Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Kedatangan Bi Arum


__ADS_3

POV Mama Maryam.


Sejak perdebatan ku dengan Bi Tini di meja makan tempo hari, kini aku lebih suka mengurung diri di dalam kamar.


Aku memang sengaja menghindarinya, aku tak ingin terpengaruh olehnya, dan menyesali keputusanku untuk membenci mas Salim.


Berkali-kali Bi Tini mengetuk pintu kamar, mengajak ku makan. Namun, tetap aku abaikan, sampai Rayan menyadari perubahanku dan datang menemui ku.


" Mah, aku bawa makanan dan obat-obatan Mama. Mama makan, yah, biar Rayan suapin? " bujuk putra sulung ku itu.


Rayan menyendok nasi dan memberikannya padaku yang terduduk di atas kasur dengan bersandar pada sandaran kasur, aku tetap bergeming tak membuka mulut sedikitpun, karena rasanya nafsu makanku sudah hilang sejak kemarin.


Dan di saat-saat seperti ini aku merindukan bungsuku, Idris, karena hanya ia yang selalu di sampingku ketika aku kembali mengingat perpisahanku dengan mas Salim.


Idris akan menenangkan ku ia akan memelukku dan menyemangati ku, berbeda dengan Rayan perlakuannya padaku tak seperti Idris, ia terlalu sibuk bekerja ia juga sosok yang tertutup hingga ia menjadi orang yang dingin.


Rayan menurunkan sendok berisi nasi yang hendak ia berikan padaku, lantas ia taruh lagi sendok itu ke pering.


" BI Tini bilang, kalau Idris datang ke rumah, iya, mah? " Aku mengangguk menanggapi peetanyaan nya.


Terdengar Rayan menghela nafas. " Kenapa Mama tidak menyuruh Idris tinggal, jika Mama ingin? "


Ku tatap putra sulungku itu. " Dia sudah bukan milik Mama Rayan, kini Idris milik istrinya dia lebih memilih istrinya ketimbang Mama. "


" Idris punya istri? " berkerut dahi Rayan. " Kapan ia menikah? " Aku menggeleng lemah.


" Bawa Idris pulang Rayan! " Ucapku kemudian yang membuat Rayan terdiam cukup lama.


" Akan ku usahakan, Mah, " ucapnya kemudian.


Dan benar saja beberapa hari setelah itu Idris datang lagi ke rumah, kali ini ia datang tanpa istrinya.


Idris mengengetuk pintu, tak segera ku mintai ia masuk, sengaja, aku sedang mendengar kan kalau-kalau ada suara lain, atau ia datang bersama istrinya.


Jujur aku masih kecewa pada Idris. Namun, walau bagaimanapun ia tetap bungsuku yang paling ku sayang.


Ku persilahkan ia masuk, kami berbincang bahkan sedikit berdebat, tentu saja tentang istrinya.


Ahirnya aku mau menuruti nasihat nya tuk makan dan minum obat. Juga memberi kesempatan pada istrinya tuk tinggal di rumah ini, tapi bukan berarti aku memberinya peluang tuk menjadi menantuku.


Aku hanya ingin menegaskan bahwa ia tak sepantasnya bersanding dengan putraku.


Lihat saja nanti.


***


Tok ... Tok ... Tok...


Baru saja ku suruh bi Syifa tuk membeli bahan-bahan dapur yang sudah habis, ke pasar.


Terdengar suara pintu di ketuk, apa ada yang tertinggal fikirku.


Lalu ku dekati pintu dan memutar gagang pintu.


" BI Arum! " ucapku terkejut setelah ku tahu siapa seseorang yang mengetuk pintu, aku tak menyangka jika Bi Arum akan berkunjung.


" Apa kabar, Za? " sapanya sedikit ketus lantas Bi Arum tersenyum, senyum yang terlihat di paksakan.

__ADS_1


" Baik, Bi. " Aku pun ikut tersenyum menanggapinya.


" Oh, yah, silahkan masuk Bi! " Aku mempersilahkan nya masuk. BI Arum pun mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah, seraya duduk di kursi ruang tamu.


" Mau di buatin minum apa, Bi? " Tawarku pada Bi Arum.


" Terserah kamu, " jawabnya masih dengan nada yang sama, sedikit ketus.


Aku pun beranjak dari hadapan Bi Arum menuju dapur, membuat teh hangat untuknya. Juga ku ambil beberapa cemilan untuk ku suguhkan pada Bi Arum.


Setelah meletakan teh hangat beserta cemilan ke atas meja aku pun ikut duduk di kursi.


Bi Arum meminum teh buatan ku.


" Suami kamu di mana? " Tanyanya sembari menaruh gelas berisi teh.


Aku belum jujur pada Bi Arum tentang pekerjaan mas Idris, dan juga belum bertanya pada mas Idris tentang memberitahukan soal pekerjaan nya pada Bi Arum.


" kerja, Bi. "


" Kerja di mana? " Aku terdiam beberapa saat, bingung harus berkata jujur atau tidak.


Jika aku jujur, apa itu baik buat mas Idris. Entah lah. Aku masih teringat perkataan Nene soal perusahaan yang sedang tidak baik-baik saja juga soal alasan perjodohan ku dengan Surya dulu.


" Aku lupa, Bi, nama tempat kerja Mas Idris. " Ahirnya aku berbohong.


" Sofia gak ikut Bi? " ku alihkan pertanyaan agar bi Arum tak lagi bertanya soal pekerjaan mas Idris.


" sofi sibuk dengan sekolah nya. "


"Heeh. Oh, yah, Bi, aku punya kabar baik! " ucapku penuh binar.


" Saat ini aku ... sedang hamil, Bi, " kataku, berharap bi Arum akan merespon baik.


Namun, ia hanya ber, oh, ria seraya meminum kembali teh hangat yang ku buat.


Berbeda dengan respon Bi Syifa saat tahu aku tengah hamil, ia sangat antusias ia juga menjelaskan berbagai hal tentang kebiasaan orang hamil, juga hal-hal yang tak boleh di lakukan orang hamil, bahkan bi Syifa juga sangat menjaga makananku.


Katanya orang hamil baiknya makan inilah makan itulah, dan gak boleh makan ini makan itu. Banyak hal beliau memberiku nasihat.


Padahal bi Syifa hanya tetanggaku, dia bukan saudara juga bukan keluarga, tapi sikapnya jauh lebih hangat ketimbang keluargaku sendiri.


Bukankah ada yang bilang jika darah lebih kental dari pada air.


Dan bukankah aku dan Bi Arum adalah keluarga. Namun mengapa kami serasa bukan siapa-siapa.


Ku lihat Bi Arum nampak berfikir, lantas ia letakkan teh yang barusan ia minum ke atas meja.


" Kamu hamil? " Tanyanya.


Mungkinkah Bi Arum berfikir untuk lebih memperhatikan ku kini.


Aku mengangguk menanggapi jawaban nya.


" Baguslah, kalau begitu, sudah pasti suami mu akan bertanggung jawab atas kau dan bayimu, ya, kan? "


Apa maksud Bi Arum, rasa-rasanya ia sedang merancanakan sesuatu.

__ADS_1


" Ya, pastilah Bi, " jawabku.


" Ok, kalau begitu aku tak perlu menampung kau, jika ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas mu. "


Aku mengernyitkan alis, tak paham dengan apa yang di katakan Bi Arum. " Maksud bibi? "


Ia menyenderkan tubuhnya pada kursi kemudian mengedarkan pandangannya pada seluruh rumah, lalu duduk kembali dengan tegap dan menatapku lekat.


" Bibi sudah temukan orang yang mau beli rumah ini. "


Aku ternganga sungguh tak percaya jika Bi Arum benar-benar ingin menjual rumah ini.


" Bibi mau menjual rumah ini? ". Aku bertanya, yg di jawab anggukkan oleh BI Arum.


" Tapi rumah ini rumah Nene, rumah kenangan kita bi, bibi lupa di sini bibi lahir dan tumbuh. Tidak bi, jangan jual rumah ini, Za tidak setuju. "


" Mau kamu Setuju atau tidak bibi akan tetap jual rumah ini! "


Bi Arum beranjak dari kursi ia masuk ke kamar ku mengobrak-abrik isi lemari.


" BI! BI! bibi cari apa?"


" Jangan berlagak bego Za, katakan pada bibi di mana nenek menyimpan sertifikat ruamah ini? "


" Astaghfirullah, Bi! "


" Katakan, Za di mana?! " bentak Bi Arum.


Aku terlonjat. " Za, benar-benar gak tahu, Bi. " ku ikuti kemanapun langkah Bi Arum.


Ia mondar-mandir ke kamar Nene juga kamarku, mengobrak Abrik semua tempat yang menurutnya berpotensi untuk menyimpan sertifikat itu.


" Bi!, sudah bi! " Teriakku yang tak di dengar olehnya. Sedang Bi Arum semakin berutal mengobrak-abrik kamar.


Kini ia beralih ke ruang tengah ada Bufet di sana yang mana di sisi kanan kiri nya terdapat laci yang terkunci.


BI Arum menatap pada laci lalau menatap ku tajam. " Mana kuncinya? " ucapnya seraya menyodorkan tangan meminta benda yang ia ingin.


" A-aku. "


" Atau mau bibi rusak sekalian!" ancamnya.


Aku pun tak tahu apa ada sertifikat atau tidak di dalamnya.


Syukur jika tidak ada. Namun, bagaimana jika ada?


Ku serahkan benda kecil yang di pinta bibiku itu. Ia menerimanya dengan kasar lalu mulai memutar kunci yang telah terpasang pada lubang kunci.


Syukur di laci pertama tak ada berkas apapun di sana. BI Arum kembali melakukan hal yang sama pada laci kedua, dan terlihat ada berbagai berkas, Bi Arum mulai mencari sertifikat, ia mengacak-acak isi laci itu.


Dan ... Ia menemukan apa yang ia cari. Aku terdiam tak bergerak di belakangnya.


BI Arum berdiri seraya menenteng kertas berharga itu. " Cepat keluar dari rumah ini! " ucapnya seraya meninggalkanku dan keluar dari rumah ini.


" BI! BI Arum! tunggu! " Aku berusaha mengejarnya.


Next....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2