
POV Rayan
" Hari ini aku bertemu Kak Syifa di panti asuhan, " ucap Idris setelah aku tak menyahuti panggilannya.
Tentu saja aku terbelalak, mataku menyorot tajam pada nya dan segera menghampiri Idris meminta ia menemui ku di taman.
" Temui aku di taman belakang, " bisiku pada Idris sembari berlalu dari hadapannya. Bagaimana mungkin ia bertemu Syifa, kenapa? apa ada yang ia curigai? batinku tak henti bertanya.
" Ada urusan apa kau menemui Syifa? " sesampainya di taman langsung ku tanyai pria yang berstatus adikku itu.
Idris berkata jika Za yang meminta ia mengantarnya ke panti asuhan, panti asuhan yang sering ia datangi bersama mendiang Neneknya dulu.
Yang artinya mereka memang tak sengaja bertemu Syifa di sana.
Kenapan Bimo tak bilang jika ada Idris di sana.
" Banyak hal yang Kak Syifa ceritakan, termasuk prihal kakak yang sampai saat ini belum menceraikan kak Syifa, " kembali Idris bersuara yang membuatku langsung menatapnya.
Kenapa Syifa harus menceritakan ini juga pada Idris.
" kenapa Kak? kenapa kakak tak menceraikan Kaka Syifa, kenapa kakak juga berjanji pada kak Syifa untuk menemuinya dan hidup bersamanya, tapi kakak tak mampu menuaikan janji kakak. Kak, kak Syifa sangat kecewa! "
Ku tundukkan pandangan ucapan Idris membuatku kembali merasa bersalah pada Syifa.
Aku yang berjanji namun aku pula yang ingkari, aku masih ingat pesan Syifa yang ia sampaikan pada Bimo saat ku titipkan pesan juga melalui Bimo jika aku akan segera menjemputnya dan kami akan hidup bersama.
Kami tak pernah berkomunikasi secara langsung, apa-apa yang ingin aku atau Syifa katakan semuanya melalui Bimo seseorang yang ku percayai untuk menjaga Syifa.
Lalu Bimo bilang Syifa terlihat sumringah, ia pun belum pernah melihat Syifa sesenang itu, tapi Syifa tak mengatakan apa-apa selain kata ini " tolong katakan pada mas Rayan. Aku mencintainya, " Ucap Syifa yang membuatku tersenyum seharian kala itu.
__ADS_1
Namun, rencana ku gagal, harapan agar mamah mengusirku musnah saat Idris yang memilih hengkang dari rumah, membuat Syifa menungguku hingga ia lelah dan tak mau lagi menerima nafkah dari ku. Dan ternyata uang itu ia sumbangkan ke panti.
Wanita ku itu pasti kecewa. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa, saat kondisi Mama tidak baik-baik saja sedang putra tersayangnya memilih pergi dari rumah sebab amarahnya pada ku.
Jika aku memaksakan pergi malah akan membuat kondisi Mama semakin tidak stabil. hingga akhirnya aku memilih di benci adikku dan membuat kecewa wanita ku.
Jika semua masih bisa di perbaiki aku akan lakukan apapun untuk memperbaiki semuanya, aku masih sangat-sangat mencintainya tak ada satupun orang yang bisa menggeser ia dari tahta tertinggi di relung hatiku.
Aku berjalan gontai lalau mendudukkan diri di kursi, hal yang sama di ikuti Idris, ia terus-menerus menanyai alasan ku tak menceraikan Syifa.
Akhirnya ku ceritakan semua pada Idris soal orang-orang yang sedang mengawasi keluarga ini, juga soal kecurigaan ku pada Om Hans.
Awalnya Idris tak percaya sebab setelah papa dan Mama berpisah Om Hans seperti orang tua kedua bagi kami. Namun, semua bukti mengarah padanya.
Percaya atau tidak kami harus tetap waspada pada Om Hans.
***
Seperti pagi ini ia memintaku mengantarnya ke rumah sakit ia beralasan jika mobilnya masuk bengkel, padahal jelas-jelas aku melihat mobil dia di garasi.
Tapi sudahlah aku malas berdebat dengannya. Biar saja ia berfikir jika aku tak tahu kalau ia hanya berpura-pura.
Sampai di rumah sakit aku berniat langsung pergi walau Idris berkali-kali mengajak berbasa-basi seakan kami adik kakak yang dekat.
Tapi malah ku hiraukan, bagai mana tida aku malu melihat tingkah adikku sendiri yang menurutku terlalu lebay dengan mencium tanganku di depan umum lalu melambaikan tangan bak adik SD yang di antar kakaknya pergi ke sekolah. Sumpah geli liatnya.
Namun adegan konyol itu tak sampai di situ, kala Sam sahabat Idris menggoda kami.
" Lama sekali tak lihat kak Rayan datang ke sini lagi, ciee rupanya kalian sudah akur nih, harus ada PA nih, " ucap Sam sembari menaik-turunkan alis dengan senyum lebar andalannya.
__ADS_1
Aku dan Idris saling tatap seraya mengernyitkan alis. " Apa itu PA? " tanya Idris pada Sam.
" Pajak Akur. " lantas Sam terbahak yang membuat kami menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar.
Bukannya mereda Idris malah bersikap konyol dengan ikut terbahak. Sama-sama tak waras. Ku Hela nafas dan menggelengkan kepala.
" Ya, ada benarnya juga kamu Sam, harus di rayain ini ya, gak, Kak? " Tanya Idris pada ku.
Sedang sejak mereka bercakap-cakap aku sudah memasuki mobil segera menyalakan mesin dan bergegas pergi.
" Kak! Kak! " Teriak Idris dan Sam, yang ku tanggapi dengan lambaian tangan dari mobil.
Mobil kembali membelah jalan butuh waktu beberapa menit dari rumah sakit ke kantor.
Dalam perjalanan aku teringat ucapan Idris di mobil tadi.
" Kakak, apa Kakak masih mencintai Kak Syifa? " tanyanya, aku tak merespon. Namun, ia terus bertanya.
" Memangnya kenapa jika aku masih mencintai Syifa!? "
" Aku akan bantu kakak untuk kembali dengan Kak Syifa juga membawa Kak Syifa kembali ke rumah kita, " Ku lihat ia sungguh-sungguh dalam mengatakannya.
" Dan tentang Om Hans, jika benar ia dalang dari kekisruhan di keluarga kita. Aku sendiri yang akan membawanya ke jeruji besi. " Tegasnya menatap lurus ke depan.
" Ayo Kak! keluarga kita berhak bahagia. Aku mencintai Za dan aku tak mau kehilangannya, dan kakak, kakak masih mencintai Kak Syifa kan, kak kita berhak bahagia dengan pilihan kita, aku percaya jika semua terungkap Mama akan melunak dengan hubungan kita dan istri-istri kita. Kak tahukan jika Mama itu wanita baik bahkan dulu sangat baik pada siapapun. "
" Oh, yah, sebenarnya Papa juga pernah mengatakan hal yang sama seperti apa yang kakak katakan padaku. Seseorang mengawasi kita, " Sebelum keluar dari mobil dan memulai tingkah konyolnya Idris mengatakan itu juga.
Aku harus menemui Papa, sepertinya Papa juga tahu sesuatu.
__ADS_1
Benar juga apa yang di katakan Idris, mungkin ini memang sudah waktunya untuk semua terungkap, jika kemarin aku lemah karena harus menanggung semua sendiri, kini ada Idris kami berdua kami pasti bisa menyelesaikan semua masalah ini dan membuat hubungan kami membaik, meski takkan sama seperti dulu lagi, sebab Papa sudah memilih bahagia dengan keluarganya.
Next.....