " ajaknya yang sudah di ambang pintu.
Aku bergegas menghampirinya, serem juga liat Sam kelaparan, jangan-jangan beneran gue bakalan di makan.
Di kantin, setelah selesai menyantap makan siang aku menceritakan kejadian kemarin pada Sam.
Tentang aku yang memberi tahu Mama prihal pernikahanku dengan Za, juga Mama yang lepas kontrol karena pengakuanku.
" Za itu gadis baik Dris, dan Tante Maryam juga orang baik. Saran gue, sih, ya, mending Lo coba temuin mereka. Siapa tau setelah itu mereka akur. " Sam menyarankan.
" Mama, dan Za. Aku temuin." ucapku sembari menatap Sam.
Sam mengangguk yakin.
" Gak, sekarang Sam, aku takut Mama semakin drop, apalagi Za, liat perlakuan keluarganya aja sama Za aku gak tega, gimana kalau Mama juga gak ... Ah, aku gak bisa Sam, gak bisa sekarang, " ucapku sembari menyeruput secangkir minuman hangat yang mengandung kafein.
Bukannya menjawab pria di hadapanku itu malah menggeser kursinya lebih mendekati ku, menatapku dengan tatapan ... mengintrogasi.
Serasa jadi tersangka kan.
__ADS_1
" Apa? " tanyaku penuh curiga.
Ia malah tersenyum sembari mengedip-edipkan matanya, lalu berkata.
" Lu, beneran suka sama, Za? "
Aish, pertanyaan macam apa itu.
" Kalau aku gak suka, hubungan kami gak mungkin sampe sejauh ini! " jawabku sedikit kesal.
" Sejauh apa emang? " Sembari mengedipkan matanya.
Dihhh, nih, bocah kepo amat, yah.
" Berati udah .... "
" Beuh, gila Sam tuh cewe cantik banget! " Sebelum Sam bertanya ke hal yang ia ia, mending langsung ku alihkan pembicaraan. Ngibulin anak orang, apa lagi yang di kibulin tukang ngibul. mudah-mudahan gak dosa.
" Mana? mana? " ucapnya antusias sembari celingukan.
Tuhkan keliatan banget buayanya.
" Diatas pohon mangga tiap malem pake daster putih rambutnya tergerai, lalu ketawa-ketawa sambil nungguin Lo," ucapku sembari lari meninggalkan Sam yang masih celingukan.
" Gue sumpain malem ini Lo yang ketemu! " Teriaknya yang menjadi pusat perhatian.
" Aish, menyebalkan. " Ia mengerutuk.
Dalam perjalanan pulang aku memikirkan perkataan Sam untuk mempertemukan Mama dengan Za.
Kasihan juga Za, kami sudah menikah, menjadi suami istri seutuhnya. Namun aku belum memperkenalkannya pada keluarga ku.
" Akan aku bicarakan ini pada Za, mudah-mudahan dia mau aku pertemukan dengan Mama. yah, akan aku coba, " sembari menyetir aku meyakinkan diri.
Mobil memasuki kawasan rumah Za, malam ini tak seperti biasanya, jalanan terlihat lengang padahal biasanya jam segini masih berkeliaran anak muda di jalanan.
Sudah pada insyafkah mereka sampe gak ada lagi yang nongkrong.
Atau jangan-jangan ada suatu kejadian sampe mereka gak ada yang berani keluar rumah.
Aduh, Dris kamu, kok, jadi mikir gitu, sih.
Sebelum memasuki halaman rumah Za, mobil ku terlebih dahulu melewati pohon mangga.
Jadi keinget sumpahnya si Sam siang tadi.
Ku lirik sekilas pohon mangga, tak ada yang aneh, juga tak ku temui wanita berdaster putih.
Fixs aman.
Sumpahnya Sam gak mempan.
Keluar dari mobil segera ku langkahkan kaki menuju rumah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Namun tak kunjung mendapat jawaban.
" Apa Za udah tidur, yah? " Sekali lagi ku ketu pintu sembari mengucap salam.
Terdengar suara seseorang menjawab salam dan tak lama kemudian pintupun di buka.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya aku takkala melihat sosok wanita yang membukakan pintu untukku.
Sosok wanita berdaster putih dengan rambut tergerai.
" Huaaa. " segera ku membalikan badan seraya menutup mata.
" Ih, mas, ini Za, tau! " ucap sosok berdaster putih.
Mendengar ucapannya ku beraniakan menengok kembali dan membuka mata.
" Astaghfirullah, Za, kamu toh. " Lega, setelah tahu sosok berdaster putih itu ternyata Za.
" Hihihi, mas takut, yah. " ejek Za.
Dasar istri, suami pulang kerja bukannya di sambut, malah di takut-takutin, untung sayang coba.
" Kamu ngapain pake baju gini, trus tumben rambut kamu gerai, biasanya juga pake hijab? " ku tanyai itu pada Za.
" Lagi pengen pake baju ini, aja, Mas, "jawabnya sembari senyum-senyum.
Dih, jadi gemeskan.
" Trus, itu rambut, kenapa di gerai? " sembari menunjuk rambutnya ku tanyai lagi Za.
" Ini, Mas, Hijab Za tuh, bau semua jadi lagi Za mau cuci biar gak bau. "
" Bau, semua. " mengernyit alisku. " Ada kecoa masuk lemari kali, yah. "
" Nggak, Mas, cuman bau wangi, sih, tapi wanginya itu bikin eneg, tuh! hijabnya mau Za cuci. " Sembari menunjuk tupukan hijab.
Aku mendekat mengambil salah satunya dan ku cium aroma dari hijab. Wangi, gak bikin eneg, bersih, gak ada yang salah.
" Bikin eneg kan wanginya? " Za ikut menghampiri.
" Nggak, ah. "
" Ih, orang gak enak gitu wanginya. sini biar Za cucu lagi. " ia mengambil paksa hijab yang ku pegang.
Ada apa sebenarnya dengan Za, gak biasanya ia bersikap seperti ini.
" Za, ini udah malam gak baik nyuci malam-malam, besok aja yah, " aku brusaha membujuk Za.
" Sekarang udah larut Za, tidur yuk, nanti besok mas bantuin, deh, nyucinya. " kembali ku membujuknya.
" Tapi besok bantuin yah. " Ia menatapku.
" Iya. "
" Janji! " ucapnya sembari mengacungkan jari kelingking.
" Janji, " ucapku menautakan jari kelingkingku ke jari kelingking Za.
Ia tersenyum.
Next.....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏
__ADS_1