
Saat semua orang tahu jika Khanza adik iparku kembali mengandung setelah kemarin ia keguguran, rumah di buat heboh oleh antusiasme Mama dan yang lain menyambut anak Khanza.
Apa lagi saat ini usia kehamilan Khanza sudah memasuki empat bulan, suasana rumah semakin heboh mempersiapkan acara empat bulanan Khanza.
Huh ... Terkadang aku merasa menjadi manusia terkesampingkan jika berada di rumah, jadilah akhir-akhir ini aku lebih sering menghabiskan waktu di luar.
Seperti saat ini setelah meting tadi aku berencana akan menghabiskan waktu di mall biasanya hingga larut. ku cari kafe yang tak terlallu ramai pengunjung, aku memilih duduk di dekat jendela yang mana di luar jendela itu terdapat sebuah taman kecil paduan antara moderenisasi dan alam yang menyatu, di sana terdapat anak-anak bermain dengan riang, tak terasa senyumku mereka saat menatap pada mereka.
" Capuccino dan penkek strawbery. Silahkan di nikmati tuan, " Ucap seorang pelayan yang menyajikan makanan ku, lantas ia beralih ke meja di belakangku.
" Capuccino dan Tiramitsu, silahkan di nikmati nyonya, " ku dengar sang pelayan itu berucap lagi.
" Maaf mbak pesanannnya ketukar, " ucapku dan seorang wanita di belakangku bersamaan. Aku dan seorang wanita tadi menoleh.
Syifa, ternyata wanita di belakangku adalah Syifa. Kami saling bertatapan.
" Oh, maaf. " ia tersenyum dan menghampiriku hendak menukar makanan kami.
" Biar saya saja Mbak, mbak kembali saja bekerja. " pelayan itu mengangguk dan kembali meminta maaf sebelum pergi.
Aku berdiri, seraya mengambil makananku dan ku letakan makananku di meja Syifa,
" Ini pesananmu mas, " Syifa menyodorkan kueh Tiramitsu pada ku.
Aku bergeming sembari menatap wajah ayu Syifa. " Mas! " Panggil Syifa.
" Aku pengen coba pankejk, boleh! "
" Dari dulu aku ingin sekali makan makanan kesukaan mu bersamamu, " ucapku menatap Syifa, begitupun dengan Syifa yang juga menatapku, lantas ia ambil kembali kue Tiramitsu nya.
Kami menyantap makanan kami tanpa suara, rasanya canggung sekali seperti seseorang yang baru kenal saja.
" Masih suka capuccino, " Tanyaku saat Syifa tengah menyeruput kopinya.
" Ehemm ... " ia tersedak, ku ambil sapau tangan dari sakuku dan ku sodorkan pada Syifa. " Terima kasih mas. " " sama-sama "
" Masih seperti dulu, masih tetap menyukai capuccino, " Ucapnya sembari tersenyum.
" Kalau begitu sama, aku juga masih menyukai capuccino, tapi sayang gak ada penkek strawberry yang enak. "
" Di sini penkeknya cukup enak kok. "
" Tapi menurut saya tidak ada orang yang bisa membuat penkek strawberry seenak buatanmu. "tuturku sembari menatapnya. wajah Syifa nampak memerah, ia pun terlihat salah tingkah.
" Hehe ,,, kamu bisa aja, Mas. Padahal aku ini bukan chef loh, " kami tertawa.
" Hehe ... kira-kira bisa gak yah, makan penkek yang enak kaya dulu. "
" Kalau menurut aku sih, restoran di samping kantor kamu itu penkeknya enak kok. "
" Aku udah pernah coba, tapi menurutku gak ada yang seenak buatan kamu. " Kami saling tatap cukup lama, seolah kami sedang bernostalgia mengenang masa indah bersama dulu.
" Ehem ... Ngomong-ngomong kamu sendirian aja di sini mas? " Syifa memecah keheningan di antara kami.
" Iya, tadi habis meeting trus pengen yah nongkrong dulu aja di sini. "
__ADS_1
" Oohh ... "
" Kamu sendiri? "
" Itu! " Syifa menunjuk anak-anak yang sedang main di taman mini yang berada di luar cafe ini.
" Itu anak-anak panti. "
" Huuh. "
" Astaga, kok aku sampe gak ngenalin mereka yah. "
" Dah sore mas, kami harus pulang. Mbak! " Syifa memanggil pramu saji untuk membayar makannnya.
" Anak-anak sudah makan? "
" udah siang tadi, " merogoh tas hendak membayar. Rayan mencegah Syifa membayar makannya.
" Boleh minta menunya Mbak? " Syifa menatapku. " kita makan dulu, inikan udah sore, " ucapku sembari menatapnya.
" Eee, mas. "
" Panggil anak-anak gih, kita makan bareng-bareng. " Syifa menurut dan pergi menghampiri anak-anak untuk mengajak mereka makan.
Anak-anak sangat antusias saat kami makan bersama.
" Yee ... makannya di restoran terus, sering-sering kek Bun makan di luar kaya ginih, " ucap salah seorang anak.
" Iya, kamu doain aja mudah-mudahan kita bisa sering makan enak di restoran. "
Senang sekali melihat interaksi Syifa dengan anak-anak asuhnya, ku lihat ia bisa tersenyum lepas.
" Kalian pulang naik apa? "Aku bertanya saat kami sudah berada di luar mall.
" Kami naik angkot. "
" Naik mobil ku aja yah! "
" Gak muatlah mas, kami ini banyakan loh. "
" Sebagian di mobil mas, sebagian mas pesenin taksi online. " Aku mulai mengutak Atik gejet memesan taksi onlain.
" Gak usah mas, kita naik angkot aja. "
" Gak bisa aku udah terlanjur pesen, Kalian tunggu di sini yah, mas mau ambil mobil dulu. " Syifa mengangguk nampaknya ia pasrah dengan saranku. Diam-diam aku tersenyum.
Dua buah taksi onlain aku pesan dan semuanya penuh dengan anak-anak.
" Semua kebagian tempat dudukan? "
" Sudah! " Jawab mereka serempag.
Terlihat Syifa yang sepertinya masih menghitung kursi dari taksi satu ke taksi yang satunya.
" Udah masuk semuakan Syifa? "
__ADS_1
" Hah, oh, iya udah semua kok mas. Nena bisa geser sedikit kan, biar bunda bisa masuk. "
Oh, nampaknya ia sedang mencari kursi yang kosong, aku melirik Nena dan menggelengkan kepala padanya, untung ia mengerti.
" Sempit Bun, bunda kalau gak muat naik mobil om Rayan aja! "
" Iya Bun di sini udah ngepas, " sahut yang lain. Syifa kembali ke taksi satunya, untung merekapun sama tak membiarkan Syifa masuk kedalam mobil. Dan akhirnya ia menurut masuk ke mobilku.
" Kamu tahu Syif, Mama udah kembali lagi sama papa. " Dalam mobil aku mencoba memulai obrolan.
" Kembali, maksud mu rujuk mas! "
" Iya, yah, walau papa tidak melepas istri keduanya, tapi ini semua udah atas kesepakatan mereka bertiga. "
" Berarti papa punya dua istri dong. "
" Ya begitulah. " Aku menoleh, begitupun Syifa ia tersenyum canggung.
" Mama sudah berubah Syif, ia tak seperti dulu, ia kembali menjadi Mama yang baik hati seperti saat-saat kamu pertama mengenalnya. eee ... Kapan-kapan kita ketemu Mama dan papa yah. "
" Buat apa mas, aku malu, akukan bukan siapa-siapa mereka lagi. " Syifa menatap lurus ke depan dengan wajah nampak sedikit kecewa.
" Ya kalau begitu kenapa kita gak jadi siapa-siapa aja dulu. "
" Jadi siapa? "
" Ya, kamu mau gak jadi istri ku lagi? " Aku menoleh pada Syifa begitupun Syifa, lantas ia tersenyum.
" Aku sudah tidak mau berharap lagi mas, aku sudah pasrahkan semuanya sama Gusti Allah, biar Gusti Allah aja yang tentuin gimana baiknya buat kita, aku gak mau maksain kehendak Allah mas, " tutur Syifa.
" Lantas aku harus gimana? "
Syifa tersenyum. " Aku hanya gak mau maksain keinginan kita sementara banyak orang yang tak menginginkan kita kembali, aku gak mau kejadian seperti dulu terulang lagi, aku juga gak mau menunggu lagi, apa lagi menunggu tanpa kepastian. "
" kali ini aku bisa pastikan tidak akan ada kejadian seperti itu lagi Syifa. "
" Sudah sampai mas, aku harus bantu anak-anak turun. " Syifa keluar dari mobilku dan segera menuju taksi onlain untuk membantu anak-anak turun dari mobil, begitupun juga denganku aku menuju mobil yang lain untuk membantu anak-anak.
" Sudah semuakan, sekarang kalian mandi siap-siap buat belajar mengaji. "
" Baik Bunda. "
Syifa menghadap ku. " Terima kasih yah, buat teraktiranya transportasi nya juga tumpangannya. " kami pun tertawa mendengarnya berucap.
" Iya, sama-sama. " Syifa pamit ia mulai melangkah menjauhi ku.
" Syifa! " ia menoleh saat kunpanggil kembali.
" Apa benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi? " Ia berbalik lantas berucap dari jarak yang tak terlalu jauh.
" Mas, jika kita memang masih di takdirkan untuk berjodoh maka aku yakin Allah pasti akan memudahkan kita untuk kembali bersatu, namun jika kita memang sudah di takdirkan tidak lagi berjodoh saya percaya Allah sedang mempersiapkan seseorang yang lebih baik dari saya untuk mu mas. saya masuk mas, selamat malam hati-hati di jalan, mas. Assalamualaikum .... "
" Waalaikkumsalam. " Syifa masuk ke panti asuhan begitupun denganku yang mulai menyalakan mobil.
Next ,,,,
__ADS_1
Menuju Ending nih😁