
" Kenapa baru sekarang? " Dalam hening tiba-tiba Syifa bersuara, membuat Rayan seketika menolehkan muka dan memelankan laju mobilnya.
" Aku sudah menunggumu lama sekali, berhari-hari berbulan-bulan hingga menaun, bahkan saat kau berjanji akan menemui ku. " Syifa menoleh menatap Rayan yang tengah menatapnya, lalu berkata. " Bodohnya aku percaya itu, hingga menunggumu bak anak kecil yang menanti kepulangan ayahnya yang berjanji akan pulang cepat." Ia menekan suara sedikit gemetar mengucapkannya.
" Ma-a .... " Belum sempat Rayan menyelesaikan katanya, Syifa kembali bersuara. Rayan menghentikan mobilnya.
" Percaya, yah, tentu aku sangat percaya mengingat kau laki-laki yang paling ku percayai. Tapi di dalam penantian itu sedikit demi sedikit kepercayaanku memudar, kau ... sudah menghancurkan harapanku, hidupku, lebih dari mereka yang pernah lebih dulu menghancurkan ku. " tak terasa air mata Syifa menetes begitu saja, ia sapu air matanya dengan kasar sembari menoleh ke sisi berlawanan.
" Syifa kau tahukan alasanku tak menemui mu waktu itu? "
" Apapun alasannya jika memang kau mencintaiku seharusnya kau punya ribuan cara untuk menemuiku, kau bukan laki-laki sembarangan, kau seseorang yang memiliki pengaruh besar, kenapa harus mengalah dengan lawan yang tak setimpal dengan mu. "
" Syifa aku takut Om Hans .... "
" Dia tidak memiliki pengaruh besar seperti mu, seharusnya kau mudah menjinakkannya Jika kau yakin dalang ini semua adalah dia. "
Ya, aku baru tahu alasannya yang tak kunjung datang tuk menemuiku baru-baru ini dari orang kepercayaannya yang menjelaskan prihal kecurigaan Rayan pada Om Hans.
" Tapi, dia punya orang-orang licik itu, para mafia itu. " Ucap Rayan sembari menghentikan laju mobilnya.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja di perusahaannya tentu aku tahu hal kotor semacam ini.
" Itu alasan aku menyuruhmu melawannya, agar perusahaan mu tidak lagi bergantung pada para mafia itu. " Rayan terdiam, memang benar segala proyek yang di garap omnya itu selalu berjalan mulus, sebab ada para mafia di sampingnya.
" Lalu apa yang harus aku lakukan? "
Syifa menatap Rayan malas, sebab jelas maksud Syifa ia ingin Rayan terbebas dari Om nya agar mereka bisa bersama ... Lagi. " Nyalakan mobilnya, aku harus masak, sebentar lagi waktu nya anak-anak untuk makan. "
Syifa nggan lagi membahas mereka, jika Rayan tak mengerti maksudnya.
Rayan menuruti Syifa, ia nyalakan kembali mobilnnya.
__ADS_1
' Lawan dan lepaskan orang-orang keji itu, aku bisa membantu perusahaanmu agar tetap berjaya tanpa ada mereka. Kenapa kau tak percaya itu Rayan, ' dalam hati Syifa berkata. Ia sandarkan punggung dan kepalanya ke kursi dengan pandangan menatap jalanan.
' Maaf Syifa, waktu itu aku takut miskin, sebab Mama sakit dan butuh biaya yang tidak murah, hingga aku lupa bahwa hidupku bergantung pada seorang mafia, ' batin Rayan. Ia melirik Syifa yang sedang bersandar.
" Terima kasih atas tumpangannya, aku masuk dulu. "
" Sama-sama Syifa. " Syifa beranjak dari hadapan Rayan, setelah semua belanjaan di bawa kedalam panti oleh seseorang.
" Syifa .... " Belum jauh Syifa melangkah Rayan memanggilnya.
Syifa menoleh, " Ada apa? "
Rayan mendekatinya. " Bisakah kita kembali seperti dulu? " sembari menatap wajah Syifa.
" Maksud, Mas! "
" Hidup bersamaku lagi, " ucap Rayan mantap.
Syifa tersenyum sembari tertawa kecil. " Cukup mas, jangan membuat janji yang tidak bisa kamu tepati Lagi. "
Syifa menggelengkan-gelengkan kepalanya. " Kamu tahu rasanya menanti tanpa kepastian, Mas? ... Sakit! "
" Syifa .... "
" Aku sudah nyaman hidup seperti ini, aku sudah tidak mau lagi berharap, tak ingin lagi menunggu karena aku pernah melakukannya. Namun, tak pernah mendapat kepastian. Bahkan aku sendiripun tidak tahu dengan setatusku, seorang istrikan, tapi tak pernah di bersamai, seorang janda kah, tapi tak pernah kau ceraikan. Bahkan dalam pasrahku kadang aku menunggu kau menghantarkan surat cerai agar aku tidak lagi mengharapkanmu. Namun nihil, sampai saat inipun aku tak tahu setatusku apa. Mas .... " Syifa menarik nafas sebelum ia kembali berucap.
" Aku membebaskanmu, maka bebaskanlah juga aku. Ku mohon, agar kita bisa bahagia dalam hidup kita masing-masing, dan tak terbebani oleh penantian tak berujung ini. "
Rayan terdiam cukup lama, membebaskan apakah artinya ia minta di bercerai dari ku?, saat ini tubuh Rayan serasa tak bertulang bahkan di rasa tak bernyawa mendengar Syifa meminta cerai darinya.
Setelah saling diam cukup lama Rayan mulai berbicara. " Apa sudah tidak ada rasa untukku Syifa? "
__ADS_1
Syifa tak segera menjawab, matanya mulai mengembun. " Bila adapun untuk apa jika tak bisa bersama. "
" Sudah ku katakan hiduplah bersamaku. "
" Kapan? kapan, Mas? Apa bisa saat ini juga. Tidakkan, Mas, tidak bisakan. Aku sudah tidak mau menunggu dan berharap lagi, jadi kita akhiri semuanya untuk selamanya, kita hidup masing-masing dengan setatus yang jelas, " ucap Syifa dengan bergetar, ia usap air mata yang menetas begitu saja dengan punggung tangannya.
" Maaf karena belum bisa menjadi istri yang utuh untukmu, " sambungnya lantas melangkah pergi meninggalkan Rayan yang masih termangu di tempatnya.
Ia tatap tubuh sang istri hingga tubuh itu tenggelam di balik pintu panti.
" Kamu Bodoh Rayan, waktumu banyak, tapi malah kau sia-sia kan begitu saja, " ucapnya pada diri sendiri.
Hingga satu jam berlalu Rayan tak beranjak dari tempatnya. Syifa melihat itu dari balik jendela kamarnya, ia terisak tak brsuara. Ada rasa sesal mengutarakan perkataanya tadi, tapi bila hubungan ini di lanjutka ia takut tak menemui ujungnnya sedang ia selalu berharap.
Luruh ... tubuhnya luruh, sesak rasanya mengambil keputusan ini melepaskan orang yang masih amat di cinta sampai detik ini, terlebih ia tahu jika orang yang di cintai pun masih menyimpan rasa yang sama hingga kini.
Isak tak bersuara itupun kini kian meraung menjadi badai tangis yang mengguncang tubuhnya.
" Aku mencintai mu, Mas, hingga kini rasa itu masih utuh. " Di sela tangisnya Syifa berbisik pada diri sendiri dengan menenggelamkan wajah di kedua kakinya yang tertekuk.
Rayan masuk kedalam mobil, tapi ia masih setia dalam diamnya. Mobil pun tak ia jalankan, matanya masih menatap pintu panti yang membuat tubuh wanita yang dicintainya tak nampak lagi.
Hingga rembulan menampakkan sinarnya Rayan masih setia berdiam di dalam mobil, berat rasa hati tuk meninggalkan tempat itu, Rayan takut jika ia tak mampu bertemu lagi dengan Syifa.
" Bu ada mata-mata di luar, " ucap seorang bocah pada Syifa yang sedang memeriksa anak-anak di kamar nya.
" Di mana? "
" Itu mobil itu, dari tadi pagi sampe larut gini dia masih saja di situ, apa coba namannya kalau bukan mata-mata, ya, kan, Bu? " Kembali sang bocah berkata sembari menyingkap gordeng kamar.
Mobil itu ... Rayan, ia belum juga pergi dari sini. Syifa mengambil buku milik anak-anak dan membumbui tulisan di sana, ia sobek kertasnya dan melipat lalu meminta bocah itu untuk memberikannya pada Rayan.
__ADS_1
" Tolong kamu kasih ke orang itu, dan segeralah kembali. "
" Baik Bu, " ucap sang bocah sembari mengangkat tangannya membentuk hormat.