Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Pertemuan tak sengaja


__ADS_3

POV Salma


Sejak Nadia Putri kami tahu bahwa Idris, seseorang yang hendak ingin melamar nya adalah kakak tirinya, putra dari ayahnya. Ia memutuskan kembali melanjutkan kuliahnya di luar kota, sebenarnya ia ingin kuliah di luar negri, namun mas Salim melarangnya dan Nadia hanya mampu membujuk ayahnya hingga ke luar kota saja.


Kami tahu ia ingin pergi jauh karena ingin melupakan mantan kekasih nya yang sekaligus juga saudara tirinya. Pasti berat berada di posisi Nadia saat itu, tapi ia tak pernah memperlihatkan wajah sedihnya di depan kami, ia seolah wanita tangguh nan tegar bak Srikandi.


Tapi wanita tetaplah wanita, yang hobi mengeluarkan air mata, atau memang karena stok air mata kami yang tak terhingga.


Aku pernah melihat putriku menangis dalam solatnya, hingga usai solat ia tak mengucapkan apapun namun air matanya tak kunjung reda, bak air yang terjun tanpa henti, meluncur bebas hingga mengajak sungai.


Ibu mana yang tak ikut sedih jika melihat putrinya seperti itu.


Pernah ku hampiri ia mengajaknya berbicara, tapi Nadia selallu berucap. jika ia tidak apa-apa, ini sudah takdir yang maha kuasa dan jikapun ada luka luka itu akan sembuh seiring berjalannya waktu, Nadia harus terima ketetapan Tuhan. Begitu ucapnya saat ia ku tanyai, padahal telah ku siapkan bahu jikapun ia ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi Nadia sosok wanita kuat yang selallu menampakan keceriaan untuk orang-orang di sekitanya, walau ku tahu hatinya patah sepatah-patahnya.


Oh malaikatku Nadia, ia seperti mas Salim akan tetap menebar senyum walau masalah sedang ia hadapi, tak mau membebani kami atas masalah-masalah nya, ia pendam dan hanya menceritakannya pada Tuhan.


***


Hari itu Nadia sedang ada di rumah ia mengajakku mengitari mall katanya ingin refreshing dari penatnya belajar.


Kami hanya jalan, makan cemilan, sesekali tertawa bersama tak seperti ibu dan anak melainkan seperti kakak pada adiknya. saling melempar canda bergurau bersama.


Sampai tak sengaja mata ku melihat pada sosok wanita yang tak asing, terlihat kurus tapi masih terlihat cantik di usianya yang ku pastikan jauh lebih tua dariku, ia menggunakan kursi roda yang di dorong oleh seorang wanita muda nan manis, entah siapa wanita itu.


" Mama lihat siapa? " Nadia mengagetkanku.

__ADS_1


" Enggak, bukan siapa-siapa, " jawabku berbohong, pahal kau tahu, jika yang Mama lihat adalah ibu tirimu Nadia.


Yah, mbak Maryam, aku tahu itu karena pernah tak sengaja melihat foto mereka sekeluarga di dompet mas Salim, bahkan mungkin hingga hari inipun foto itu masih berada di tempatnya.


Mbak Maryam nampak lebih kurus dari yang di foto, walau wajah cantiknya tak berubah sedikitpun, apa ia juga terluka atas perceraiannya hingga kondisinya seperti itu bahkan kini ia harus berjalan menggunakan kursi roda dan apa mas Salim tahu tentang ini. Entah lah ....


***


Entah bagaimana awalnya Nadia tak sengaja menyenggol mbak Maryam sampai kami terlibat komunikasi seperti saat ini.


Kami berbincang-bincang di sebuah restoran di dalam mall. Nampak mantan istri suamiku itu sangat ramah kepada kami, ia juga memperkenalkan wanita cantik yang mendampinginya sebagai menantu.


Aku tahu mas Salim punya dua orang putra jika bukan Idris pasti dia istri dari kakaknya.


Ah, Nadia andai kau tahu jika wanita yang bersama kita ini adalah ibu dari mantan kekasihmu juga sekaligus mantan istri ayahmu.


***


Kenyataanya Mbak Maryam adalah wanita yang ramah nan baik, Nadia nyaman dengan nya bahkan saat pertemuan pertama ia sudah meminta nomor mbak Maryam.


Suatu hari aku diam-diam menyalin nomor Maryam dari handphone Nadia. Aku menghubungi mbak Maryam meminta bertemu hanya berdua saja. Kamipun sepakat bertemu di sebuah restoran dekat rumahnya, ia yang di antar seorang supir, lantas segera ku jemput untuk mendorong kursi rodanya.


Di sini kami duduk berdua di tempat yang lebih sepi sedikit menjauh dari tempat duduk yang lain.


" Tumben minta bertemu hanya berdua, ada apa? " Mbak Maryam bertanya.

__ADS_1


Telapak tanganku dingin sedingin es, sedang otak terus menerus menimbang untuk membicarakan hal ini pada mbak Maryam.


" Apa ada masalah? " kembali mbak Maryam bersuara.


Aku mengangkat kepala menatapnya sungguh. " Mbak, kembalilah dengan mas Salim! " beberapa hari kemarin aku sudah memantapkan niat untuk mengembalikan mas Salim pada kebahagiaan yang sesungguhnya.


menurutku hanya mbak Maryam lah kebahagiaan mas Salim yang sesungguhnya.


Mbak Maryam nampak terkejut, lantas ia kembali bersikap normal.


" Aku istri mas Salim, mantan suami Mbak, tapi kami menikah bukan karena cinta, kami menikah hanya karena sebuah kesalah fahaman. Dan mas Salim masih sangat mencintai mbak dan anak-anak mbak, " entahlah benar atau tidak dengan apa yang ku ucapkan ini, namun respon mbak Maryam sangat datar aku tak mampu menebaknya apa iya marah, kecewa, atau apa.


" Aku yakin kalian masih saling mencintai kan? " Mbak Maryam masih diam.


" Kamu di sini sayang? " Suara barington yang sangat familiar di telingaku tiba-tiba mengagetkan kami.


Lelaki itu mendekat lantas merangkul bahuku. " Sama sia .... " Suaranya terhenti kala ia melihat siapa wanita yang bersamaku.


" Maryam, " ucapnya dengan tatapan tajam pada sosok wanita di hadapanku dan dengan sepontan melepas tangannya dari merangkulku. sedalam itulah rasamu pada mbak Maryam hingga kau seolah menjaga hatinya dari rasa cemburu. Nampak jelas jika ada rindu di sana. Jujur hatiku tidak baik-baik saja melihat ini apa lagi melihat Mbak Maryam yang juga menatap suamiku seolah rindu pula.


Mereka mutuskan kontak mata dengan segera, mungkin sadar jika ada aku di sini, bahkan keduanya terlihat salah tingkah.


" Aku ada jadwal check up, jadi maaf gak bisa lama-lama, " Pamit mbak Maryam lalu menelfon supirnya agar menjemput ia.


Mbak Maryam di dorong oleh supirnya, ia tersenyum padaku juga mas Salim.

__ADS_1


Aku mendekatinya yang belum terlalu jauh dan sekali lagi mengatakan. " Pikirkan baik-baik Mbak, saya ihlas jika harus berpisah asal kalian bisa bahagia. " Mbak Maryam hanya diam lalu tersenyum sembari menyentuh tanganku lantas ia kembali pergi.


Next....


__ADS_2