
POV Maryam
" Tumben minta bertemu hanya berdua, ada apa? " Tanyaku pada Salma saat ia meminta untuk bertemu hanya berdua saja. Ia nampak gugup seperti ada hal serius yang ingin ia sampaikan.
" Apa ada masalah? " Kembali ku bertanya karena Salma masih bungkam.
Ia angkat kepalanya sembari menatapku sungguh. " Mbak, kembalilah dengan mas Salim! " Jujur aku terkejut apa yang ia utarakan tak sesuai dengan ekspektasi ku.
Ku pikir ia akan memintaku pergi dari kota ini atau bahkan pergi dari negara ini jika ia tahu aku mantan istri suaminya.
Aku pernah meminta seseorang untuk mencari tahu kehidupan mas Salim pasca kami bercerai, dan ku temukan Salma yang sudah menggeser ku di kedudukan hati mas Salim, secepat itu ia melupakanku dan menikahi wanita lain. Saat itu aku kecewa aku marah hampir putus asa hingga tak memperdulikan kehidupan anak-anak ku, bahkan sampai mereka dewasa dan pertengkaran itu terjadi aku tidak peduli, aku hanya peduli akan hatiku yang terluka dan entah kapan bisa sembuh.
Tapi, setelah Idris membawa Khanza, hidupku mulai berubah aku menjadi lebih lunak padahal dulu aku sangat membenci Khanza aku pikir ia akan merebut Idris dariku seperti Salma yang merebut mas Salim dari ku.
Kini hubunganku dengan Khanza lebih dari sekedar mertua dan menantu justru ia seolah anak sendiri ia yang paling menghawatirkan ku ia juga yang selallu menemaniku.
__ADS_1
Dan Salma apa yang sebenarnya ia rencanakan kenapa tiba-tiba memintaku untuk kembali dengan mas Salim.
" Aku istri mas Salim mantan suami Mbak, tapi kami menikah bukan karena cinta, kami menikah hanya karena sebuah kesalah fahaman. Dan mas Salim masih sangat mencintai mbak dan anak-anak mbak, " Ucapnya lagi menjelaskan terjadinya pernikahan mereka.
Jika masih mencintai kami kenapa tak memperjuangkan kami, sudahlah aku bukan remaja yang ingin di perjuangkan.
Aku sudah dewasa dan cinta, bahkan aku sudah lupa cara mencintai.
" Aku yakin kalian masih saling mencintaikan? "
" Kamu di sini, sayang? " Suara seseorang yang masih sangat ku kenal memenuhi indera pendengaran.
Laki-laki itu mendekati Salma lantas merangkul bahunya mesra. Mas Salim, lelaki itu ternyata benar ia, suara itu masih sangat ku kenal. Ah, kau bilang tak saling cinta tapi nyatanya mas Salim seperhatian ini dengan mu. Atau mungkin ia hanya ingin memamerkan mas Salim padaku. Entah lah ....
" Sama sia .... " Ia menghampiri Salma dan tak segan merangkul bahunya. suaranya tertahan manakala manik matanya menatap ku
__ADS_1
" Maryam! " Ucapnya nampak terkejut dan segera melepas tangannya dari merangkul istrinya.
Ia menatapku lekat, begitupun dengan ku yang seolah terhipnotis dengan tatapannya lantas ikut menatap mas Salim.
Aku tersadar jika terlalu lama menatapnya, Dulu aku sangat senang menatapnya lama-lama seolah itu menjadi hobi ku setiap hari, tapi kini aku tak bisa lagi seperti itu aku tak boleh menatapnya terlallu lama sebab ia kini berstatus suami orang.
Aku dan mas Salim segera memutus kontak, namun kami saling salah tingkah, ku lirik Salma raut wajahnya tak nampak baik-baik saja mungkinkah ia cemburu.
" Aku ada jadwal check up, jadi maaf gak bisa lama-lama, " pamit ku yang di sertai kebohongan pada mereka.
Ku hubungi supir yang mengantarku tak lama ia tiba dan segera mendorong kursi rodaku menjauh dari mereka.
Tak ku sangka Salma malah mengejar lantas berkata. " Pikirkan baik-baik Mbak, saya ihlas jika harus berpisah asalkan kalian bisa bahagia. " Aku tercengang rupanya ia sungguh-sungguh ingin mengembalikan ku pada mas Salim. Tapi nasi sudah menjadi bubur aku tak bisa kembali, ia sudah memiliki anak dari Salma, aku tak tega jika harus memisahkan seorang anak dengan ayahnya hanya karena egoku semata.
ku tepuk lengan Salma, lalu tersenyum padanya. Setelah itu pak sopir mendorong kursi rodaku kembali.
__ADS_1
Next....