
Ku hentikan laju troli yang telah berisi beberapa barang belanjaan, berdiri di sini sembari menunggui mas Idris selesai menelfon seseorang meminta izin untuk datang siang ke rumah sakit.
Setelah sarapan Mama memintaku dan Bi Tini belanja untuk keperluan rumah, tapi mas Idris menawarkan diri menemaniku berbelanja sedang Bi Tini ia pinta menjaga Mama Maryam, Mama tak perotes, entah mengapa rasanya pagi ini Mama lebih sering diam.
Selesai menelfon kami melanjutkan berkeliling mencari bahan-bahan dapur yang sudah habis, hampir satu jam kami berkeliling keranjang pun sudah penuh dengan barang belanjaan.
Kami menuju kasir membayar belanjaan, selesai dengan trasaksi barang belanjaan kami letakan dalam mobil.
Setelahnya Mas Idris mengajakku untuk bersantai sejenak dalam mall. Aku menurut, dan kamipun kembali masuk kedalam mall menuju sebuah restoran memesan minuman lantas berbincang santai.
" Mas perhatikan hari ini kamu banyak diam, ada apa? " tanyanya pada ku.
Sembari mengaduk minuman aku menggelengkan kepala. " Cuma perasaan Mas. "
Jujur sebenarnya aku ingin sekali menanyakan soal Nadia pada mas Idris, tapi siapkah jika aku dengar, itu artinya aku harus siap patah hati, siap terluka juga siap kecewa, mengetahui jika Nadia adalah wanita yang pernah di cintai suamiku.
" Mudah-mudahan, " ucap Mas Idris nampak masih curiga dengan perubahan sikapku.
Ah, tentu saja, kadang seberapa pandaipun wanita mencoba menutupi perasaanya orang lain tetap mampu menerka jika kita sedang tidak baik-baik saja.
Rasanya tak enak jika harus meninggalkan Mama terlalu lama, aku meminta untuk pulang.
Kami bangkit hendak meninggalkan restoran, tapi belum sempurna kami melangkah ku rasai seseorang menabrak ku dari arah belakang, barang yang ia bawa pun tercecer di lantai.
" Maaf, Maaf, " ucapnya sembari memumuti barang belanjaannya, akupun ikut membantu wanita itu.
"Sekali lagi saya minta Maaf, yah, Mbak, " lagi wanita di hadapanku meminta maaf.
" Kamu gak papa kan Za? " Tanya mas Idris. " gak papa. "
" Mas Idris! " ucap wanita di hadapanku.
Mas, Idris! apa dia mengenal mas Idris? ku tatap wanita itu entah ekspresi apa yang ia pancarkan aku tak dapat memahaminya.
Sedang suamiku ia nampak terkejut. " Nadia! " ucapnya.
Deg,,,
Nadia, bukankah nama itu nama wanita yang di bahas Mama dan nya malam tadi, nama wanita yang katanya adalah mantan kekasih atau saudarinya, entahlah aku masih belum paham dengan setatus mereka.
" Apa kabar Mas? " wanita itu kembali menyapa.
" Baik, " jawab mas Idris seraya tersenyum.
Aku diam ada rasa yang tak biasa disini, sebuah rasa yang membuat ku sesak kala melihat mereka saling menatap dan melempar senyum, mungkin kah aku cemburu.
__ADS_1
Mas Idris menoleh ia menatapku merangkul bahuku dan memperkenalkannya pada wanita yang bernama Nadia itu." Kenalan ini istriku, Khanza. "
Wanita itu terdiam beberapa saat nampak raut kecewa mengitari wajahnya, mungkinkah ia masih ada rasa.
Namun, tak lama ia menyodorkan tangannya mengajakku berjabatan tangan, ku ulurkan tangan menyambut uluran tangannya.
" Nadia, " ucapnya seraya tersenyum.
" Khanza, " balasku.
" Kapan mas menikah, kok gak undang-undang kami? " Nadia kembali bertanya.
" Beberapa bulan yang lalu, maaf mas gak beri tahu kalian, kami menikah secara sederhana jadi gak kabarin kalian, " jawab Mas Idris, sedang Nadia mengangguk menanggapinya.
" Oh, ya, Papa apa kabar? "
" Baik. " Mas Idris mengangguk-anggukan kepalanya.
" Yasudah, kami duluan yah! " pamit mas Idris.
" Yah. "
Kami melangkah meninggalkan restoran juga wanita yang masih mematung di belakang kami, ia menoleh menatap kepergian kami.
Mobil berjalan menembus jalan raya. Aku terdiam di dalam mobil menyelami fikiranku sendiri sedang mas Idris nampak fokus menyetir.
Ku palingkan wajah pada jalannan, nampak beberapa pedagang asongan menghampiri mobil dan motor yang tengah berhenti, juga para pengamen kecil yang bernyanyi sembari menepuk-nepuk tangannya untuk menghasilkan musik.
" Kamu kenapa? " aku terlonjat saat mas Idris bertanya sembari menyentuh bahuku.
Aku menoleh dan menggelengkan kepala.
" kalau nggak kenapa-kenapa kamu gak mungkin diam kaya gini? " tanyanya lagi.
Ingin mengatakan yang sebenarnya, bertanya tentang wanita tadi. Namun, lidahku Kelu tak mampu berkata barang sepatahpun.
" Aku gak, papa, kok, mungkin cuma lelah, " Aku memilih memberi alasan dari pada meminta penjelasan.
Lampu lalulintas berwarna hijau, mobilpun kembali melaju.
Tiba-tiba Mas Idris menghentikan mobil, " Kenapa mas, kok, berhenti di sini? "
Bukannya menjawab ia malah mematikan mesin mobil lalu menghadap ku menatap diri ini dengan seksama.
" Za, mas tahu kamu ada sesuatu yang ingin di bicarakan atau di tanyakan, katakan! bicarakan! jangan sungkan Mas ini suamimu. "
__ADS_1
Aku terdiam sembari menundukkan kepala, mas Idris mengangkat wajahku sehingga kini kami berhadapan.
" Katakan! " titahnya.
Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk kami membicarakannya.
Ku pejamkan mata sejenak lalau menarik nafas sebelum memulai berbicara. " Siapa Nadia, Mas? " Tanya ku.
Terlihat raut keterkejutan dari wajahnya, ia diam sesaat sebelum akhirnya mulai berbicara.
" Nadia! wanita yang kita temui di mall tadi? " tanyanya dan aku mengangguk.
" Dia saudara tiri ku, anak Papa dengan wanita lain, " jawab mas Idris.
Bukan, bukan itu yang ingin ku tahu sebenarnya, aku ingin tahu apa dia benar-benar mantan kekasihnya. Tapi, apa tadi dia bilang ana Papa nya, anak kandungnya kah?
" Saudara satu ayah? " lagi ku bersuara, dan ia mengangguk.
" Setelah Papa pisah dari Mama tak lama setelah itu papa menikah lagi dan mereka memiliki anak perempuan, yah, Nadia anak itu. " jelasnya.
" Andai dia bukan saudara mas, apa mas akan jatuh cinta pada dia? " Berkerut kening Mas Idris.
" Kenapa kamu nanyanya kaya gitu? "
" Ya, Nadia kan cantik, tingginya semapai, kulitnya putih, sopan, siapapun yang melihatnya pasti terpikat. "
Mas Idris memicingkan matanya. " Kamu cemburu? "
Diam, hanya diam yang ku lakukan saat mas Idris mampu menebak apa yang ku rasakan.
Ia tertawa, tangannya terulur menangkup wajah ku. " Gak usah cemburu dia itu adik Mas. "
" Apaan sih, Mas! " ku lepas tangan mas Idris dari wajahku, dengan wajah cemberut aku menatapnya, sedang ia tersenyum.
Mas Idris mulai menyalakan mobil, " Bukankah dia mantan mu Mas? " kembali ku bertanya. Mas Idris urung menjalankan mobil, ia pun kembali mematikan mesin mobil.
" Kata siapa? " Ia menoleh, kembali menatapku.
" Benarkan dia pernah menjadi kekasih mu? Tapi, kenapa dia juga menjadi adikmu Mas, " ku tatap matanya lekat. " kenapa bisa seperti itu mas? "
" Mas fikir itu masa lalau jadi kamu tak perlu tahu. "
" Justru karena masa lalau aku harus tahu, aku gak mau masa lalumu akan berdampak untuk masa depan kita. "
" Baik kalau kamu mau tahu, mas akan ceritakan. "
__ADS_1
Next.....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏