Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Ikhlas


__ADS_3

Aku mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan yang sedang menimpa.


Aku akan mulai belajar berjalan meninggalkan, lalu aku akan belajar tersenyum ikhlas dan diam.


" Jangan pernah meratapi segala sesuatu yang hilang dari hidupmu, sebab Allah akan menggantinya dalam bentuk yang lain, " Papar mas Idris sembari menenangkan ku yang masih terisak di pelukannya.


" Ikhlas bukan melepaskan sesuatu dengan air mata, tapi bisa merelakan sesuatu dengan senyuman. Relakan apa yang sudah jadi takdir Tuhan, yah. " Mas Idris melepas pelukannya lalau ia usap air mata yang terus saja mengalir seoalah tak mau berhenti ini.


Ku tatap lelaki yang berstatus suami ku itu, masih dengan berderai air mata yang berkali-kali ia kembali hapus.


" Sudah, ada Mas yang akan selallu bersama kamu, kita hadapi ini sama-sama, yah. " Aku mengangguk, kembali ia memeluk ku.


" Relakan, kamu harus ingat. Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada sesuatu hal yang tak bisa di paksakan, seperti yang kita alami saat ini, kita sudah berusaha untuk menjaganya, namun jika Allah berkata lain, kita harus merelakannya. " lagi ia berkata sembari mengelus kepalaku dalam dekapannya.


Masih terngiang kata-kata mas Idris kemarin, kata-kata yang membuatku lebih tenang, tak ku sangka jika suamiku yang menurut orang-orang dingin dan kaku ternyata mempunyai sisi bijak yang luar biasa.


Ku sunggingakan senyum saat seseorang memasuki kamar ku. Ia Peria yang membuatku semakin jatuh cinta setiap hari.


Kemeja lengan panjang yang ia gulung hingga ke siku, rambut yang masih terlihat basah karena air wudhu itu membuat nya semakin terlihat menawan.


Bukan hanya memiliki Wajah teduh dan menenangkan, sosoknya pun sikapnya pun serupa parasnya, membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung memiliki suami seperti dia.


Ia membalas senyumku, " Suster belum bawa makanan nya? " sembari melangkah mendekati ku.


aku menggeleng.


" Mas, sudah makan? " Aku bertanya padanya yang kini duduk di dekatku.


" Sudah, Sebelu solat tadi, Mas ke kantin dulu, " Jawabnya. Aku mengangguk.


Tak menunggu lama pintu kamar kembali terbuka kini sosok wanita dengan seragam serba putih sembari mendorong troli berisi makanan juga obat-obatan memasuki ruangan ku.


" Terima kasih sus, " Ucap mas Idris setelah suster itu meletakan makanan ku. Lantas ia keluar.


Mas Idris mengambil mangkuk berisi bubur ia menyendokan bubur itu dan mengarahkannya ke mulut ku.


" A-aa," Titahnya memintaku membuka mulut.


Aku mengernyitkan alis menatapnya dengan tatapan ... Entah. " Kamu pikir aku anak kecil. "

__ADS_1


kataku namun tetap mengikuti titahnya membuka mulut dan menerima makanan dari tangannya.


" Hehm, " Ia mengangguk.


" Ish, " aku mendengkus.


Selesai menyantap bubur dan meminum obat Mas Idris memintaku beristirahat, aku pun merebahkan diri di atas ranjang, sedang Mas Idris masih setia di sampingku.


" Kamu gak peraktik mas? "


Ia menggeleng sembari tangannya menyelimuti ku. " Ngggak, aku udah izin untuk beberapa hari mau temenin kamu dulu. "


" Kalau mas mau praktik gak papa, kok, Za bisa jaga diri lagi pula tempatnya kan dekaet, kamu bisa kunjungi aku kapanpun. "


Ia menatapku sembari mengelus wajah. " Gak, Mas mau fokus jagain kamu dulu. "


" Eee, kamu belum cerita kenapa kamu bisa ada di jalan, Bi Syifa bilang ia temuin kamu pingsan di jalan? "


Aku menunduk mengingat kejadian kemarin membuat ku semakin sedih, tak terasa air mata mengalir begitu saja hingga membasahi wajah ku.


Mas Idris berdiri ia memelukku, " Gak apa-apa kalau kamu belum mau cerita. "


Mas Idris melonggarkan pelukan ia duduk kembali di kursinya seraya menggenggam tanganku erat dan menatapku lekat.


" Bi Arum datang .... " ku angkat kepala dan ku tatap Peria yang ada di hadapanku.


" Bi Arum bilang, ia mau menjual rumah Nenek. " air mataku kembali luruh, Mas Idris menghapusnya dengan jemarinya.


" Bi Arum juga sudah membawa sertifikat rumah Nenek, ia meminta kita untuk segera pergi dari rumah. "


" Lantas apa yang dilakukan Bi Arum sampai kau .... "


" Aku mengejar Bi Arum, berharap ia urung tuk menjual rumah Nenek, rumah itu banyak kenangannya, di sana Za lahir dan tumbuh, di sana pernah ada ayah dan Mama tinggal, di sana Za pernah hidup bahagia dengan keluarga yang utuh, walau bahagia itu tak berlangsung lama sebab tuhan lebih menyayangi orang-orang yang ku sayang. " Ku potong ucapan Mas Idris, dan mengatakan itu dengan mata menatap entah kemana.


" Kamu mengejarnya sampai kau .... "


" Terjatuh ... Dan keguguran. " Lanjutku di sertai derai air mata.


" Maaf, Mas, Aku ceroboh, Za lupa dengn keselamatan calon anak kita. " mas Idris duduk di atas ranjang ia genggam tangan ini semakin erat, sedang aku menunduk sembari terisak.

__ADS_1


" Za, lihat Mas, " Titah nya yang kemudia ku turuti.


Ku tatap mas Idris ia tersenyum menatapku. " Jangan pernah menyalahkan dirimu, apa yang terjadi sama kita saat ini sudah menjadi ketetapannya, " ucapnya menenangkan ku.


" Tapi mas, andai Za bisa lebih hati-hati pasti kejadian ini bisa di hindari. "


" Jangan ngomong kaya gitu, yah. Mas, gak nyalahin kamu, gak nyalahin Bi Arum atau keadaan, karena mas yakin ini adalah cara Tuhan untuk mendewasakan kita juga menguatkan kita, mungkin kita memang belum siap menjadi orang tua makanya tuhan undur waktunya agar kita semakin siap untuk menjadi orang tua.


Percaya deh, sama mas, setiap sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu sudah di rencanakan oleh tuhan, bahkan daun yang jatuh pun sudah di tuliskan kapan dan kenapa jatuh nya daun itu. Jadi, sudah jangan sedih lagi, kita hadapi ini sama-sama, " papar by panjang lebar sembari mengelus pucuk kepalaku yang tertutup hijab.


" Jangan pernah meratapi segala sesuatu yang hilang dari hidup mu .... "


" Sebab Allah akan menggantinya dengan bentuk yang lain, " ku sambung ucapannya.


" Kok, tahu? "


" Kan Mas yang ngomong kemaren. "


" Dihh, istri Mas pintar sekali. " ia menarik hidung ku gemas.


" Mas apaan sih. " keluh ku sembari memegangi hidung yang sakit karena ia tarik.


" Tuh, kan senyum. " ejeknya.


" Ini tuh manyun mas buka senyum. " ku buat bibirku sedikit condong ke depan.


" Oh, mau di kasih .... " ia tak melanjutkan ucapannya malah menaik turunkan alisnya seraya menatap bibirku.


Aku mengernyitkan alis, sedang tubuh mas Idris semakin condong ke arah ku.


Sedetik kemudian aku paham akan maksud nya segera ku lempar bantal ke muka nya.


" Aduh, " ia mengaduh, mengusap-usap bibirnya seolah tengah teraniaya.


Tak kuasa menahan senyum aku pun tersenyum dengan sikap mas Idris, kami saling tatap dan terbahak bersama.


Dia Idris Al Kaf, seseorang bak malaikat pelindung yang seolah sengaja tuhan hadirkan untuk ku, aku sanagt mencintainya juga mengaguminya sanagat.


Next....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏


__ADS_2