
Tok ... Tok ... Tok ...
" Siapa yah? " Jam 7:30 pagi aku dan Za yang sedang mengobrol di ruang TV di kejutka dengan suara ketukan pintu dari luar.
Bi Tini menghampiri pintu untuk melihat siapa yang datang sepagi ini.
" Pak, Salim! " Bi Tini terkejut saat melihat tamu yang datang ke rumah.
" Apa kabar Tin? " sapa seorang pria dari luar pada Bi Tini.
" Ba-ba- ik, pak, " ucap Bi Tini terbata.
" Maryam ada? "
Bi Tini menoleh, melihat ke ruang tamu dimana ada aku dan Khanza.
" A- da. "
" Boleh saya masuk? "
" Sebentar pak, saya beri tahu Bu Maryam dulu. " Bi Tini meninggalkan mas Salim, lantas menemuiku.
" Siapa? " Tanyaku penasaran.
" E-e anu, i-itu .... "
" Itu siapa? "
" Pak Salim, Bu. "
' Mas Salim ada apa ia datang sepagi ini? ' batinku.
" Beliau minta masuk dan ingin menemui ibu. "
" Katakan padanya temui aku di taman. "
" Baik, Bu."
" Khanza bisa bantu Mama, tolong antarkan Mama ke taman. "
" Iya, mah. "
Za mendorong kursi rodaku menuju taman dan Bi Tini menghampiri kembali pria di depan pintu sana.
Setelah Za mengantarku ke taman aku di sini seorang diri menunggu seorang pria yang telah lama ku kenal namun telah lama juga tak kunjung ku jumpai.
Ini akan menjadi kali keduanya kami bertemu kembali setelah kemarin kami sempat bertemu secara tidak sengaja.
Tapi mengapa rasanya segugup ini seperti seseorang yang telah lama tak bertemu kekasihnya dan akhirnya di pertemukan kembali. Ah, sudahlah Maryam jangan berfikir seperti itu, sekarang kau bukan remaja lagi kau ini sudah tua bahkan sudah punya cucu, seharusnya, jika saja Za tidak keguguran waktu itu.
__ADS_1
Terdengar derup langkah kaki seseorang mulai mendekat, bahkan sepertinya kini ia ada di belakangku.
" Apa kabarmu Maryam? " Pria itu menyapaku sembari mendekat lantas mendudukkan diri di kursi yang berada di hadapanku.
" Baik mas. " Sebisa mungkin ku kuasa diri agar nampak biasa saja di hadapannya walau jantung kini berdetak sangat hebat.
" Apa yang terjadi, kenapa kamu nampak kurus? " Tanyanya lagi.
Kenapa ia bertanya bukankah ini semua sebab ia.
" Dan ada apa dengan kakimu, kenapa menggunakan kursi roda? "
" Aku tidak apa-apa mas, ini hanya kecelakaan kecil. Tumben mas ke rumah apa ada sesuatu? "
" Sebelumnya aku minta maaf pada kalian, maaf karena selama ini tidak bisa mendampingi kalian. Bahkan mungkin aku tak tahu apa saja yang telah kalian lewati hingga sampai di titik ini."
" Sudahlah mas, aku tak ingin membahas masa lalu, " ku ucapkan itu dengan tegas.
Aku tak ingin lagi mengingat-ingat masa lalu kami, entah yang membahagiakan atau sebaliknya, sebab saat ini jika aku mengingat akan mas Salim yang terlintas di benakku adalah Salma dan Nadia putrinya, ada mereka yang hatinya harus ku jaga, biarkanlah aku begini mungkin sampai badanku tak lagi memiliki ruh.
" Sebenarnya kenapa mas ingin menemui ku? " ia nampak menghela nafas.
" Kemarin saat di cafe apa saja yang kalian bicarakan? "
" Apa Salma tidak mengatakannya pada mas? " ia menggeleng.
Aku hendak mendorong kursi roda dengan tanganku, namun mas Salim mengeluarkan sebuah kertas, amplop dan kertas, lantas menyodorkannya pada ku.
" Apa ini? "
" Bacalah! "
Amplop yang berisi surat gugatan cerai dari Salma, dan sebuah surat.
*Assalamualaikum mas.
Mas terima kasih karena pernah menolongku dari lingkar hitam hidupku, terima kasih karena pernah menjadi suami terbaik dalam hidupku dan terima kasih karena sudah menjadi sosok ayah yang luar biasa untuk Nadia.
Aku pamit mas, maaf aku pergi mendadak. Aku sadar mas, setelah pertemuan kita kemarin, aku semakin yakin dengan keputusanku untuk mengembalikanmu pada mbak Maryam, ku lihat jika kalian masih saling mencintai, tolong jangan membohongi hati kalian, bersatulah kembali dan bahagiakan lah Mbak Maryam mas. karena ku sadar jika hadirku hanya menjadi penghalang kebahagiaanmu dengan mbak Maryam.
Aku bahagia mas, aku sangat bahagia jika kalian kembali bersama, jangan hawatirkan aku dan Nadia kami baik-baik saja.
Sekali lagi maaf jika aku masih banyak kekurangan ketika menjadi istrimu, dan terima kasih pernah menjadi suami terbaik dalam hidupku.
Salma*.
**ku letakkan kembali surat yang baru saja ku baca, ternyata permintaanya kemarin tidak main-main, Salma memang menginginkanku kembali dengan mas Salim.
Namun, apa mas Salim memiliki hal yang sama, bisa saja ia datang kemari karena hanya menghawatirkan istrinya.
__ADS_1
" Apa Salma mengatakan sesuatu jika ia mau pergi? " mas Salim bertanya. Ku gelengkan kepala sebagai jawaban, ia menghela nafas berat, nampak jika ia sangat menghawatirkan istrinya.
Sudahlah Maryam jangan berharap kembali dengan nya.
" Apa ini juga yang kalian bicarakan kemarin? " Aku mengangguk.
" Tapi tenang saja aku tidak menerima permintaanya. "
" Kenapa? "
" Aku bukan wanita penganggu hubungan rumah tangga orang lain, " Jawabku sedikit ketus, lagian kenapa juga mas Salim bertanya seperti itu.
Ia kembali menghela nafas berat. " Ini salahku Maryam, akhir-akhir ini aku sibuk memikirkan hal lain selain mereka, mungkin mereka terasa terabaikan. "
" Memang apa yang kamu fikirkan, " refleks aku bertanya.
Mas Salim menatapku. " Kamu ..., " ucapnya lirih.
Aku sedikit salah tingka. " Aku selallu berfikir bagaimana cara mendapatkan maaf dari mu juga anak-anak kita, sampai aku lupa untuk memperhatikan Salma juga Nadia.
" Lantas kau menyalahkan ku atas kepergian istrimu, " Jujur aku sedikit kesal dan mengucapkannya dengan nada ketus.
" Aku yang salah Maryam, aku yang salah, sebab sadar jika aku sudah beristri lagi, namun hati ini tak pernah berhenti untuk tidak memikirkanmu. "
" Aku tidak bisa benar-benar melupakanmu begitu saja, walau kita terpisah hingga berpuluh tahun lamnya aku masih sering memikirkanmu di saat kami bersama-sama. Aku tidak bisa melupakanmu kenangan kita terlallu banyak Maryam. "
Aku terhenyak dengan ucapan mas Salim dan bungkam tak tahu lagi harus mengatakan apa, sebab sejak perpisahan kami memang jiwaku seperti hilang sebagian. Dan benar mungkin aku masih mencintainya.
Astaghfirullah Maryam, rasa ini harus segera kau hapuskan sebab lelaki di hadapanmu ini sudah bukan suamimu lagi.
" Pulanglah mas! " Ku suruh mas Salim untuk pulang jika tida mungkin aku akan terbawa suasana dan dengan mudahnya kembali jatuh hati pada ia.
" Baiklah. " Mas Salim bangkit.
" Jika kau sudah menemukan keberadaan Salma tolong beri tahu aku, " ucapku saat ia hendak melangkah.
Saat mas Salim memasuki rumah ia bertemu dengan Rayan dan Idris.
" Papa! " ucap Idris.
" Idris. " mas Salim. tersenyum menatap mereka.
" Apa yang anda lakukan di sini? " Rayan bersuara dengan nada ketus.
" Tidak ada biarkan papah kalian pergi, " sambung ku memotong perbincangan mereka.
Mas Salim menghela nafas dan keluar dengan langkah gontai.
Next**....
__ADS_1