
" Za ambilkan telornya, yah, mah! " Ku sendok telor dari piring hendak memindahkannya pada piring Mama.
" Gak, usah Mama bisa sendiri, " Ucapnya ketus.
Ku letakkan kembali telor yang baru ku angkat.
Mas Idris melirikku ia mengedipkan matanya seraya tersenyum, dan ku balas senyumannya.
Aku tahu Mama masih butuh waktu untuk menerima ku, dan aku harus lebih bersabar lagi.
Tak apa, Mah, tak apa, karena ku percaya suatu hari cepat atau lambat Mama pasti menerimaku.
Aku lupa membuatkan kopi untuk mas Idris, aku bangkit dari kursi menawari mas Idris kopi, ia mengiyakan dan aku pergi ke dapur untuk membuatkannya kopi.
" Mah, aku tahu Mama belum bisa menerima Za, tapi cobalah tuk bersikap baik padanya. "
" Sudah Mama katakan Mama membolehkannya tinggal di rumah kita, tapi itu bukan berarti Mama mau menerima dia, Mama butuh waktu! " Ucap Mama penuh penekanan di akhir kata.
" Idris ngerti, tapi Mama juga harus mencoba terbiasa menerima Za, dia gadis baik Mah, cobalah Mama dekat dengan nya! " Idris menatap Mama nya penuh harap.
Mama Maryam pun ikut menatap putranya. " Akan Mama usahakan, namun jangan paksa Mama untuk segera bisa menerimanya, karena bagi Mama ia masih tetap orang asing! " lagi Mama bericap dengan ketus seraya menyendokan nasi goreng ke mulutnya.
Idris menatap Mama nya yang makan dengan lahap, lalau menghela nafas kasar.
Rayan datang ia segera mendudukkan diri di antara mereka, mengambil nasi goreng dan beberapa lauk lalau menyantapnnya dalam diam.
" Minumnya Mas! " Ucap Bi Tini seraya menuangkan air putih pada gelas Rayan.
Sejak Idris dan Za pindah ke rumah ini Rayan terlihat sering ada di rumah entahlah kenapa dengan pria itu.
" Makasih, Bi, " ucap Rayan sembari mengunyah makanannya.
" Bi masaknya makin enak, yah. Apa karen saya jarang makan di rumah jadi terasa lebih enak gini? " ucap Rayan pada Bi Tini.
Bi Tini tersenyum, mendengar pujian dari Rayan. Dan saat itu juga Za datang membawa kopi untuk ku.
" Nah, ini alasan enaknya mas Rayan, " Kata Bi Tini, matanya mengarah pada Za yang tengah meletakan kopi untuk Idris.
Za kembali mendudukkan dirinya di kursi.
" Maksud Bi Tini? " kembali Rayan bertanya seraya mengerutkan dahinya.
" Yang buat nasi goreng nya kan bukan Bi Tini, tapi neng Za. Neng Za ini ternyata pinter masak loh. " Dengan sumringah Bi Tini memuji Za, sedang yang di puji nampak malu.
Mama Maryam mungkin juga baru tahu jika masakan ini buatan Za, ia yang tadi terlihat lahap memakan makannya seketika menghentikan makan.
__ADS_1
" Wah, kalau gitu tiap hari kita makan enak terus, nih, Di masakin adik ipar pula. " Matanya menatap pada Idris.
Seketika mereka saling adu tatap. Za menyadari itu dan segera ia sentuh lengan suaminya. " Di minum dulu kopinya Mas! " titah Za mengalihkan kegiatan adu tatap antara kakak beradik itu. Idris meminum kopi yang di buatkan Za, namun matanya masih menatap pada sang kakak.
" Mas berangkat sekarang. " Idris bangkit ia cium punggung tangan Mama nya, lalau melangkah meninggalkan meja makan di susul Za yang berjalan di sampingnya.
Setelah mencium punggung tangan suaminya Za berucap. " Hati-hati mengemudinya jangan ngebut! "
" Iya, " jawab Idris seraya mengelus pipi sang istri dan mencium keningnya.
Tanpa mereka sadari sedari tadi seseorang tengah memperhatikan mereka. Dia Rayan matanya menatap lekat pada pasangan yang seperti di mabuk asmara itu.
Rayan terdiam masih lekat menatap mereka. Namun, pikirannya entah sudah berada di mana, matanya menatap, tapi dengan tatapan kosong.
" Kak, Rayan! "
Rayan terkesiap mendengar seseorang menyebut namanya. " Ya, Za. " segera ia berekspresi biasa.
" Kakak kenapa? "
" Gak papa, " Jawab Rayan dan ia berlalu meninggalkan Za, keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Di luar kembali kakak beradik itu melakukan adu tatap, Idris yang memandang kakaknya dengan tatapan tak suka, juga ... tatapan lain yang tak bisa ia definisikan.
Sedang Rayan menatap adiknya lekat di sertai seringai, lantas ia masuk ke dalam mobil. Begitupun Idris yang ikut masuk kedalam mobil nya.
Sore hari tak seperti biasanya Rayan pulang lebih awal. " Rayan kamu sudah pulang? " Mama Maryam yang tengah melintas diruang tamu lantas menyapa putra sulungnya.
Rayan menoleh ia bangkit dari kursi dan menghampiri mamanya seraya mencium punggung tangan sang Mama. " Iya, Mah, lagi pengen pulang cepet, " jawabnya.
Mama Maryam menatap putranya penuh selidik, pasalnya sang putra tak biasa pulang saat matahari masih nampak, biasanya ia akan pulang saat matahari sudah berganti bulan, atau saat semua orang tengah terlelap dalam buaian mimpinya atau malah ia yang datang saat matahari berusaha menampakkan diri dengan sinar jingganya.
" Rayan ke kamar dulu, yah. " Pamitnya takut Mama menanyai hal lebih, dan di jawab anggukan oleh Mama.
Malam hari Idris yang tengah melakukan kegiatan bercengkrama dengan leptop duduk di ruang tamu, Za menghampiri suaminya.
" Sibuk mas? " Tanya Za pada suaminya.
Idris menoleh, " Dikit, " ucapnya seraya menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba Rayan ikut duduk di antara mereka, sekilas Idris dan Za menoleh. " Apa?, gue cuma mau duduk! " ucap Rayan yang mendudukkan diri dan menyandarkan punggungnya di sofa sembari menatap layar ponselnya.
" Padahal masih banyak tempat lain kenapa harus di sini? " gumam Idris pelan.
" Mau Za buatin kopi? " Tawar Za pada Idris yang di jawab anggukan oleh suaminya.
__ADS_1
" Boleh sekalian buatkan kopi, " Ucap Rayan sembari melirik Za.
Za menatap pada kakak suaminya lantas ia tersenyum. " Ya, Za sekalian buatin, yah, kak. " Za bangkit hendak melangkah. Namun, di tahan oleh Idris.
" Jangan buatin dia kopi! " Idris melarang Za sedang matanya menatap pada Rayan.
" Saya hanya minta di buatkan kopi! " jawab Rayan sembari membenahi duduknya agar lebih tegak, matanya menatap pada Idris.
" Pokoknya jangan buatkan dia kopi! " Suara Idris penuh tekanan.
" Kenapa kamu yang larang, Za aja gak keberatan! " ucapnya juga penuh penekanan.
Kembali mereka berperang dingin seraya menatap tak suka satu sama lain, entah apa yang sebenarnya terjadi dahulu hingga kakak beradik itu tak pernah terlihat akur.
" Jangan buatkan! " ucap mas Idris.
" Buatkan! " ucap Kak Rayan.
" Jangan memerintah Za, dia istriku! " kembali mas Idris berucap.
" Tapi dia tidak keberatan, ya, kan, Za? " Kak Rayan menatapku.
" Za kamu dengar kan perintah suamimu! atau .... "
" Sudah! " ucapku penuh penekanan. Mereka menatap ku, aku melangkah meninggalkan mereka.
" Za! " mas Idris memanggilku setengah berteriak.
" Cukup! diam dan jangan bertengkar! " titahku sembari mengarahkan jemariku pada mereka yang membuat mereka terdiam.
Aku melangkah ke dapur membuatkan kopi untuk mas Idris sedang ku mintai Bi Tini untuk membuat kan kopi untuk kak Rayan.
" Nih. " Ku letekan segelas kopi diatas meja dihadapan mas Idris dengan sedikit kasar pasalnya aku masih kesal pada mereka.
Mas Idris menatapku, melihatku hanya membawa satu kopi ia tersenyum, lalau meminum kopinya.
Tak lama Bi Tini datang membawa segelas kopi dan meletakkannya dihadapan kak Rayan.
Kak Rayan menerimanya dan berterima kasih pada Bi Tini.
" Itu kamu atau Bi Tini yang buat? " tanya mas Idris penuh selidik.
Duh, mulai lagi. Tak mau menjawab aku pergi dari hadapan mereka melangkah kan kaki menuju kamar.
Rayan meminum kopinya. Idris menatap Rayan tak suka, sedang yang di tatap terlihat santai merasa menang telah membuat adiknya geram.
__ADS_1
Next....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏