Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Mencari kebenaran


__ADS_3

Setelah seharian mengistirahatkan diri di rumah, paginya Rayan bersemangat pergi ke kantor.


Ia berjalan menuju mobilnya bergegas menaiki dan menjalankannya, dalam perjalanan nampak Rayan tengah menelfon seseorang.


Entah siapa yang telah ia hubungi, tapi setelah panggilan terputus Rayan mengembangkan senyum bahagia di wajah.


Bahkan sesampainya di kantor, dengan senyum ramah ia menyapa setiap orang yang ia temui tak terkecuali pak security juga OB yang tak sengaja berpapasan dengan nya.


Jika biasanya Rayan akan cuek bila bertemu mereka, kali ini ia tidak hanya tersenyum bahkan tak jarang siapapun yang ia temui ia tanyai kabarnya.


Nampak raut wajah heran dari para karyawannya, ada yang menyenggol sesama temannya seolah menanyakan perihal sikap bos mereka yang tak seperti biasa. Ada pula yang saling tatap merasa bingung dengan tingkah Rayan yang ramah ini.


Rayan memasuki ruangan, ia duduk di kursi kebesarannya sedang senyuman masih menghiasi wajah.


Tak lama pintu di ketuk, seseorang masuk ke ruangan Rayan. Wajah Rayan nampak serius.


Seseorang dengan pakaian ala orang-orang kantor itu mendekati Rayan ia membisikan sesuatu pada Rayan. Senyum di wajahnya memudar kala ia mendengar berita dari pegawainya.


Rayan mengangguk paham, karyawannya pun beranjak dari hadapan Rayan. Namun, ia kembali lagi menghampiri Rayan dan meletakkan sebuah kartu nama.


" Jika tuan bersedia menemuinya, sore ini ia menunggu tuan di kafe pranaja, " ucap pegawainya lalu pergi meninggalkan Rayan.


Ia tatap kartu nama yang sebenarnya tak asing baginya. ' Salim ' yah, nama itu nama seseorang yang pernah ia sangat kagumi, tapi juga ia benci.


***


" Kamu anak papa yang paling dewasa Rayan, papa harap kamu mau mendengarkan papa, dengarkan penjelasan papa, yah! " Dulu saat kami semua merasa kecewa dengan laki-laki yang kami panggil papa itu, ia memohon padaku agar aku mau mendengar penjelasannya.


Namun, saat ingat bagaimana depresinya Mama saat tahu papa berhianat aku tak Sudi lagi mendengarkannya.


Aku diam bungkam memilih pergi meninggalkannya yang kala itu mengejar ku membujukku agar mau mendengarkan penjelasannya.


***


Dan mungkin ini saatnya aku menemui papa mencoba memberi ia kesempatan untuk menjelaskan, walau kenyataanya ini sudah sangat terlambat, bahkan mungkin tidak akan mengubah apapun.


Sore hari aku menuju kafe yang di ucapkan karyawan ku, memasuki area kafe ku cari-cari sosok yang dulu ku panggil papa.


Tak lama seseorang pramu saji menghampiriku


" Dengan mas Rayan? "


" Yah, " ku anggukan kepala.


" Sudah di persiapkan ruang VIP, mari saya antar! "

__ADS_1


Aku mengikuti langkahnya menuju ruang VIP yang terlihat lebih sepi, karena jarak meja yang satu dengan yang lain jauh juga tersekat, sebab berbentuk ruangan dalam dinding kaca.


" Silahkan pak, " ia mempersilahkan ku masuk ruangan yang mana tak terdapat seseorang di sana.


Aku melirik, memperhatikan setiap bangunannya nampak nyaman namun lebih praivesi.


Tak menunggu waktu lama, seseorang yang membuat janji pun datang, ia segera memasuki ruangan dan duduk di hadapanku.


" Apa kabar Rayan? " sapanya.


Aku mengangguk-anggukan kepala. " Baik. "


" Apa kabar juga Idris? " Lagi ia bertanya, dan dapat Rayan lihat tersirat kerinduan di matanya.


" Baik juga, " jawabku singkat.


" Oh, iya, Nadia bilang Idris sudah menikah, benarkah itu? "


" Yah, " jawabku singkat.


" Wah, ternyata aku sudah memiliki menantu. " senyum mengembang di wajahnya.


" Langsung saja, ada apa anda ingin menemui saya? " Sudah lama aku tak bersua dengan papa dan rasanya canggung jika harus kembali memanggilnya papa.


" Kita pesan makan dulu, lama sekali kita tak makan bersama. "


" Setidaknya kita bisa pesan kopi. " lagi ia menawarkan.


" Terserah. "


" Baik, Mbak .... "


Papa memanggil peramu saji dan mulai memesan.


" Langsung saja, katakan ada apa anda ingin menemui saya? "


Nampak papa menarik nafasnya sebelum ia berucap. " Ini tentang perusahaanmu, sejak dulu papa sebenarnya sudah curiga dengan ommu itu Yan, Om Hans. "


" Curiga kenapa? "


" bagaimana dengan kadaan perusahaan? "


" Semua baik. "


" Tidak Rayan, papa yakin tidak, ada korupsi yang tak kau ketahui, banyak lapaoran yang di palsukan. "

__ADS_1


" Apa maksud Andah? " Rayan mengernyitkan alis. " Jikapun memang ada korupsi seharusnya aku sudah mengalami kerugian, tapi sejauh ini semua baik-baik saja. "


" Apa kau tahu Rayan, Hans itu tidak memiliki aset apa-apa tapi sekarang ia memiliki banyak vila di puncak, Bandung, dan berbagai daerah lainnya. "


" Bukankah Om Hans sudah lama bekerja di perusahaan, sudah pasti ia memiliki aset-aset itu! " Jawabku sedikit meninggi kan suara.


Bukan, bukan aku ingin membela Om Hans, hanya saja aku kecewa jika pertemuan ini yang ia bahas adalah orang lain, sedang ia tak menanyakan Mama barang hanya perihal kabarnya.


" Tapi sejak dulu hingga kini Hans suka berjudi, dan uangnya habis untuk foya-foya, sedang aset-aset itu ia peroleh dari korup di perusahaan mu. Percayalah dengan papa Yan! "


Yan ... Bahkan ia masih memanggilku Yan, nama kecilku dulu.


" Harus kah aku juga percaya dengan orang yang sudah menghianati Mama ku! " ku tatap mata papa lekat.


" Rayan!! " papa menggertak ku.


" Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Harus berapa kali papa katakan papa tidak menghianati Mama kalian. "


" Jika benar begitu, lantas bagaimana bisa ada Nadia. "


" Papa menikahi Salma ibunya Nadia, karena saat itu Salma sedang hancur dan hanya papalah yang bisa menenangkannya, tapi kala itupun Salma tidak hamil, Salma hamil setelah kami menikah Rayan, jangan berfikir yang tidak-tidak pada Nadia, dia adik perempuan kalian. " jelasnya.


Aku bertepuk tangan. " Hebat, papa menolong seorang wanita yang sedang hancur sedang papa sendiri menghancurka wanitanya, istrinya.! " ku tekankan pada kata istri.


" Sudahlah jika kalian tidak mau percaya, tidak apa-apa, tapi untuk urusan Hans ini, papa harap kamu percaya. papa siap bantu kamu jika kamu butuh bantuan papa. "


" Baik akan aku selidiki, " setelah mengatakan itu aku bangkit hendak pergi dari hadapannya. Rasanya muak jika harus berlama-lama duduk bersama lelaki ini, apa lagi setelah ia mengatakan hal tadi. Namun, papa kembali bersuara.


" Rayan ... bagai mana kabar Mama mu? "


Aku menoleh lalu berucap. " Mama baik, dan lebih baik tanpa Anda. " segera ku pergi dari hadapannya, terdengar ia menghela nafas berat.


" Sampai kapan kalian seperti ini, papa bisa jelaskan semuanya. Hah ... Sudahlah aku pasrahkan saja pada Gusti Allah mudah-mudahan suatu hari aku bisa menjelaskan yang sebenarnya, aamiin. "


***


" Aku memintamu menikah dengan Tini, tapi kau tidak mau, sekarang apa? kau malah berselingkuh mas! " Amarah Maryam memuncak ia menangis sembari membanting benda-benda di sekitarnya.


Aku terperangah mencoba mencerna perkataanya. Berselingkuh, siapa? akukah. Tapi aku tak merasa melakukan itu, astaga ini pasti ada kesalah fahaman.


" Coba untuk tenang dulu, sayang! " ku rengkuh tubuhnya, namun ia memberontak.


" Jangan sentuh aku, aku jiji sama kamu mas? " ia meronta minta ku lepaskan sedang air matanya masih berderai.


Tak lama tubuhnya mulai melemah kekuatannya seolah hilang hingga tubuhnya terperosot ke lantai, ku sanggah tubuhnya hingga membuatku ikut duduk di lantai.

__ADS_1


" Kenapa mas? kenapa setelah kebahagiaan kita sempurna, kau malah berbuat seperti ini pada ku mas? "


" Apa yang kamu bicarakan sayang, mas tidak mengerti. " Ia menyoroti ku dengan penuh amarah, sebenarnya apa yang terjadi. Selingkuh! aku tak pernah melakukan itu, karena hanya dialah satu-satunya wanita yang paling aku cinta.


__ADS_2