
Keluar dari ruangan Dokter Ika, Idris dan Za tak sengaja berpapasan dengan Sam di depan ruangan.
" Idris? " ucap Sam. sembari mengernyitkan alisnya Tamala melihat Idris keluar dari ruangan dokter kandungan.
" Kamu nga .... " ucapanya tertahan ketika ia melihat Za juga keluar dari ruangan yang sama.
" Za! " kejut Sam.
Za tersenyum, " Dokter Sam, apa kabar, " Za menyapa Dokter Sam.
" Baik, Kamu? " Sam menatap pada ruangan dokter kandungan lalau menatap pada Idris dan Za secara bergantian.
" Ehem, kok, kalian ada di sini? " tanya ya pada mereka, sembari menahan senyum.
" Tadi, Za habis priksa kandungan, " jawab Za.
Alamat bakalan di cengin si Sam terus-terusan, nih.
" Kamu hamil? " Tanyanya lagi sembari senyum-senyum.
Za melirikku, seolah meminta izinku untuk memberi tahukan kehamilannya pada Sam. Aku tersenyum, mengiyakan maksudnya. " Ya, " setelahnya Za berkata.
" Selamat, yah. "
Sam mengulurkan tangannya hendak menyalimi Za. Sebelum Za menyambut uluran tangan Sam, aku segera mengulurkan tangan, sehingga Sam jadi menyalamiku.
" Terimakasih, " jawabku.
sedang Sam menatapku kesal. Za tersenyum melihat kami.
" Ngomong-ngomong, kalian udah pada makan? "
" Belum, " timpal Za.
" Kalau gitu makan bareng, yuk! " ajak Sam pada kami.
" Ayo! " jawab Za antusias.
Sam memang tipe orang yang mudah bergaul, sekali kita mengenalnya kita akan di buat nyaman dengan ocehannya, terlebih para wanita. Seperti saat ini.
Sam berbincang-bincang dengan Za, mereka asyik mengobrol sembari berjalan beriringan, melupakanku yang mereka tinggal di belakang.
Siapa yang suami, siapa yang teman.
Aku menghela nafas menatap Za yang terlihat nyaman bahkan terlihat sumringah berbincang-bincang dengan Sam.
Ku hampiri mereka menerobos di tengah-tengah mereka.
Sam melirikku sembari memanyunkan bibirnya.
Ku rangkul bahu Za dan berjalan mendahulu Sam.
" Cik, dasar posesif, " gerutuk Sam.
Biasanya wanita hamil akan mengalami penurunan nafsu makan. Namun, nampaknya tidak bagi Za, Za malah sebaliknya. Nafsu makannya semakin besar, seperti saat ini.
Sam melongo melihat makanan yang di pesan Za. Bahkan akupun masih tak habis fikir dengan nafsu makan Za akhir-akhir ini.
Belum genap satu bulan aja nafsu makannya udah kayak gini, gimana kalau sampai sembilan bulan, jadi kaya apa Za nanti.
Jahat gak, sih, suaminya ngebayangin istri nya kalau lagi gemuknya kek tahu bulat.
" Tiap hari maknnya kayak gini, " tanya Sam sembari berbisik.
Sedang Za sibuk menyantap makanannya.
" Baru beberapa hari ini, atau mungkin bisa sampai sembilan bulan ke depan, " jawabku juga sembari berbisik.
__ADS_1
Sam terkekeh, " Bisa montok istrimu. "
Ku tatap ia dengan tatapan elang.
Ia diam dan memakan makanannya sembari menahan senyum.
Asih, sahabat yang menyebalkan.
" Habis ini kalian mau pulang? "
" Nggak, hari ini jam praktekku lagi gak panjang, bentar lagi juga pulang. Za di sini dulu, biar nanti kiata bisa pulang bareng. "
" Waktu yang bagus, sih, Dris. "
Mengernyit alisku. " Waktu? maksud kamu? "
" Waktu yang bagus untuk kamu perkenalkan Za pada Mama kamu, " ucap Sam, yang membuat Za berhenti makan.
Za menatapku.
" Apa lagi saat ini Za tengah hamil, sedang mengandung calon cucu Tante Maryam. Tante Maryam gak akan tega, kan buat misahin kalian, pasti Tante Maryam mendukung hubungan kalian, " lagi Sam berucap.
Ada benarnya juga, sih, mudah-mudahan dengan kehamilan Za membuat Mama mau menerima Za sebagai menantunya.
Ku genggam tangan Za, menatapnya. " menurut kamu, gimana, Za? "
" Aku ikut, Mas, aja. " ia tersenyum.
menurutku seperti senyum yang di paksakan. Pasti ia merasa hawatir, hawatir tak di terima oleh Mama, hawatir jika kami akan di minta berpisah.
seperti yang Mama lakukan dulu pada pernikahan kak, Rayan dan kak, Syifa.
Jujur, itu yang sebenarnya ku khawatirkan. Aku tidak mau, aku harus bisa mempertahankan rumah tanggaku, aku tidak boleh menyerah seperti kak, Rayan.
Aku bukan pengecut seperti dia.
Ya, akan ku pastikan itu.
Ku kecup punggung tangannya yg ku genggam. Lantas beralih ke kepalanya yang terbalut hijab, memberi ia ketenangan seraya merengkuhnya dalam pelukan.
Lupa jika ada sosok jomblo di hadapan kami yang kini tengah mengerutu melihat kebersamaan ku dan Za.
" Kulkas berjalan bisa romantis-romantisan juga ternyata, mana di depan jomblo lagi. Menyebalkan! " gerutuk Sam.
Mendengar Sam menggerutu Za hendak melepaskan diri dari rangkulanku. Namun, segera ku rangkul kembali ia lebih erat. Sembari tersenyum puas.
Biar yang jomblo semakin ketar-ketir. Rangkul tiang sonoh, Sam.
" Cih! " ia terlihat semakin kesal.
Dalam perjalanan pulang aku kembali bertanya kesiapan Za untuk bertemu Mama.
" Kalau kamu gak siap sekarang, bisa kita lakukan nanti. "
" Kalau nunggu siap, yang ada Za gak akan pernah siap, Mas. Siap gak siapkan Za harus tetap hadapi. "
" Apapun yang akan Mama ucapkan nanti, jangan terlalu di ambil hati yah, ingat! ada kehidupan yang harus kita jaga, " ucapku sembari mengelus perut Za yang masih rata.
" Ya, Mas, " ucapnya sembari ikut menyentu tanganku, yang sedang mengelus perutnya.
Sebelum malam menjelang, kami tengah sampai di rumah Mama.
ku ajak Za masuk, tapi ia terdiam beberapa saat, mengamati sekitar rumah, dan menatapku.
" Ada mas, mas akan selallu bersama kamu. " ku genggam tangannya mengajak ia melangkah memasuki rumah.
Masuk ke dalam rumah kami di sambut oleh BI Tini, wanita paruh baya yang sudah lama mengabdi di keluarga kami.
__ADS_1
" Mas, Idris, Bibi fikir mas gak akan pulang lagi, " ucap wanita paruh baya itu sembari memelukku.
" loh, ini siapa toh mas? " BI Tini menatap pada Za.
Za mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Bi Tini.
" Pulang-pulang bawa perempuan cantik lagi, sopo Iki toh mas? " Sembari mengelus pipi Za.
" Kenalin Bi, ini Khanza istri saya. "
" Loh, kapan nikahnya, mas? "
" Lain kali saya ceritakan, yah, Bi. Mama ada Bi? "
" Ada, tapi di kamar terus, sekarang jarang keluar. "
Tentu ini karena aku, kata Bi Tini Mama menjadi pendiam jarang keluar apalagi beraktifitas seperti biasa.
Aku melangkah menuju kamar Mama setelah sebelumya brpamitan pada Za, dan menyuruh Bi Tini tuk menemani Za di ruang tamu.
Berdiri di depan pintu kamar Mama mengetuknya. " Mah, ini Idris, Idris boleh masuk? " Tanyaku pada wanita di dalam sana.
Mama membuka pintu dan menyuruhku masuk.
" Mama sehat? "
" Setelah keputusan yang kamu ambil, kamu fikir Mama akan baik-baik saja, " ucapnya.
" Maaf, Mah. " sesalku.
" Mah, Idris ke sini bersa Khanza istri Idris, Mama ketemu Khanza, yah mah, Mama pasti suka, dia anak yang baik mah, Idris yakin kalian pasti akur. "
" Mama tidak akan pernah bisa akur dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya. "
" Mah, mengenal keluarganya, kita temui Khanza, Mama ngobrol sama Za, kalau mau akan ku bawa Mama menemui keluarga Za. "
" Dia yatim piatu, kan, kedua orang tuanya sudah lama meninggal, ia hidup dengan Nenek nya yang juga belum lama ini meninggal. sedang keluarganya bibi-bibinya sedang dalam keterpurukan, karena sebentar lagi perusahaan mereka akan bangkrut. Lalau, mereka akan menjadi benalu untuk kamu Dris. "
Entah dari mana Mama tahu tentang Za sedetail itu.
" Tinggalkan dia, Mama akan Carikan kamu wanita baik-baik, tentu dari keluarga yang jelas baik pula. "
" Maaf, Mah, Idris gak bisa. "
" Apa itu artinya kamu lebih memilih untuk meninggalkan Mama. "
" Tidak, Idris tidak akan meninggalkan Mama, Idris akan berusaha meyakinkan Mama jika Za, layak untuk menjadi bagian dari keluarga kita. "
" Setelah tahu semua tentang Khanza Aditya, Mama tidak yakin bisa menerimanya. "
" Idris janji, suatu hari Mama pasti menerima Za. "
" Mama juga berjanji, akan membawa kamu pulang kembali ke rumah ini, dan Mama Pastika kalian akan berpisah! " ucapnya tanpa menoleh.
Rasanya percuma jika mempertemukan Mama dan Za saat ini, aku lebih memilih pergi tak mau berdebat lagi dengan Mama.
Di ambang pintu sebelum aku pergi, aku menoleh, dan berucap.
" Mah, Mama tahu, Mama akan segera punya cucu. " setelah mengatakan itu aku segera melangkah meninggalkan Mama.
Next...
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote. Terima kasih 🙏
Follow juga aku FB saya Mey Meyra. bisa baca beberapa cerita saya juga di sana.
Pengen banget Up cepet, tapi belum bisa. karena nulis di dua platform, dan kesibukan di kehidupan nyata yang gak bisa di tinggal😂
__ADS_1
Terima kasih banyak udah pada suka sama cerita saya🙏