
" Kenapa kita harus pergi, mah? " Nadia bertanya pada mamahnya.
Salma menghela nafas. " Mulai detik ini, kita harus bisa hidup tanpa ayah. "
" Tapi kenapa, mah? " Salma hanya diam dengan tatapan kosong.
Tok ... Tok ... Tok.
Nadia bangkit, berjalan menuju pintu, ia buka pintu itu, seorang pria yang baru saja ia perbincangkan dengan mamanya kini berada di hadapannya.
" Ayah! " Salim tersenyum pada Nadia. Nadia mencium tangan ayahnya.
Salma menatap pintu saat Nadia memanggil ayah pada seseorang pria di balik pintu, ia pun ikut menghampiri.
" Mas! "
Namun bukan hanya Salim yang berkunjung, tak lama kemudian sosok wanita dengan kursi roda menyembul di belakangnya, wanita itu tersenyum pada Salma juga Nadia.
" Tante Maryam! " Sapa Nadia seraya mencium tangan Maryam yang di sambut baik oleh Maryam, merekapun sedikit bertanya kabar.
" Eeee, Nadia boleh mamah minta tolong buatkan minum untuk kita? "
" Iya mah. " Setelah itu mereka duduk di ruang tengah, sementara Nadia pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
" Kenapa kalian datang kemari? bagai mana kalian bisa tahu tempat tinggal kami? "
" Salma! "
" Mas, keputusan saya sudah bulat, saya hanya ingin mas dan Mbak bahagia, Saya yakin kalian masih saling mencintaikan? " Mereka diam.
" Mas, Mbak saya mohon kembalilah, jika karena saya kalian sulit untuk kembali saya akan pergi dari kota ini dan bila perlu saya akan pergi dari negara ini, " Ku tatap mereka lekat.
Sedang dari balik tembok Nadia mendengar percakapan mereka, Nadia belum bisa mencerna dengan pasti maksud perbincangan mereka.
Nadia keluar membawa minuman dan menyuguhkannya, lantas segera ke belakang agar mereka lebih leluasa berbincang.
" Mas, Mbak, jangan bohongi perasaan kalian, aku ihlas mas, Mbak, aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan mas Salim yang karena mas Salim aku menjadi wanita seperti ini, entah bagai mana bila aku tak bertemu mas Salim sudah pasti aku akan menjadi wanita kotor selamanya. "
" Tapi ... Nadia? " Mas Salim menatapku, dan Mbak Salma entah mengapa ia tetap diam sedari tadi.
" Mas masih bisa menemui Nadia kapanpun mas mau, saya tidak akan melarangnya, Nadia anak mas darah daging mas. " Mas Salim menatap mbak Maryam seolah meminta persetujuan mbak Maryam. Tapi mengapa mbak Maryam hanya diam sembari memperhatikan kami berbincang.
__ADS_1
Dari balik tembok Nadia meneteskan air mata ia faham jika Mama dan ayahnya akan berpisah, sedang wanita yang baru-baru ini ia temui mungkin adalah masa lalu ayahnya.
Ia diam air matanya tak terbendung, Nadia terisak sembari menutupi mulutnya agar tak terdengar suara Isak nya.
Beberapa detik kemudian ia teringat wanita muda bersama Bi Maryam, ia, ia yang pernah bersama Idris Kakak juga mantan kekasihnya, dan Idris memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya, kenapa wanita itu tidak mengatakan jika ia istrinya Idris, dan kenapa ia lupa pernah berpapasan dengan Za, jika tak salah kanza namanya.
Nadia semakin meneteskan air mata.
" Maukah kau menjadi adikku Salma? " Maryam membuka suara.
Nadia berhenti menangis sejenak setelah mendengar ucapan Bi Maryam, menatap Bi Maryam dengan tatapan bingung, begitupun mas Salim juga Salma.
Salma menatap Salim yang menatap Maryam lekat.
" Apa maksud Mbak? "
Maryam menghela nafas sebelum ia kembali berucap. " Maukah kau menjadi adik maduku? "
" Mbak, ini gak akan mudah, aku ihlas jika kalian ingin kembali bersama. "
" Begitupun hidup sendiri, tidaklah mudah Salma, kita butuh seseorang pendamping yang bisa menjaga kita, menasihati anak-anak kita mengayomi mendidik dan seseorang yang bisa di ajak diskusi. Aku ... ikhlas jika harus menjadi kakak madumu Salma! "ucap Maryam tegas.
Salma berkaca-kaca.
Maryam mengangguk pasti. " Yakin, mas. "
lalu menatap Salma. " Aku tidak tahu mbak harus bagaimana. "
" Nadia, Idris juga Rayan, walau mereka sudah besar tetap mereka membutuhkan sosok ayah. "
" Biar ku pikirkan lagi ini, " ucap Salma.
" Mbak tidak akan kembali jika kamu pergi, mbak hanya akan kembali jika kamu tetap bersama kami, saya yakin mas Salim bisa adil, " Maryam menggenggam tangan Salma sembari menatap Salim di sampingnya.
" Jujur saya tidak tahu bisa adil atau tidak tapi jika kalian merasa ini yang terbaik mas akan berusaha adil untuk kalian. "
" Lalu bagaimana dengan anak-anak, apa mereka akan setuju dengan ini? " salam berucap.
" Segera Kita akan bicarakan ini dengan mereka. "
" Asal kalian merasa bahagia Nadia setuju, Nadia tidak mau kehilangan ayah Mama juga bi Maryam, Nadia sayang kalian, " Nadia keluar dari balik tembok menghampiri mereka sembari berurai air mata mengucapkannya.
__ADS_1
Salma beranjak dari duduknya dan segera memeluk putrinya begitupun dengan Salim.
Maryam menatap mereka dengan senyum, lalu Nadia menghampiri Maryam dan memeluknya.
" Nadia sayang Bi Maryam, " ucapnya sembari terisak.
" Bibi juga sayang Nadia. " Maryam pun ikut terisak.
***
Hari itu Maryam dan Salim kembali menjadi sepasang suami istri, setelah beberapa hari lalu mereka mengutarakan keputusan mereka kepada Idris dan Rayan, walau ada sedikit pertentangan namun ahirnya mereka mengalah demi sang mama dan memaafkan papanya walau memang sang papa tidak bersalah.
Kini mereka menjadi satu keluarga.
" Mama harap ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua, menjadi keluarga seutuhnya, dan Mama harap kita bisa saling menerima, " Maryam berucap pada anak-anak nya ketika mereka berkumpul setelah acara akad. "
Tak ada acara spesial, hanya ada akad dan syukuran kecil-kecilan.
" Idris ikut senang jika memang ini yang terbaik menurut Mama, papa juga Tante Salma, " Ucap Idris.
" Kok, masih manggil Tante, " Maryam menyela.
" Oh, ya, Mamah, " Idris tersenyum menatap Salma lalu sekilas melirik Nadia dan ikut tersenyum walau sedikit canggung. Khanza melihat suaminya dan Nadia saling canggung, ada gejolak yang tak biasa mengusik hati Khanza. Idris menatap sang istri dan tersenyum.
" Bagaimana dengan kamu Rayan? "
" Aku iku poling terbanyak, " dengan wajah cuek hasnya ia berucap.
" Jadi, ingat kita semua ini keluarga, " ucap Maryam kembali menegaskan.
" Trus kamu kak, kapan mau rujuk sama kak Syifa? " Idris bertanya pada kakaknya.
Rayan menggeleng seraya mengedikkan bahu. " gak tahu. " tatapannya kosong.
" Belajar sama papa kak, papa aja bisa naklukin dua perempuan masa kakak yang satu perempuan aja gak dapet-dapet sih, malu dong sama umur, " mereka semua tertawa dengan ucapan Idris.
" Papakan curang, " kesal Rayan.
" Curang apa ... ini tuh keberuntungan, " ucap Salim yang di sambut gelak tawa semuanya.
' Papa tidak menyangka bisa bersenda gurau dengan kalian anak-anak papa' batin Salim.
__ADS_1
Acara selesai Salma dan Nadia pun telah kembali kerumah mereka, begitupun orang-orang rumah telah memasuki ruang peristirahatan mereka masing-masing.
Masih Next ya😁