
" Ini Bu Syifa, tamunya! " ucap Namira, pada seorang wanita yang terlihat dewasa nan cantik.
Mata kami membulat saat saling bertatapan " Kak, Syifa, " ucapku.
Za yang awalnya menatap pada wanita di hadapan kami, kini ia menatapku saat aku menyebut wanita di depan kami dengan panggilan kakak. Lalau matanya tertuju pada wanita itu.
Sedang aku masih menatap tak percaya, kami bisa di pertemukan di tempat ini.
" I-Idris, " ucapnya dengan tergagap.
Aku bangkit dan menyalami kak Syifa, mencium punggung tangannya. Karena, walau bagai manapun ia pernah menjadi kaka iparku mantan istri kakak Rayan.
Ia pun menanggapi uluran tanganku. Dan Za mengikuti apa yang ku lakukan pada kak Syifa.
Wanita di hadapan kami mendudukkan dirinya di atas kursi tunggal dekat Za dan gadis yang bernama Lusi.
Namun, Namira meminta gadis bernama Lusi itu untuk ikut dengan nya. Mungkin agar tidak mengganggu percakapan kami.
Walau ia kesal, tapi, gadis itu tetap mengekor di belakang Namira. Kami menatap kepergian Namira dan Lusi yang terlihat enggan pergi dari Za.
" Oh, iya, Kak, ini Khanza istri Idris, " Kataku memperkenalkan Za pada kak Syifa seraya memegangi tangan Khanza.
Kak Syifa menatap Za, lalu menatapku secara bergantian. " Kamu sudah menikah Dris? sudah lama kah? " Tanyanya memberondong.
" Iya, kak, kami menikah belum sampai setahun sih, kak. " Jawabku dan kak Syifa menganggukkan kepalanya.
" Eee, Khanza ini pernah loh, datang kesini sama Nenek nya, apa kalian pernah bertemu sebelumnya? " Tanyaku pada dua wanita itu.
Mereka serempak menggeleng, " Sebenarnya kakak belum lama di sini, tapi, sebab pengurus panti meninggal, mereka menunjuk Kaka untuk mengurus panti. " aku dan Za mengangguk menanggapinya.
" Pasti ada alasan mereka menunjuk kak Syifa? " tanya Za pada wanita yang kami panggil kakak itu.
Ia menatap kami, lantas tersenyum lalau ia edarkan matanya ke sekeliling. " Itu ... mungkin karena kakak sering menyumbang di panti ini, " jawabnya.
" Apa dulu kakak tidak tinggal di sini? " tanyaku, dan wanita itu mengangguk.
" Aku tinggal di dekat sini, dulu Kaka bekerja di sebuah laundry di jalan besar sebelum memasuki kawasan panti ini. " Kami manggut-manggut memang ia sebelum memasuki area panti ada beberapa toko dan sebuah tempat laundry.
__ADS_1
" Dulu Kaka rutin menyumbang setiap bulannya, sampai kami dekat bukan hanya dengan anak-anak panti. Namun, juga dengan para pengurusnya, dan setelah kepergian ibu panti mereka meminta Kakak menggantikannya, mereka mempercayai tanggung jawab ini pada kakak, " lanjutnya.
" Kakak Syifa hebat, bisa menyisihkan hartanya untuk anak- panti ini, " Ucap Za.
Kak Syifa menatap kami lekat, lantas ia tersenyum seraya menggeleng. " Tidak ... Kakak tidak berjasa apa-apa justru kakakmu yang berjasa, " ucap kak Syifa seraya menatapku.
Aku mengernyitkan dahi. " Kaka Rayan maksud kakak? " ia mengangguk. " Apa hubungannya? " tanyaku lagi.
Wanita itu menghela nafas sebelum memulai berbicara. " Kakak menyumbangkan bukan dengan uang kakak tapi uang itu dari kakak mu, Mas Rayan, setiap bulan ia mengirimi kakak uang melalui orang-orang nya yang masih menjaga kakak hingga saat ini. "
Aku tertegun dengan pengakuan kak Syifa, tentang Kaka Rayan. Apa artinya selama ini mereka masih berhubungan.
" Kalau begitu kak Rayan tahu kakak tinggal di sini? "
" Iya, sejak kakak meninggalkan rumah Mama Maryam, kakak mu tidak benar-benar meninggalkan kakak ia mengirim orang-orang nya untuk menjaga dan mengawasi kakak. "
" Lantas, apa maksud kak Rayan memberikan kak Syifa uang setiap bulannya? "
Wanita itu menatap kosong, lalu berucap. " Sebagai nafkahnya pada kakak. "
" Nafkah! bukankah kalian sudah berpisah? " Tanyaku sedikit terkejut.
Kak Syifa menggeleng masih dengan tatapan kosong, lantas ia tersenyum menatapku. " Kami tidak pernah berpisah, kakak mu tidak pernah memberikan surat cerai, sampai saat ini kami belum bercerai. "
Pengakuan kak Syifa membuatku tak habis fikir dengan kak Rayan, ternyata ia menyimpan banyak rahasia.
" Lalu apa kalian masih berhubungan? "
" Hanya melalui orang-orang nya, kami tidak pernah bertemu langsung. "
" Jika kalian belum bercerai kenapa harus melalui orang lain seperti itu? "
" Kakak pun tak tahu pastinya, tapi orang kepercayaan mas Rayan pernah bilang, ada yang mengawasi pergerakan kakakmu, mereka juga sedang menyelidikinya, tapi sulit ... Sulit mencari info tentang mereka. Pernah kakak mu berjanji akan menemani kakak tinggal bersama kakak meninggalkan rumahnya, tapi itu tidak pernah terjadi, ia berdusta hingga Kaka tak mau lagi menerima uangnya dan memberikan uang pemberian kakakmu untuk panti ini. "
" Kalau Kak Rayan masih mencintai Kak Syifa, kenapa waktu itu Kak Rayan mengatakan pisah? "
Pandangannya menerawang entah kemana. " Ada alasannya, dia bilang ada alasannya, alasan yang sampai detik ini belum pernah ia katakan pada kakak, " ucapnnya sembari mengarahkan pandangannya pada ku.
__ADS_1
" Kenapa? " tanyaku semakin penasaran dengan kisah mereka.
Namun, kali ini kak Syifa menggeleng lemah.
" Kakak sudah tidak mau berharap apapun, jikapun Mas Rayan ingin benar-benar menceraikan kakak, Kakak akan ikhlaskan itu. " Ia mengatakan nya dengan nada yang lemah.
Mungkinkah kak Syifa sebenarnya masih mencintai Kak Rayan? Lalu bagaimana dengan kak Rayan sendiri, apa ia masih mencintai Kak Syifa atau tidak. Namun, jika tidak kenapa ia tak membiarkan kak Syifa lepas, malah ia memberi Kak Syifa nafkah yang seolah memang mengikat kak Syifa untuk tetap bersamanya.
Ada apa ini? Kenapa seolah banyak hal yang tersembunyi dari pengetahuanku tentang kak Rayan.
Ku dekati kak Syifa menggenggam tangannya seraya menguatkan, sebab setelah mengatakan tadi raut sedih nampak jelas terlukis di wajahnya.
Aku rasa kak Syifa masih mencintai Kak Rayan.
" Idris akan coba bicarakan ini pada kak Rayan, " ku ucapkan itu sembari menatap kak Syifa.
Kak Syifa mengangkat wajahnya, ia menatapku seolah memang memohon bantuan ku.
Kak, tanpa kau harus bicara pun aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian, aku akan luruskan masalah kalian.
" Idris janji akan mempertemukan kak Syifa dan kak Rayan. "
Ku katakan itu karena melihat raut kak Syifa, aku yakin jika rasa cinta itu tidak benar-benar pergi dari hati kak Syifa, dan bagaimana jika kak Rayan pun memiliki rasa yang sama, sebab banyak wanita yang Mama jodohkan untuk Kak Rayan, tetapi kak Rayan selallu menolaknya dengan berbagai alasan.
" Idris juga minta maaf atas nama Mama karena sudah berkata tak pantas pada kak Syifa. " ku ucapkan itu sembari menatap Za, sebab itupun terjadi pada Za.
Apa sebenarnya yang ada di benak Mama hingga ia mudah melampiaskan amarah pada menantu-menantu nya, padahal mereka wanita-wanita baik.
" Terima kasih, " ucap kak Syifa paruh dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Za mendekati kami, ia merengkuh tubuh kak Syifa dalam peluknya, kak Syifa tak dapat menahan haru ia tersedu dalam pelukan Za, bahkan Za sendiri ikut menangis.
Aku tahu apa yang kalian rasakan, kalian wanita-wanita baik yang di sia-sia kan. Aku berjanji akan mendapatkan keadilan untuk kalian, dan kalian akan mendapatkan kasih sayang Mama seperti kami anak-anak nya.
Ku tatap mereka, lalu sedikit menjauh dari mereka memberi ruang untuk mereka meluapkan rasa yang mungkin telah lama mendesak. Namun, tak dapat terungkap.
Next....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏
__ADS_1