Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
kakaknya


__ADS_3

Sam datang sembari berlari ia berusaha merelai perkelahian antara kakak beradik itu.


" Idris, kak Rayan, cukup! " dokter Sam berusaha menarik Kak Rayan, tapi Idris malah menghampiri dan kembali memukuli sang kakak.


Dokter Sam kewalahan karena lorong yang tak begitu ramai, hanya beberapa orang yang menyaksikan perkelahian mereka, dan ia menyuruh seseorang untuk memanggil keamanan.


Sebelum keamanan datang, seorang wanita terbelalak melihat perkelahian di depan matanya, terlebih setelah ia melihat sosoak yang sedang berkelahi adalah suaminya.


Rayan bangkit, ia hendak memberikan pukulan pada adiknya. Namun, tertahan kala seorang wanita menghampiri Idris seraya memohon.


" Jangan pukul suami saya! " ucapnya sembari mengatupkan tangan dengan mata tertutup.


Idris terkejut melihat Za sudah berada di antara mereka. " Za! "


Begitupun Rayan, kepalan tangan yang siap di hujamkan pada adiknya mengambang kala melihat seorang wanita berada diantara mereka.


Terlebih wanita itu berkata untuk tidak memukul suaminya. Rayan tersenyum kecut, ia kembali hendak memukul Idris.


Dan urung kembali kala wanita itu mengangkat wajahnya. Rayan terkejut, wanita yang mengatakan jika Idris adalah suaminya, ia adalah wanita yang barusan di temuinya di jalan tadi.


Sejenak Rayan terpaku, sampai beberapa detik kemudian ia pergi tanpa sepatah katapun.


Sam melirik pada Idris, dilihatnya Za membantu Idris berdiri, dan sedetik kemudian ia berlari mengejar Rayan.


" kak Rayan, tunggu! " Dengan nafas terengah ia berusaha menyamakan langkahnya dengan Rayan.


Rayan menghiraukannya ia terus berjalan. " Biar aku obati lukanya, kak. " tawar Sam setelah berada di sampingnya.


" Gak perlu, saya bisa sendiri. "


" Tapi, itu .... "


" Cukup! saya ingin sendiri, " ucapnya dan kembali mengambil langkah panjang menuju parkiran.


Rayan memasuki mobil ia tutup pintu mobil dengan kasar, sebelum menjalankan mesinnya ia termenung fikiranya kembali mengingat pertemuannya dengan wanita yang mengakui Idris sebagai suaminya.


Za mengompres luka Idris di ruangan nya. " A-au, perih! " rintih Idris.


" Kalau tau perih kenapa berkelahi? " gumam ku.


" Buat lelaki berkelahi itu sudah biasa, kan? " ucap Idris


" Biasa dan kebiasaan yang harus di hindari, " tegasku sembari menekan luka Idris dengan kain basah.


" A-au, pelan-pelan, Za. " Za menatap Idris dengan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong, laki-laki yang bertengkar dengan mas, dia siapa? "


" Dia orang yang sangat menyebalkan. "


Aku mengingat-ingat wajah pria tadi rasanya aku pernah melihat dia, wajahnya sangat tak asing.


Dan sadar jika laki-laki tadi adalah orang yang tadi sempat bertemu dengan ku. Tapi, kenapa? ada urusan apa ia dengan mas Idris sampai-sampai mereka berkelahi.


" Ada masalah apa kamu sama dia? "


" Sudahlah, Za, dia orang yang gak penting. "


" Gak penting, tapi kalian sampai berkelahi, pasti ada hal serius atau masalah serius sehingga kalian berkelahi, ya, kan. "


Idris mengangkat tangannya menyentuh wajah Za, " Tak usah kau pikirkan, yah, biar ini jadi urusan mas, saja. Bisakan. "


Aku terdiam merasa jika suamiku menyimpan banyak rahasia, entah karena aku yang sedang mengandung jadi lebih sensitif atau lain hal. Tapi aku yang memang biasanya tak terlalu peduli dengan urusan orang, kali ini merasa sangat ingin tahu.


Aku bangkit dari kursi melangkah keluar dari ruangan mas Idris. " Eh, mau kemana? " Mas Idris terkejut, refleks iapun ikut bangkit.


Berjalan hingga ke ambang pintu lalu ku katakan. " Bertemu Dokter Sam, mau tanya sama dia aja. "


Mas Idris mengejarku, ia sejajari langkahku dan menggenggam tanganku. " Gak, usah dia suka bohong. " ucapnya memberi alasan.


Ku tatap pria di depanku. " Tapi, kali ini aku merasa dia tidak akan berbohong. " Ku lepas paksa tangan mas Idris, dan kembali melangkah mencari dokter Sam.


" Bener, Mas akan jujur. "


" Ya. " ia mengangguk.


Kamipun kembali ke ruangan mas Idris. Ia bercerita jika seseorang yang tadi berkelahi dengannya adalah kakaknya.


Dan mereka berkelahi karena kakanya marah sebab Idris jarang mengunjungi Mama mereka.


Namun, tetap aku rasa masih ada hal yang ia sembunyikan, ada hal yang belum ia ceritakan semuanya.


Juga ada rasa bersalah setelah mengetahui alasan mereka berkelahi, karena alasan mas Idris jarang mengunjungi Mama nya pasti karena aku.


" Maaf, Mas, " gumamku.


Alisnya terangkat, " Maaf, kenapa? "


" Pasti alasan mas Idris jarang mengunjungi Mama mas Idris karena aku, kan. "


Ia tersenyum. " Jangan merasa bersalah, ingat, kamu juga tanggung jawab, Mas. "

__ADS_1


" Tapi, Za seolah menjadikan mas anak durhaka. " ucapku sembari tertunduk.


Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya memelukku.


" Jangan berfikir seperti itu, yah. "


" Susah, Mas, terfikir sendiri. " Sembari membalas pelukan mas Idris. Yang di balas elusan di kepalaku.


" Mas. "


" Hem. "


Aku melepas kan diri dari pelukan mas Idris. Ku tatap ia penuh harap.


" Apa? " Tanyanya.


" Temui Mama, yah, aku mohon! " sembari ku katupkan kedua tangan di depan dada.


" Yah, nanti mas temui Mama. "


" Hari ini, jangan nanti-nanti. "


" Iya, iya, istri kecilku. " jemarinya menyentil hidungku.


" Ish, sakit, Mas. " ku usap hidung yang ia sentil. dan ia terkekeh. Aku pura-pura merajuk dengan membelakanginya. sedang ia malah memelukku dari belakang, membenamkan kepalanya di bahuku.


Kalau perlakuannya kaya gini lanjut merajuk gak, yah? aku tersenyum dengan perlakuannya.


" Cie, senyum. " godanya.


Aku salah tingakha dan kembali berpura-pura merajuk, namun gagal karena bibirku tak kunjung berhenti tersenyum.


Senyum yang gak bisa di ajak kompromi.


" Dris, lu gak pa .... " Dokter Sam masuk, ia tercengan sampai tak mampu menyelesaikan ucapannya, kala melihat kami.


" Apa? " Tanya mas Idris sembari melototi dokter Sam, sedang kami masih dalam posisi berpelukan.


" Kenapasih harus jomblo yang liat kek, gini! " gerutuknya.


" Siapa suru jomblo, muka doang ganteng setatus lajang, Situ manusia atau patung Pancoran. "


Tanpa berkata lagi dokter Sam keluar dari ruangan dengan membanting pintu. Aku dan mas Idris saling tatap sebelum akhirnya kami saling terbahak.


Next......

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏


__ADS_2