
"Mah!, Mamah!."Idris membopong Mamah nya menuju kamar.
Rayan yang baru pulang bekerja mendengar keributan, ia pun segera melangkah menuju sumber suara. Ia hentikan langkahnya di saat ia melihat mamahnya tergulai lemah dalam gendongan seseorang yang tak asing baginya.
Untuk beberapa saat tatapan mereka saling bertemu, tanpa kata hanya saling menatap dengan tatapan yang masih di penuhi amarah, tapi, Idris segera mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju kamar mamah Maryam.
Di dalam kamar Idris berusaha menyadarkan Mamah nya, mengolesi minyak ke tangan dan kakinya juga menghirupkan minyak aroma terapi pada Mamahnya.
Rayan menyandarkan dirinya Di ambang pintu, melipat kedua tangannya seraya melihat sang adik yang berusaha menyadarkan Mamah mereka. Ia pun hawatir dengan keadaan Mamahnya, namun, ia tak mau melangkah masuk dan bertatap muka lagi dengan adik yang dulu ia sayangi itu.
Idris masih berusaha menyadarkan Mamahnya.
Perlahan Mamah Maryam membuka mata, menatap pada sekeliling lalu pada putra bungsunya itu.
Idris tersenyum melihat Mamah nya telah sadar, ia bantu mamahnya agar duduk dengan bersandarkan kepala ranjang.
"Alhamdulillah, Mamah udah sadar. Minum dulu mah!" ia menyodorkan air putih yang memang sudah ada di atas nakas pada Mamah Maryam.
Mamah Maryam mengambil air yang di berika Idris dan meminumnya.
Rayan yang sedari tadi memperhatikan, melihat Mamahnya telah sadar, ia berdiri tegak dengan tangan di masukkan ke kedua saku celananya, tetap tak bergerak. Masih enggan ia berhadapan dengan sang adik.
"Ini di minum dulu obatnya mah!" Di sodorkan ya obat penenang pada mamah Maryam.
Karena semenjak perceraiannya dengan sang suami Mamah Maryam memang sering lepas kontrol seperti tadi, dan obat penenang lah yang bisa membuatnya kembali tenang.
Melihat mamahnya sudah lebih tenang Idris meminta izin untuk pulang, namun di tahan oleh Mamahnya.
"Mah, sekarang Idris punya tanggung jawab yang lain. Idris seorang suami, dan Za saat ini pasti sangat khawatir karena Idris belum pulang. Tolong, yah, mah! Idris harus pulang!" ucapnya pada Mamah Maryam.
sebelum beranjak ia peluk sang Mama, mengecup kedua tangannya, lalu berdiri dan melangkah meninggalkan Mamah nya.
__ADS_1
Mamah Maryam tampak kembali berurai air mata, ia tak menyangka putranya akan meninggalkan ia demi seorang wanita yang bahkan belum lama ia mengenal nya, tapi, malah telah ia jadikan istri.
"Idris," paruh suaranya memanggil putra bungsunya.
Tapi, Idris tetap melangkah keluar dari kamar Mamahnya. Walau nyatanya ia pun berat meninggalkan sang Mamah, apa lagi dalam keadaanya yang seperti saat ini.
Namun, Za di rumah pasti juga hawatir dan menunggunya. dan pada ahirnya ia harus melihat Mamah nya kembali menangis. Tapi, tidak mengubah langkahnya untuk meninggalkan rumah itu.
Rayan yang sedari tadi berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka, kini ia melangkah mendekati sang Mamah, dan melewati begitu saja adiknya.
Rayan memeluk mamahnya tanpa kata, namun, tangannya mengepal, rahangnya mengeras memendam amarah pada bungsu mamahnya itu.
Sekali lagi, sebelum ia benar-benar pergi Idris melihat mamahnya menangis dalam pelukan Rayan.
***
Idris pulang dengan perasaan yang gamang, di satu sisi ia menghawatirkan ibunya, di sisi lain ia juga menghawatirkan Za.
sampai di rumah ia mengetuk pintu, Za yang sudah terkantuk-kantuk menunggu suaminya pulang. Bergegas bangkit ketika mendengar suara pintu di ketuk.
Za tidak bertanya perihal keterlambatan nya pulang, karena, berfikir jika suaminya mungkin harus lembur lagi. Za menawarinya minum, tapi Idris menolak secara halus, ia bilang hanya ingin mandi, dan meminta Za untuk tidur terlebih dahulu.
Melihat sikap suaminya yang seperti tak bertenaga, ia ingin menanyai keadaanya. Bukankah pagi tadi ia nampak sangat bersemangat, juga nampak bahagi. lalu kenapa malam ini Idris terlihat sedih dan murung.
Namun Za harus menahan keingin tahuannya, ia lebih memilih mengikuti titah sang suami. Berjalan menuju kamarnya, lalu merebahkan diri di atas benda empuk nan nyaman itu.
Selesai mandi Idris membaringkan tubuhnya di samping Za, sedang Za tertidur membelakangi Idris.
Idris berbaring dengan berbantalkan lengannya, sedang matanya menatap langit-langit kamar, menerawang entah ke mana, lalu tak terasa bulir-bulir bening menetes dari sudut matanya.
'Maafkan Idris, mah!' batinnya berucap. Seraya menghapus bulir-bulir bening itu.
__ADS_1
Di liriknya sang istri yang tertidur di sampingnya, ia peluk Za dari belakang.
Za yang belum benar-benar tertidur, ia merasakan tangan kekar melingkari tubuhnya, ia buka mata dan melirik pada sang suami yang tengah membenamkan wajahnya di leher Za.
Idris yang menyadari Za belum tertidur membalikan badan Za agar menghadapnya. kini mereka saling berhadapan.
Idris mengajak Za berbicara, ia menceritakan jika hari ini ia mengunjungi Mamahnya, juga ia menceritakan pernikahannya dengan Za pada sang mamah, dan membuat mamahnya marah hingga pingsan.
"Maaf, seharusnya Mas bicarakan ini dengan Mamah mas sebelum mas mengambil keputusan menikahimu,"
"Mas ceroboh, tidak memikirkan resiko ke depannya, sampai kalian harus terluka karena mas. Sekali lagi mas minta maaf." sesal Idris. sedang wajanya ia tundukkan.
"Mamah, Mas, hanya butuh waktu. Za akan menunggu sampai Mamah mas mau menerima Za, jangan meminta maaf mas, di sini bukan mas yang salah, mungkin, memang sudah takdir nya dan Kita hanya harus mengikuti alurnya." Ucap Za sembari menyentuh pundak sang suami.
"Kita berusaha sama-sama untuk meyakinkan Mamah mas. Mungkin gak akan mudah, tapi kalau sama-sama, insyaallah kita pasti bisa melewati semua ini. Mas itu orang baik, tentu Mamah mas, juga orang baik, pasti mamah mas mau menerima hubungan kita, kita hanya harus memberi Mamah mas waktu." ucap Za lagi yang membuat Idris mengangkat kepalanya menatap intens pada Za.
Tak menyangka jika istri yang terpaut usia jauh lebih muda darinya ini mampu berkata bijak. Juga menenangkan bagi Idris.
Padahal sebelumnya ia berfikir jika Za, akan merasa sedih lalu meminta nya untuk melepaskan dia. Dan ia harus berusaha mati-matian untuk meyakinkan Za kembali, tapi ternyata ia malah menemukan sosok lain dari wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Merasa tenang dengan perkataan Za membuat Idris kembali memeluk Za dan membenamkan wajahnya di dada Za. Hal yang sering ia lakukan dulu pada masa kanak-kanak nya pada sang Mamah, jika ia merasa gundah atau tertekan. Za terkejut, jantungnya kembali berdentum tak karun, bahkan mungkin Idris pun mendengarnya.
Sedang Idris tersenyum, mendengar detak jantung Za yang tak karuan ia malah memejamkan matanya seolah sedang menikmati alunan lagu penghantar tidur.
Dengan debar yang menggila Za tersenyum, melihat tingkah manja suaminya.
Ternyata benar jika dewasa itu tak di ukur dari segi usia. Batin Za.
Za mengangkat tangannya membalas pelukan Idris dan menempelkan dagunya pada kepala suaminya.
Lalu mereka masuk dalam dunia mimpi dan bahkan mungkin malam ini mereka akan bermimpi indah.
__ADS_1
***bersambung....
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak. Like, Komen dan Vote. Authornya, agar semakin semangat dalam berkarya. Terima kasih🙏***