Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Kayaknya Ngidam


__ADS_3

Hue ... Hue ...


Pagi-pagi sekali setelah solat subuh berjamaah dengan Idris Za langsung lari ke kamar mandi seraya mengeluarkan isi perutnya dari mulut.


Dengan segera Idris menghampiri Za di dalam kamar mandi.


" Kamu kenapa lagi, mas udah mandi loh, udah nggak bau! " sembari memijati tengkuk Za.


" Gak tahu mas, tapi mual aja. " Za berbalik dari wastafel dengan muka lelah. " Huhhh .... "


" Mau mas pijitin? " Tawar Idris.


Za memelototi Idris, Idris menyeringai.


" Kali ini reall mijitin gak pake plus-plus, " ucap Idris dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


" Janji yah! " tegas Za, Idris mengangguk yakin sembari tersenyum menawan.


Idris mulai memijat sang istri, Za pun merasa nyaman dengan perlakuan Idris.


" Mas ... Mas .... "


" Ada apa? "


" Pengen makan, " Ucap Za sembari ******* bibirnya sendiri.


" Kebetulan mas juga lapar, ayo makan! " Ajak Idris sembari berdiri dan bersiap menggandeng tangan Za.


Za terdiam sejenak tak menyambut uluran tangan Idris.


" Loh, kok malah ngelamun katanya mauakan. "


" Iya, Tapi .... " Za menggantung ucapannya.


" Tapi apa? "


Za menatap Idris sembari menyunggingkan senyum termanisnya.


" Za sayang jangan buat mas gak mau keluar kamar gara-gara liat senyum kamu. " Senyum Za semakin melebar. Idris kembali duduk di samping Za dan mendekatkan wajahnya pada wajah Za, saat wajah mereka sejengkal lagi membunuh jarak Za mendorong Idris.


" Kenapa? "


" Za pengen makan mas! "


Idris menghela nafas. " Huh,,, ayo kita ke meja makan! " Za menggeleng.


" Mau makan di kamar? " Za menggeleng.


" Trus maunya gimana? "


Za tersenyum sembari menatap sang suami. Lantas mengalihkan pandangan pada sekitar. "Pengen makan masakan mas, " lalu kembali menatap Idris disertai senyum manja.


Idris memeluk Za, ia mencium wajah Za lantas berbisik. " Kenapa nggak kamu aja yang masak, maskan gak sepandai kamu dalam memasak. "


Za kembali mendorong Idris dengan wajah cemberut. " Za inginnya mas yang masak, Za gak mau makan kalau bukan mas yang masak! " Rajuk Za.


Idris menggaruk tengkuk yang tak gatal. " Yadeh, mas, yang masak. " Seraut senyum terpancar indah dari wajah sosok wanita bernama Khanza Aditya.


" Idris mana Za? " Tanya Mama Maryam saat mereka berada di meja makan. " Belum bangun yah? " sambungnya lagi.

__ADS_1


" Nggak ko mah, lagi masak di dapur, " jawab Za sembari tersenyum.


" Nih, nasi goreng ala suami buat istri tercinta, " Ucap Idris sembari meletakan nasi goreng di hadapan Za.


" Wahh, " Za menelan ludah. " Tapi mirip buatan Bi Tini yah! "


Idris melirik bi Tini yang sedang menyiapkan makanan. Bi Tini menunduk seraya tersenyum.


" Ini asli buatan mas kan? " tanya Za.


" Ya iya lah, buat istri apa sih yang gak. " sembari menaik turunkan alis.


" Sejak kapan kamu bisa masak Dris? "


" Hehe ... Idris juga lupa mah. "


" Lupa apa karena emang gak bisa, " ucap papa Salim, lantas Idris tersenyum.


" Hehe, ya kalau buat istri harus di bisa-bisain pah. "


Idris duduk di samping Za, sedang Za mulai menyantap makanan nya. Satu suap Za mulai merasai, dua suap ia hentikan makannya, sebab perutnya terasa bergejolak Za pun lari ke kamarandi, Idris melihat Za lari dan mengikutinya.


" Hue ... Hue .... "


" Za kamu nggak papa! " Idris menghampiri Za yang sedang muntah di wastafel.


" Gak, agak mual doang kok. "


" Sejak subuh kamu muntah-muntah terus, apa kita kerumah sakit aja, " usul Idris.


" Tar aja deh, Za paper pen makan, " Ucapnya sembari berjalan menuju meja makan dan kembali duduk di kursinya.


" Gak papa kok mah, cuma mual. "


Za mengendus-endus makanannya. " Ini yang masak Bi Tini yah? "


Bi Tini menatap Za begitupun Idris yang hendak duduk kembali. mereka berdua saling tatap.


Za melihat Bi Tini dan Idris saling tatap seolahemberi kode.


" Ayoh, jangan bohong Za tahu inituhbmasakan Bi Tini kan, ngaku aja deh. "


" Hehe ... iya, " kekeh Idris sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedang Za cemberut.


" Yadeh, kali ini mas yang masak, tapi gak bakal se enak Bi Tini gak papa yah. " Za mengangguk sumringah.


Tak lama nasi goreng buatan idris pun datang, ia sajikan di hadapan Za, nasi goreng yang hampir gosong, entah bagaimana Idris membuatnya. Mama Maryam, papa Salim dan Bi Tinipun menahan tawa.


" Za cobain yah mas. " Za menyendokan nasi goreng ke mulutnya, aroma bawang rasa yang sedikit asin bercampur sedikit pahit pun menyatu dalam mulut Za, semua yang memandang menelan ludah kecuali Za yang terlihat amat menikmati makanannya.


" Enak Za! " tanya Idris. Za mengangguk.


" Minum dulu, " Idris menyodorkan minuman pada Za.


" Sudah mas. " Za mengelap bibirnya dengan tisu. Za terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu sembari bibirnya ia gulum-gulumkan.


Idris melihat apa yang dilakukan istrinya.


" Masih kurang? " tanya Idris dan di jawab gelengan oleh Za. " Trus itu bibir di gitu-gituin kenapa? " Za tersenyum manja sampai matanya menyipit.

__ADS_1


" Apa? " Idris kembali bertanya.


" Kepingin mie Aceh. "


" Yaudah, nanti pas mas pulang mas beliin mie Aceh. "


" Maunya sekarang. " Idris merogoh saku mengambil benda pipih dan mengotak-atik mencari aplikasi penjual makanan onlain.


" Mas mau ngapain? "


" Beli mi Aceh. "


" Onlain. "


" He'eh. " Mata Idris fokus ke ponsel.


" Mas .... "


" He' eh. " masih fokus di ponsel.


" Mas! "


" Iya, ini mau beli. "


" Mas, Za maunya mi Aceh yang jualnya asli orang Aceh, kalau bukan asli orang Aceh Za gak mau makan, dan ... maunya langsung gak mau onlain. " Za beranjak dari meja makan dengan wajah cemberut.


Idris menatap heran pada Za, begitupun Mama dan papanya.


" Jam segini emang pedagang mie Aceh udah buka, ada-ada saja kamu Za. "


" Ada yang aneh dari Za yah mas? " Tanya bi Tini.


" Iya, sejak kemarin. "


" Pagi ini ada muntah-muntah, " kembali Bi Tini bertanya.


" Iyah, subutbtadi sehabis solat Za muntah-muntah. "


" Alhamdulillah, " suara Mama Maryam menjadi pusat perhatian.


" Alhamdulillah, kenapa mah? " Tanya papa.


Sedang Mama dan Bi Tini saling tatap dan tetsenyum. Bi Tini lantas membawa piring kotor ke dapur.


" Alhamdulillah kenapa sih mah? " Idris heran dan bertanya pada mamanya.


" kayaknya istrimu ngidam. "


Idris berfikir sejenak, lalu ia tersenyum dan bergegas menuju kamar, bahkan ia hampir menabrak Rayan.


" Ada apa sih buru-buru gitu, " omel Rayan sembari duduk di meja makan.


Mama dan papa pun mulai beranjak dari meja makan.


" Loh, pada mau kemana gak ada yang mau sarapan nih! "


" Yang ada kamu dari mana jam segini baru sarapan! " ucap mama Maryam sembari menggamit lengan suaminya.


" Udah pada sarapan toh, ya udah aku sarapan sendiri, emang biasa sendiri ke mana-mana sendiri tidur juga sendiri, ahh ,,, kenapa takdir belum juga berpihak pada ku, " sembari menggigit roti dengan wajah sedih.

__ADS_1


Next ,,,, 😊🙏


__ADS_2