Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Masa lalu 3


__ADS_3

CINTA


POV Rayan


" Kecuali kalau kamu mau jadi istri saya. "


Bola matanya membulat sempurna nampak ia terkejut mendengar ucapanku.


" Hahaha, aku bercanda, " Ucapku sembari terbahak.


Namun, ekspresi wajah nya tak menampakkan kelegaan, tapi malah terlihat ... Entah.


" Ya ... aku tak kan pantas bersanding dengan tuan, Terima kasih karena sudah baik pada saya, setelah ini saya akan pergi dari tuan, " ia berkata dengan nada yang lemah.


Kecewakan dia, atau merasa terhina dengan ucapanku. kenapa dengan diriku kenapa aku harus memikirkan perasaannya pula.


Ia berdiri. " Terima kasih juga atas sarapannya, suatu hari jika kita bertemu lagi aku akan bayar semuanya, saya permisi Tuan. " wanita itu berjalan meninggalkanku.


Ku tatap punggungnya yang mulai menjauh. Ada rasa yang tak bisa ku tafsirkan, melihat ia pergi dengn berpamitan seperti tadi.


" Aku boleh masuk, " Ku ketuk pintu kamar wanita itu, meminta izin untuk masuk ke dalam.


" Ya, masuklah. "


Nampak ia tengah membereskan beberapa baju yang ku beli kemarin, ia masukkan baju-baju itu ke paper bag.


" Kamu mau kemana? "


" Entah, tapi yang pasti aku tak kan merepotkan tuan lagi. Mungkin aku akan cari kerja. "


Sedikit ragu aku berkata.


" Aku punya penawaran, itu pun kalau kamu mau. "


" Apa? " Ia menghentikan kegiatan merapihkan pakaiannya. lalau menatapku.


" Kau, bisa baca, " tanyaku dengn hati-hati.


" Bisalah, Tuan! " ucapnya dengan penekanan.


" kalau ngetik. "


" Bisa, sebelum ibu meninggal, saya pernah kursus komputer. " Matanya menerawang entah kemana.


" Kalau gitu. Mau, jadi asisten saya? " Ia menole menatapku.


Wanita itu nampak cemberut. " Tuan bilang tak butuh asisten, " ucapnya.


" Kalau asisten rumah tangga, emang gak butuh, tapi, kalau asisten pribadi ... kayaknya aku butuh, " ku berikan senyuman sembari mengatakannya.


" Maaf tuan, meski tuan menemukan saya di tempat laknat itu, tapi saya bukan wanita seperti itu. "


" Maksud kamu? "


Ia menatapku. " Tuan ingin menjadikan saya ... wanita tuan, " ia berucap dengan tampang kesal.


Aku terbahak. " Haha,,, ternyata tempat laknat itu masih bersarang di fikiranmu. kau tidak percaya jika aku ini seorang pengusaha, punya perusahaan dan .... " ia memotong ucapanku.

__ADS_1


" Justru karena tuan seorang pengusaha. "


" Ok, ok, terserah kamu, tapi ini tawaran terakhir, kalau kamu tidak mau, ya, sudah. Dan berdoa saja agar nasibmu lebih baik dari kemarin. Tapi kalau kamu mau terima tawaran saya hari ini juga kita pergi ke Jakarta, " Ucapku lalau bangkit hendak meninggalkannya.


Nampak wanita yang belum ku tahu namanya itu sedang berfikir.


" Tapi, tuan tidak akan macam-macam, kan! "


" Terserah kamu mau berfikir apa. "


ku ayunkan kaki keluar dari kamar menuju tempat resepsionis untuk chak out.


Selesai dengan itu segera melangkah menuju parkiran mengambil mobil.


Dan ternyata wanita itu sedari tadi mengikutiku.


" Kok, ngikutin saya, " kutanyakan itu padanya.


" Tuan bilang akan memberi saya pekerjaan. "


" kalau saya macam-macam gimana. " sembari ku naik turunkan alis di hadapannya.


" Kalau tuan hendak macam-macam dengan saya, seharusnya tuan sudah lakukan itu sejak kemarin, tapi tuan tidak melakukan apa-apa, " jawabnya seraya menunduk.


" Nah, itu tau. Ayo masuk! Tapi ... saya gak jamin, yah kalau besok-besok, " ucapku lagi menggodanya.


Lalu ia melototiku, aku terbahak.


" Gak, lucu tuan, " ucapnya lalu masuk ke dalam mobil seperti seorang kekasih yang sedang merajuk.


Dihh apaan coba.


Sekitar hampir tiga jam kami berkendara, hingga samapi di sebuah apartemen ku minta wanita di sampingku tuk turun.


" Ini apartemen saya, kamu bisa tinggal di sini dulu. "


Ku buka pintu apartemen menunjukannya pada wanita yang belum ku tahu namanya.


" Ayo, masuk! " ajaku pada nya.


Ia bergeming di depan pintu, ku Hela nafas kasar. " Aku gak akan macam-macam, " ucapku yang membuat nya menatap.


" Jika boleh, saya ingin tinggal di kontrakan saja, Tuan. gini deh, biaya sewa pertamanya dari Tuan, nanti Tuan bisa potong dari gajih saya, " ucapnya kemudian.


" Belum juga kerja udah berani ngutang! " ku ucapkan itu dengan penekanan.


Ia malah cengengesan. " Ia sih, tapi bukan gitu juga Tuan. kalau di sini pasti mau makan aja butuh biaya mahal, kalau di kontrakan kan, bisa cari-cari yang murah. "


Entahlah, seorang Rayan Al Kaf pada akhirnya mengalah dengan wanita ini. kini kami berkeliling mencari kontrakan.


setelah berkeliling hampir tiga jam, dan akhirnya bertemu juga dengan tempat yang ia inginkan.


Sebuah bangunan sederhan hanya terdapat satu buah kamar tidur sebuah dapur dan kamar mandi di dalam nya.


Pemiliknya juga bilang orang-orang di lingkungan sini ramah-ramah.


Alah, promosi dia.

__ADS_1


" Ini. " ku serahkan kartu namaku padanya, terdapat alamat kantor juga di dalam.


" Besok kamu pergi ke alamat yang ada di kartu nama ini, langsung ke resepsionis bilang kalau kamu mau ketemu saya. "


Ia menerima kartu namaku dengan tersenyum.


" Jam berapa saya harus datang?" tanyanya.


" Datang saja jam 9. "


" Baik tuan, " katanya lagi, lalau mengulurkan tangan.


Ku tatap tanganya yang terulur. " Apa!!!? mau minta uang? " Tanyaku sedikit membentak.


Ia memanyunkan bibirnya. " Ish. Syifa. Namaku Syifa. " Ia memperkenalkan diri.


ku raih uluran tangannya. " Rayan, Rayan Al Kaf, " ucapku.


" Udah tau kan dah lihat di sini, " ucapnya sembari menggerak-gerakkan kartu nama yang ku berikan padanya.


Dihhh, menyebalkan. untung cantik.


Wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Syifa itu mulai bekerja di di prusahaanku sebagai asistenku.


Ia sangat telaten meski bukan lulusan perguruan tinggi. Namun ia dapat mudah beradaptasi dengan perusahaan.


Menempatkan dirinya sebagai asisten pribadiku. Tak jarang ku lihat ia tak malu bertanya pada siapapun prihal hal-hal yang belum ia pahami.


Tentang perusahaan atau tentang menggunakan beberapa alat yang belum ia bisa.


Ia sangat ramah pada siapapun, dan siapapun akan merasa nyaman di dekatnya termasuk ... Aku.


Dalam beberapa bulan bekerja ia mulai ku ajak berdiskusi, juga ku mintai ia presentasi. awalnya ia gugup.


Tapi, lama-lama ia suka berbicara di depan umum. bahkan klayen-klaye ku merasa senang dengan presentasi nya, mereka pun sangat mengagumi sikapnya yang ramah.


Meski banyak juga yang mengagumi parasnya yang menawan.


Ah, terkadang aku geram melihat mereka memuji kecantikan Syifa.


Menyebalkan, perasaan apa ini? ada apa sebenarnya dengan diriku.


Ada satu hal lain yang membuatku tidak habis fikir mengenai wanita ini ... KETAATAN nya.


Setiap kali memasuki waktu sholat ia akan meminta izin untuk menunaikannya.


Pernah ku menolak permintaanya, karena jadwal meeting yang padat. Tapi ia malah merengek bak anak kecil.


Akupun tak tega dan akhirnya mengizinkan.


Syifa, wanita itu yang mengalihkan perhatianku dari dunia malam, juga dari masalah keluargaku.


Aku tak pernah merasa tak bahagia di sisinya, ia wanita ceria dan banyak bicara jika bersamaku.


Kami sering menghabiskan waktu bersama, pergi bersama, hingga timbul rasa nyaman berbalut sayang yang kata orang-orang bernama ... CINTA.


bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, dan Vote. Terima kasih.🙏


__ADS_2