
POV Syifa.
" Mamah! Khanza! Tumben pagi-pagi sudah ke panti, apa ada sesuatu? atau apa ada barang yang rusak kena anak panti kemarin, aduh maaf yah, Mah, " Ucapku lantas aku mendudukkan diri di dekat Mama Maryam.
Mamah Maryam menyentuh tangan ku. " Gak ada kok, kita ke sini pengen main aja. Ya kan Za? "
" Ya, kak Syifa, kemarin anak-anak baik kok, gak ada yang nakal. " di sertai senyum.
Aku takut ada terjadi sesuatu kemarin, pasalnya kemarin aku tidak begitu memperhatikan mereka karena terlalu asyik mengobrol dengan mas Rayan.
" Bentar Syifa ambil minum dulu, " aku beranjak dari hadapan mereka menuju dapur.
" Kenapa kak? " Tanya Khanza yang mengetahu jika aku tengah memperhatikan mereka saat kami meminum teh yang ku buat.
" hehe, nggak. " ku letakan kembali gelas berisi teh hangat ke atas meja begitupun Mama dan Khanza.
Mama melirik Khanza sembari tersenyum, dan di sambut anggukan oleh Khanza.
Seperti ada sesuatu yang mereka rencanakan.
" Ehem, begini Syifa. " Mama memulai pembicaraan, aku penasaran sekaligus deg-degan.
" Sebenarnya kedatangan kami ke mari ingin ... melamar kamu untuk Rayan. "
Entah apa yang ku dengar tadi benar atau salah. Aku diam tak berani menjawab apa-apa.
" Syifa, bagai mana? kamu maukan menikah dengan Rayan? " Mama menyentuh tanganku, ku tatap Mama.
__ADS_1
" Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintai Rayan, atau ... ada seseorang yang sudah meminangmu? " Aku menggeleng.
" Apa mas Rayan yang meminta Mama datang ke sini? " Mama menggeleng.
" Lalu .... " belum selesai aku bicara Mama memotong perkataan ku.
" Selama ini Mama tidak pernah melihat Rayan sebahagia saat bersamamu, Mama lihat saat denganmu Rayan menjadi sosok yang berbeda sosok ceria dan hangat, Mama ingin Rayan yang seperti itu, Mama ingin kalian bahagia dan Mama yakin kalian pasti masih saling sayang kan. " Mama Maryam menatapku sembari menggenggam tangan ini.
" Maukah kamu kembali menjadi menantu Mama, Syifa? " Lanjutnya.
Terkejut aku mendengarnya, tak menyangka jika Mama Maryam akan kemari untuk melamar ku, tapi .... " Apa mas Rayan yang menyuruh Mama kemari? "
jika benar mas Rayan yang meminta Mama untuk melamar ku, lantas kenapa bulan lalu ia menceraikan ku secara resmi.
Flashback.
Saat itu kami mas Rayan mengajakku bertemu di suatu restoran mewah. Jujur waktu itu ku pikir ia hendak mempertahankan pernikahan kami. Namun, apa yang ada di benakku ternyata tak sesuai kenyataan, mas Rayan justru benar-benar mengurus perceraian kami.
" menikahlah kembali Syifa, agar ada yang menjagamu, pasti ada laki-laki yang bisa bahagiain kamu bukan seperti aku yang hanya bisa membuatmu sedih. " Mas Rayan menunduk. Aku terdiam cukup lama, tidakkah dia paham jika diamku pertanda tak setuju dengan keputusan ini.
" Syifa! " Aku menatapnya saat ia memanggilku.
" Sejujurnya aku ... " Entah apa yang ingin ia katakan kala itu, perkataanya terputus sebab seorang peramu saji menyajikan makanan untuk kami.
Dulu saat aku masih menjadi sekretarisnya juga saat masih menjadi istrinya kami sering sekali makan di restoran ini, restoran mewah dengan menu yang menggiurkan tentu saja dengan harga-harga yang fantastis, tapi mas Rayan sering mengajakku ke sini ia bilang membawanya makan ke sini itu tidak ada apa-apa untuk meragukan seorang wanita sepesial seperti ku, jika bisa ia ingin sering-sering mengajakku ke syurga bila sebab menuju syurga bukan sebuah kematian, lantas kami terbahak.
Aku sangat menyukai setik di restoran ini, daging yang mereka olah sangat lembut sebab mereka menggunakan daging premium.
__ADS_1
Namun, rasa setik yang biasa terasa nikmat malam itu menjadi hambar seolah tak memiliki rasa apapun.
Setelahnya kami pulang aku tak banyak bicara hanya menjawab jika mas Rayan bertanya, bahkan kami terasa canggung.
Tak ada yang tahu prihal perceraian kami yang sudah resmi. Tapi entah kenapa setelah kami bercerai mas Rayan lebih sering mengunjungi panti dengan alasan ingin menemui anak panti, hampir setiap Minggu ia kemari, bahkan terkadang bisa seminggu sampai dua kali.
\*\*\*\*
Dan sekarang orang tuanya melamarku, apa yang sebenarnya kamu rencanakan mas?
Mama menatap Khanza mereka beradu kontak mata, lalu keduanya tersenyum.
" Tidak, Mama sengaja tidak memberi tahu Rayan karena Mama ingin memberi kejutan untuk dia, " terang Mama.
Apa mas Rayan juga tidak memberi tahu siapa-Siapa prihal perceraian kami. Apa gunanya juga memberi tahu orang-orang sebab yang mereka tahu kami sudah lama berpisah.
" Bagai mana Syifa? "
" Memangnya mas Rayan tidak punya calon mah, Syifa takut justru mas Rayan sudah punya pilihan. "
" Mama yakin seribu persen tidak, sebab yang masih di hatinya itu KAMU. "
Benarkah yang Mama ucapkan lantas kenapa ia menceraikan ku.
Setelah sekitar dua jam kami mengobrol Mama dan Khanza pamit untuk kembali ke kediaman mereka.
Entah keputusan apa yang aku pilih ini, keputusan yang benar atau keputusan yang akan kembali menghancurkan ku, aku memilih ikut memberi kejutan untuk mas Rayan.
__ADS_1
Next......